Ini Keunggulan R80, Jika Dilahirkan bisa Laku Keras

SINDOnews Dipublikasikan 04.03, 06/06 • Fikri Kurniawan
Ini Keunggulan R80, Jika Dilahirkan bisa Laku Keras
R80 merupakan garapan PT Regio Aviasi Industri (RAI). Keunggulan dari pesawat ini adalah memiliki kapasitas 80 sampai 100 penumpang untuk jarak pendek. FOTO/IST

Pengembangan pesawat R80 warisan Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie, telah resmi dibatalkan pemerintah. Padahal, pesawat itu masuk ke dalam Proyek Strategi Nasional (PSN) tahun 2017.

Pesawat ini sebenernya direncakan mulai terbang pada 2022. Dari desain awalnya, R80 bakal dibekali mesin baling-baling. Jika dilahirkan, salah satu pesaingnya adalah pesawat ATR buatan Prancis. BACA JUGA - Harga Motor 2 Tak Terus Naik, Honda Dio Muncul dengan Wajah Baru

R80 merupakan garapan PT Regio Aviasi Industri (RAI). Keunggulan dari pesawat ini adalah memiliki kapasitas 80 sampai 100 penumpang untuk jarak pendek. BACA JUGA - Video Suara Mengerikan di Langit, Netizen Sebut Jeritan dari Neraka

Menurut pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati, pesawat ini bisa sangat laris di pasar, termasuk di ASEAN.

Alasannya, Indonesia memiliki banyak bandara-bandara kecil, dan R80 sanggup terbang cukup menggunakan runway di bawah 2.000 meter. Artinya, pesawat ini sangat cocok digunakan di Tanah Air.

"Jadi, dia tidak tabrakan dengan pabrikan besar seperti Boeing dan Airbus," kata Arista, saat dihubungi Sindonews, Jumat (5/6/2020).

Kapasitasnya yang tidak lebih dari 100 penumpang, lanjut Arista, juga bisa menjadi faktor R80 diminati banyak maskapai. Daya jelajahnya juga cukup bagus, diperkirakan bisa terbang selama empat jam tanpa henti.

"Bisnis penerbangan itu kejam. Kalau masuk ke (kapasitas) 100 penumpang, bisa digilas Boeing," imbuhnya.

Meski begitu, Arista mengakui pesawat ATR memang lebih bandel. Tetapi, jika kualitas R80 tidak jauh berbeda dari ATR, harga jualnya bisa jauh lebih murah.

R80 rencananya bakal menggendong mesin turboprop. Mesin ini mengkonsumsi jauh lebih irit hingga 20% ketimbang pesawat bermesin jet. Efisiensi bahan bakar pasti membuat maskapai mempertimbangkan untuk membeli R80.

Terkait pembatalan proyek, Arista mengakui perihatin dan cukup sedih. Namun, mengingat keuangan di seluruh dunia sedang goncang, dia memakluminya.

"Saya berharap proyek pesawat R80 tidak dibatalkan, tapi ditunda," tandasnya.

Artikel Asli