Ini 10 Negara Jatuh Resesi akibat Pandemi, Bagaimana dengan Indonesia?

Kompas.com Dipublikasikan 06.37, 13/08 • Fika Nurul Ulya
SHUTTERSTOCK/ J.J GOUIN
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Isu resesi ekonomi pada 2020 makin santer usai negara-negara maju di dunia mengonfirmasi masuk dalam krisis tersebut akibat pandemi Covid-19.
Teranyar, Inggris mengonfirmasi masuk dalam jurang resesi dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 negatif hingga 20,4 persen.
Sementara itu, negara yang selamat dari ancaman resesi adalah China. Informasi saja, ekonomi China sempat terkontraksi 6,8 persen pada kuartal I 2020 sejak pandemi Covid-19 menyerangnya di akhir 2019.
Namun pertumbuhan ekonomi kembali menyentuh angka positif 3,2 persen pada kuartal II 2020, meski Negeri Tirai Bambu ini tak berani menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020.

Baca juga: Filipina Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 16,5 Persen
Lantas, negara mana sajakah yang telah mengonfirmasi masuk fase resesi akibat pandemi Covid-19?
1. Amerika Serikat
Negara yang telah mengonfirmasi masuk dalam jurang resesi adalah Amerika Serikat. Negeri Paman Sam ini mencatat pertumbuhan minus hingga 32,9 persen pada kuartal II 2020.
Makin parahnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II lantas menyeret negeri adidaya itu dalam fase resesi, usai mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -5 persen pada kuartal I 2020.
Tercatat, kontraksi terjadi karena adanya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, ekspor, produksi, investasi, serta belanja pemerintah lokal maupun negara bagian.
2. Jerman
Perekonomian Jerman mengalami kontraksi paling tajam pada kuartal II 2020. Ini menyusul pertumbuhan ekonomi minus yang telah dialami Jerman pada kuartal I 2020.
Dilansir dari Reuters, Jumat (31/7/2020), merosotnya perekonomian Jerman disebabkan anjloknya belanja konsumen, investasi korporasi, dan ekspor akibat pandemi virus corona. Pertumbuhan ekonomi yang dinikmati Jerman selama hampir 10 tahun pun lenyap.
Kantor Statistik Federal Jerman menyatakan, pertumbuhan ekonomi Jerman minus 10,1 persen pada kuartal II 2020. Adapun pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jerman dilaporkan minus 2 persen.
Angka pada kuartal II 2020 tersebut merupakan yang terendah sejak Kantor Statistik Federal mengumpulkan data pertumbuhan ekonomi Jerman per kuartal pada tahun 1970.

Baca juga: Apa Sebetulnya Resesi Itu?
3. Perancis
Pertumbuhan ekonomi Perancis pada kuartal II tahun 2020 tercatat minus 13,8 persen. Pada kuartal I tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Perancis minus 5,9 persen. Dengan begitu, Perancis resmi masuk dalam jurang resesi.
Pelemahan ekonomi di Perancis ini terjadi di antaranya karena menurunya konsumsi rumah tangga, investasi, dan perdagangan akibat lockdown mencegah penyebaran virus corona.
4. Italia
Italia yang merupakan negara Uni Eropa tak lepas dari bayang-bayang resesi. Pertumbuhan ekonomi negara itu sudah tumbuh minus 2 kuartal berturut-turut.
Pada kuartal II, ekonomi Italia terkontraksi hingga -17,3 persen. Sementara di kuartal I 2020, ekonomi Italia sudah minus 5,5 persen.
5. Korea Selatan
Di Asia, Korea Selatan menjadi salah satu yang mengonfirmasi masuk dalam jurang resesi.
Hal itu menyebabkan perekonomian Korea Selatan mengalami kemerosotan terburuk dalam dua dekade terakhir lantaran kinerja ekspor yang tertekan. Selain itu, kebijakan pembatasan sosial atau social distancing menyebabkan hasil produksi tak mampu diserap oleh pasar.
Negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia tersebut menyusut 3,3 persen pada kuartal II yang berakhir pada bulan Juni, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Bank of Korea menyatakan, kontraksi tersebut merupakan yang paling tajam sejak 1998.
Secara tahunan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan akan merosot 2,9 persen. Angka tersebut merupakan penurunan terdalam sejak kuartal IV tahun 1998.

Baca juga: Hadapi Ancaman Resesi, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat
6. Jepang
Selain Korsel, Jepang juga dilaporkan mengalami resesi. Pertumbuhan ekonominya minus 3,4 persen pada kuartal I 2020. Angka tersebut merupakan penurunan terbesar sejak tahun 2015.
Kontraksi pertumbuhan ekonomi Jepang ini pun menyusul pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2019 yang mencapai minus 6,4 persen.
7. Hong Kong
Hong Kong sendiri telah resesi sebelum pandemi Covid-19. Namun akibat pandemi, resesi Hong Kong menjadi lebih lama. Menurut data awal otoritas Hong Kong, pertumbuhan ekonomi negara itu -9 persen (yoy) di kuartal II 2020.
Minusnya ekonomi kuartalan merupakan yang keempat secara berurutan sejak tahun 2019.
Hong Kong mengalami resesi pertama dalam satu dekade pada tahun lalu, disebabkan gelombang unjuk rasa anti pemerintah dan perang dagang AS-China. Kondisi kemudian diperparah dengan mewabahnya virus corona yang bermula di Wuhan, China.
Data pemerintah menunjukkan, pada kuartal I 2020 pertumbuhan ekonomi Hong Kong minus 9 persen. Angka ini lebih buruk dari yang sebelumnya dilaporkan.
8. Singapura
Perekonomian Singapura mengalami kontraksi sebesar 42,9 persen (quarter to quarter) pada kuartal kedua tahun 2020.
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura pun menyatakan, hal tersebut membuat perekonomian negerinya itu masuk ke dalam definisi resesi secara teknis.
Berdasarkan proyeksi pemerintah yang didasarkan pada data bulan April dan Mei, perekonomian Negeri Singa diproyeksi bakal merosot 41,2 persen secara pada kuartal II-2020 jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Adapun secara tahunan, perekonomian Singapura merosot 13,2 persen. Angka tersebut lebih buruk jika dibandingkan dengan proyeksi pemerintah, yakni -12,6 persen (yoy)

Baca juga: Filipina Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 16,5 Persen
9. Filipina
Selanjutnya ada Filipina yang mencatat rekor kontraksi terdalam pada kuartal II 2020. Pemerintah Filipina merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 sebagai dampak kebijakan lockdown akibat pandemi virus corona.
Menurut badan statistik nasional setempat, pertumbuhan ekonomi Filipina minus 16,5 persen pada kuartal II 2020.
Capaian tersebut merupakan yang terburuk sejak pencatatan pertumbuhan ekonomi Filipina pertama kali dilakukan pada tahun 1981. Pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi Filipina tercatat minus 15,2 persen.

10. Inggris

Perekonomian Inggris mengalami kontraksi hingga 20,4 persen pada kuartal II 2020 jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh pandemi virus corona (Covid-19) yang membuat pemerintah menerapkan kebijakan isolasi total atau lockdown.

Namun demikian, terjadi perbaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada bulan Juli yang tumbuh 8,7 persen seiring dengan pelonggaran kebijakan lockdown yang diberlakukan oleh pemerintah, mengikuti bulan Mei yang membaik 1,8 persen.

Dikutip dari CNBC, Rabu (12/8/2020) kontraksi pada kuartal kedua adalah yang terburuk setelah sebelumnya di kuartal pertama PDB juga mengalami konraksi sebesar 2,2 persen.

Baca juga: Mengenal Bedanya Resesi dan Depresi, Lebih Parah Mana?

Indonesia menyusul?
Sementara itu, isu resesi di Tanah Air menjadi perbincangan hangat usai Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 terkontraksi -5,32 persen pada awal Agustus.
Secara kuartalan, ekonomi terkontraksi 4,19 persen dan secara kumulatif terkontraksi 1,26 persen.
Kontraksi -5,32 persen itu lebih tinggi dari prakiraan pemerintah maupun Bank Indonesia. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memprediksi ekonomi RI tertekan dengan batas bawah -5,1 persen dan titik tengah -4,3 persen.
Begitu juga Bank Indonesia yang memprediksi ekonomi akan tersungkur di rentang 4,3 persen hingga 4,8 persen.

Baca juga: Cara Mengelola Keuangan dengan Aman di Tengah Risiko Resesi
Wanita yang menjabat 2 periode berturut-turut di era Presiden Jokowi ini bahkan menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi terkontraksi lagi pada kuartal III 2020. Artinya, Indonesia bakal resmi masuk dalam fase resesi bila ekonomi kuartal III dipastikan minus.
Terbaru,  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi pertumbuhan ekonomi RI kembali minus pada kuartal III 2020.
Dalam paparannya di acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Rakernas Apindo), dia menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) RI pada kuartal III 2020 akan -1 persen.
Sementara pada kuartal IV mendatang, pertumbuhan ekonomi RI diprediksi sebesar 1,38 persen. Sehingga untuk keseluruhan tahun 2020, perekonomian masih minus 0,49 persen pada 2020.

Baca juga: Kebijakan Fiskal Jadi Harapan Selamatkan Ekonomi RI dari Jurang Resesi

Penulis: Fika Nurul UlyaEditor: Erlangga Djumena

Artikel Asli