Interview with the Real Vampire

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 24/08/2019 • Indah Hanaco
Foto: Unsplash
Foto: Unsplash

Aubry mencorat-coret kertas kosong di depannya dengan gerakan malas. Haikal, produsernya, masih memberi instruksi tentang peraturan baru yang mendadak muncul hari ini. Wawancara untuk tayangan besok akan direkam dua jam lagi. Hmm, suatu pengkhianatan, menurut Aubry.

Sejak acara talkshow-nya mengudara di Puspa Mahardika TV setahun silam, mereka setia dengan siaran langsung dari studio. Namun kini? Demi perempuan bernama Elsa Fahira yang namanya sedang ramai diperbincangkan masyarakat se-Indonesia, aturan baru pun ditegakkan.

“Bry, jangan memasang tampang jelek seperti itu! Aku tahu kamu merasa kesal. Tapi, kali ini kita harus kompromi. Sejak jadi perempuan paling dicari di Indonesia, tak sekalipun Elsa mau menerima wawancara. Semua yang kita ketahui tentangnya hanya berasal dari pihak ketiga, keempat, dan seterusnya. Ini adalah kesempatan yang luar biasa. Aku harap, kamu memanfaatkannya sebaik-baiknya. Untuk sekali ini saja, tolong tahan lidahmu. Semua perbendaharaan kata-kata sinis dan tajam yang biasanya kita butuhkan, hari ini mohon disimpan dulu,” cerocos Haikal.

Suara tawa tertahan terdengar di sana sini. Bahkan Aubry pun sampai mengulum senyum. Namun, dia tak kuasa meredam protes.

“Kalau aku melakukan itu, sama sekali tidak sejalan dengan judul acara ini.”

“Ini pengecualian. Cuma sekali ini, Bry,” janji Haikal dengan suara dipenuhi tekanan.

Acara bincang-bincang yang tayang setiap hari Sabtu ini memang mengambil judul yang bombastis, Interview With The Vampire. Selain mengingatkan orang dengan film Tom Cruise bertahun silam, stasiun televisi memang sengaja mencari judul yang mengundang rasa penasaran. Tentunya dengan pertimbangan tertentu.

“Kita tidak mungkin membuat judul mirip acara sejenis. Aubry Show, Kick Aubry, atau apalah. Judulnya harus beda dan membuat penasaran. Interview with Vampire rasanya sangat pas. Sesuai dengan karaktermu yang ahli mencecar lawan bicara dengan pertanyaan berani sekaligus tajam.” Begitu alasan Haikal, mewakili pihak yang berwenang.

Awalnya, Aubry menolak judul itu karena ngeri dengan kesan yang akan dimunculkan. Dia disamakan dengan vampir, yang benar saja! Namun, pihak stasiun televisi tak menyerah. Hasilnya? Setelah penayangan keenam, Interview With The Vampire berhasil masuk lima besar acara televisi dengan rating tertinggi. Prestasi yang menakjubkan mengingat talkshow bukanlah acara unggulan. Saingannya pun tidak main-main, aneka sinetron yang selama bertahun-tahun merajai stasiun televisi.

Kini, Interview with The Vampire makin mengukuhkan posisinya. Sekaligus menempatkan Aubry sebagai salah satu host acara bincang-bincang yang kian diperhitungkan. Imbasnya, banyak tawaran berdatangan. Mulai dari membintangi iklan hingga kesempatan untuk berkarier di stasiun televisi yang lebih besar. Semuanya ditolak. Dia tak ingin mengkhianati Puspa Mahardika yang pertama kali membuka pintunya untuk Aubry.

 “Apa ini?” Aubry mengerutkan glabela saat disodori selembar kertas.

“Daftar pertanyaan,” balas Haikal sembari membuang pandangan, menghindari tatapan tajam Aubry.

“Untuk siapa?”

“Elsa.”

“Apa?” suara Aubry agak meninggi. Ini pengkhianatan kesekian. Selama memandu acara ini, Aubry tak pernah didikte dengan cara disodori daftar pertanyaan. Haikal hanya memberi gambaran topik apa saja yang akan diangkat. Detail pertanyaannya sendiri menjadi kekuasaan mutlak Aubry. Makin kritis dan sensitif pertanyaan yang diajukan, makin bagus pula rating yang didapat. Di situlah kejelian Aubry diuji.

“Jangan melenceng satu kata pun dari daftar itu!” Haikal menegaskan. Tak ada yang bisa dilakukan Aubry untuk melawan kediktatoran Haikal yang mengesalkan. Mereka sempat berdebat tapi sang produser bergeming dengan keputusannya.

Duduk berhadapan dengan Elsa Fahira, entah mengapa Aubry tak merasa nyaman. Perempuan di depannya ini sudah menimbulkan kehebohan mahadahsyat. Betapa tidak? Seorang politisi matang dan diramalkan akan menduduki posisi penting di negeri ini, jatuh tanpa ampun ke lautan caci maki. Karena hal klise, kedapatan memiliki hubungan gelap hingga membuahkan seorang putra dengan Elsa Fahira! Hubungan tanpa pernikahan.

Adrian Ahmad, sang politisi, awalnya tak mengakui hubungannya dengan Elsa. Selama berhari-hari, televisi justru dipenuhi oleh gambar-gambar kemesraannya dengan sang istri, Asti Sofyan.

“Buat saya, Asti adalah perempuan paling hebat yang pernah saya kenal. Terlalu muluk kalau saya sebut sempurna, karena memang tak ada satu orang pun yang memenuhi kriteria itu. Tapi yang pasti, saya tak butuh orang lain. Asti adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidup saya.” Begitu salah satu pengakuan Adrian yang berkali-kali disiarkan oleh berbagai stasiun televisi dan dikutip oleh media-media online.

Lalu, entah dari mana munculnya, gambar Adrian sedang menggendong seorang bocah lelaki berumur kira-kira tiga tahun muncul di sebuah portal berita online. Maka, gegerlah Indonesia. Adrian dan Elsa memang tak bisa diwawancarai, tapi setelahnya dunia tahu bahwa mereka memang memiliki hubungan spesial. Adrian sedang dalam proses perceraian dengan istrinya dan gencar dikabarkan akan segera menikahi Elsa.

Haikal memberi isyarat. Wawancara akan segera dimulai. Aubry membenahi posisi duduknya sembari mengingatkan diri sendiri untuk bersikap profesional. Elsa bukan orang yang gagap berhadapan dengan kamera. Perempuan ini putri seorang politikus senior dan terbiasa mendapat banyak sorotan sejak remaja.

“Kami berkenalan tanpa sengaja saat Adri sedang mengadakan kunjungan kerja ke Surabaya. Kebetulan saya pun sedang ada urusan di sana. Saat itu, saya tidak kenal siapa dia. Makanya, saya kaget sekali saat tahu kalau dia ternyata Adrian Achmad yang itu.” Pupil mata Elsa berbinar terang saat mengucapkan kalimat itu.

Aubry hampir tersedak. Perempuan ini mengaku tidak tahu jika baru berkenalan dengan Adrian Ahmad yang bernaung di bawah partai politik yang sama dengan ayahnya? Bahkan ada yang bersaksi bahwa Elsa selama bertahun-tahun telah “menguntit” Adrian agar mendapat kesempatan berdekatan dengan lelaki itu. Semacam groupie, barangkali. Namun, Aubry menahan diri. Hari ini, posisinya sebagai “vampir” sedang dilucuti.

Wawancara berjalan datar. Sungguh, Aubry sudah kehilangan gairahnya sejak awal. Dia merasa kali ini hanya menjadi robot untuk memuaskan sebuah gengsi. Puspa Mahardika sedang berusaha meraih posisi prestisius dengan mewawancarai Elsa Fahira, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh stasiun televisi saingannya. Entah siapa yang membujuk Elsa sehingga bersedia diwawancarai Aubry.

“Apakah Anda merasa hubungan ini suatu kesalahan?” Aubry menyarakan salah satu pertanyaan dari daftar yang diberikan Haikal.

Elsa menatap lawan bicaranya dengan lembut. Aubry harus mengakui bahwa perempuan ini begitu menarik. Ada sesuatu di matanya yang membuat orang menyukainya.

“Kesalahan? Tentu saja tidak. Kami saling mencintai meski dengan cara yang mungkin menurut orang lain aneh. Awalnya hanya sekedar mengagumi, lalu akhirnya berubah menjadi saling ketergantungan. Saya percaya, Tuhan yang mengatur semua hal indah yang terjadi di antara kami.”

Astaga, Elsa barusan mengucapkan nama Tuhan untuk membenarkan suatu perselingkuhan?

“Apakah Anda tidak pernah merasa bersalah dengan Asti? Setidaknya, dia sudah dinikahi Adrian lebih dari lima belas tahun saat hubungan kalian terungkap.”

Ada jeda singkat sebelum Elsa menjawab.

“Hmmmm … bagaimana ya? Kalaupun ada yang salah mungkin itu karena Adri membohongi istrinya, menyembunyikan keberadaan saya dan anak kami. Tapi itu terpaksa dilakukan karena saya tidak ingin menyakiti hari siapa pun. Cinta itu tidak pernah salah. Dan saya tetap percaya, hubungan kami bukanlah pemicu perpisahan mereka. Masalah di antara mereka pasti sudah ada sejak lama.”

Elsa mengelak dengan kalimat yang tak simpatik, mengatasnamakan cinta untuk merasionalkan perselingkuhan. Aubry merasa terselamatkan karena Haikal meminta rehat. Dengan sopan, Aubry pamit untuk ke kamar mandi.

“Baru kali ini aku melihatmu begitu stres,” tegur Laras, salah satu rekan sejawatnya yang juga berada di kamar mandi. Beberapa tahun silam, mereka pernah bersama-sama menjadi jurnalis lapangan yang bertugas di Istana Negara. “Aku tadi sempat melihat wawancaramu.”

Aubry menyalakan keran. “Kamu dengar jawaban-jawabannya? Perempuan ini menakutkan! Dia sama sekali tidak merasa bersalah dengan kehancuran yang ditimbulkan oleh perselingkuhannya dengan Adrian.”

Laras mengangguk. “Aku setuju denganmu.”

“Lihat tulisan itu. Ras!” Aubry menunjuk papan kecil bertuliskan “kebersihan sebagian dari iman” yang ditempelkan di dinding kamar mandi.

“Kenapa?”

“Harusnya kata ‘kebersihan’ diganti menjadi ‘malu’. Percaya padaku Ras, orang tidak akan mampu melakukan hal-hal kotor bila di hatinya masih ada rasa malu.” Aubry mengedikkan bahu, diikuti tawa geli temannya. “Aku yakin, rating minggu ini akan jeblok. Wawancara tadi tidak punya greget.”

Wawancara masih menyisakan beberapa pertanyaan lagi. Aubry berusaha keras melakukan tugasnya sebaik mungkin. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum masuk ke sesi keempat.

“Akan ke mana arah hubungan ini? Akankah ada pernikahan mengingat bahwa akhirnya Adrian Ahmad akan berpisah dengan istrinya?”

Elsa mengukir seulas senyum manis, seolah-olah dia sudah sangat menantikan pertanyaan ini.

“Saya lebih suka tidak menjawab pertanyaan itu dengan gamblang. Biarkan hubungan kami bermuara ke tempat yang seharusnya. Sisakan bagian ini untuk menjadi privasi kami. Percayalah, saya sama seperti Anda dan perempuan lainnya di dunia ini. Saya memimpikan pernikahan yang indah dengan pujaan hati saya.”

Aubry merasa dadanya ditinju mendengar kalimat yang diucapkan dengan ekspresi bahagia itu.

“Sungguhkah Anda tak punya secuil pun rasa bersalah terhadap Asti Sofyan? Dia mendampingi suaminya sejak Adrian bukan siapa-siapa. Pernikahan dengan anggota keluarga Sofyan lah yang membuat Adrian seperti sekarang. Lalu tiba-tiba Anda muncul dan menghancurkan segalanya. Mereka berpisah di saat Asti baru saja didiagnosis terkena kanker payudara. Apakah Anda berpikir simpati publik akan menjadi milik Anda, perempuan yang memikat seorang lelaki dengan pesona dan kemudaannya?” Aubry tak bisa mengendalikan diri lagi. Telinganya menangkap teriakan “cut” berkali-kali.

Aubry mendapat peringatan keras dari Haikal dan terpaksa menuntaskan wawancara dengan setengah hati.

“Harusnya episode kali ini diberi judul khusus, Interview with The Real Vampire,” dengusnya sebelum meninggalkan kantor Haikal.

Sebelum pulang, Aubry mengambil spidol dan bergegas menuju kamar mandi. Dia mencoret kata ‘kebersihan’ dan menggantinya dengan tulisan tangan berbunyi ‘malu’.

“Astaga, kamu serius?” Laras memergokinya.

“Ya,” tegasnya. “Agar tiap kali melihat tulisan ini, aku bisa mencegah diriku merusak hidup orang lain.”

 “Wawancara tadi sangat memengaruhimu, ya?” bisik Laras dengan suara rendah.

 “Aku punya pengalaman buruk dengan perselingkuhan,” jawab Aubry dengan suara sama lirihnya.

“Siapa yang berselingkuh?” Laras terpancing ingin tahu. “Mantanmu?”

Aubry tersadarkan jika dia sudah bicara terlalu banyak. “Aku pulang duluan ya, Ras,” elaknya. Dia buru-buru meninggalkan toilet.

Setelah berada di dalam mobil, Aubry terpaku lama di depan setir. Bayangan masa lalu itu kembali menghampiri. Semuanya terjadi lima tahun silam, saat Aubry masih menjadi jurnalis lapangan. Apa yang akan terjadi andai dunia tahu bahwa pada suatu ketika dalam hidupnya dia hampir berbuat hal yang sama dengan Elsa? Bahkan dengan lelaki yang sama?

Aubry bertemu Adrian saat melakukan pekerjaannya. Dalam waktu singkat, pria itu menunjukkan perhatian terang-terangan pada Aubry. Mulai berani merayunya dengan hujan kata-kata romantis. Kala itu, Aubry sudah tahu bahwa Adrian sudah menikah. Namun, pria itu juga memiliki setumpuk cerita tentang penderitaannya karena terjebak pada pernikahan tanpa cinta. Adrian membuat Aubry yakin bahwa pria ini patut mendapat simpati dan perhatiannya.

Andai Tuhan tak mempertemukannya dengan Asti, niscaya Aubry tak akan ragu menerima cinta Adrian. Saat itu Aubry meliput suatu acara dan bertemu Asti. Awalnya, Aubry bahkan tidak tahu jika perempuan yang terlihat lebih muda dibanding usianya itu adalah istri Adrian. Asti memang tidak pernah mau tampil di media. Bagi Asti, suaminya yang politisi dan berhak mendapatkan lampu sorot sedangkan dirinya bukan orang penting.

Mereka sempat mengobrol dan membuat Aubry sangat penasaran dengan Asti setelah tahu siapa sebenarnya perempuan itu. Pertemuan itu malah membuat keduanya berteman. Aubry pun tersadarkan tentang siapa sebenarnya Adrian yang memang menawan itu.

Aubry tidak bangga karena pernah terpesona pada Adrian yang sudah beristri. Dia nyaris sama berengseknya dengan Elsa. Bedanya, Aubry tahu kapan saatnya mundur. Tidak mengatasnamakan cinta dan segala hal romantis tentangnya sebagai alasan untuk menjadi pelakor. Dia berhasil melangkah maju sembari mencoba memaafkan diri sendiri karena nyaris merusak rumah tangga seorang perempuan baik.

Wawancara dengan Elsa tadi merusak banyak hal. Aubry diingatkan bahwa dia pun pernah menjadi perempuan muda yang naif dan bodoh. Sesaat kemudian, Aubry meneguhkan hati, menegur dirinya sendiri. Yang terpenting, dia takkan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tak masalah jika keluarga selalu mempertanyakan alasannya masih tetap melajang di usia menjelang tiga puluh tahun.

Pemikiran itu meringankan beban di hati Aubry. Perempuan itu mendesah sebelum menyalakan mesin mobil. Dia akan memasukkan nama Elsa dan Adrian sebagai contoh orang-orang yang harus diingat. Agar Aubry tak pernah melakukan kesalahan yang sama.

S e l e s a i

Tentang Penulis:

Indah Hanaco mulai menulis novel sejak 2010. Saat ini baru menghasilkan 43 novel, beberapa buku nonfiksi, serta buku anak. Sangat suka lagu-lagu tahun 90an, penggemar film-film bertema kriminal dan romance, peminum kopi yang sebenarnya lebih menyukai cokelat. Interview with the Real Vampire ini ditulis setelah bertahun-tahun tak pernah menulis cerpen. Hubungi di @indah_hanaco dan Twitter @IndahHanaco.