Ingin Anak Miliki Pribadi yang Baik? Ini Rahasia Guru SMPN 33 Semarang

Popmama.com Dipublikasikan 10.10, 17/09/2019 • Fajar Perdana
Dok. KPPPA

"Mas Alfiansyah, apa sih tugas kamu sebagai agen perubahan di sekolah ini?" tanya Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau akrab disapa Hendi saat berdialog dengan salah satu anggota agen perubahan SMPN 33 Semarang yang merupakan salah satu sekolah di Semarang yang mendapat predikat Sekolah Ramah Anak (SRA).

Alfiansyah menjawab bahwa tugas utamanya sebagai agen perubahan mencegah dan mengingatkan teman-teman mereka agat tidak melakukan perundungan atau sering kita dengar dengan istilah bully.

Agen Perubahan dan citra "Sekolahku Rumah Keduaku" adalah kunci dan komitmen bagi SMPN 33 Semarang dalam meningkatkan dan mempertahankan predikat SRA.

"Sekolah ini dulunya termasuk sekolah terpencil,namun mengalami perkembangan yang cepat. Oleh karenanya,kami juga memilih kepala sekolah yang memiliki visi dan misi yang maju dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Saya juga orangtua yang memiliki 2 anak yang masih bersekolah. Saya tahu betul, jika mereka tidak nyaman di sekolah, maka mereka tidak akan maksimal dalam menyerap ilmu. Oleh karenanya, citra sekolahku rumah keduaku menjadi penting untuk diwujudkan demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita," ujar Hendi di tengah kegiatan Media Trip Kota Layak Anak (KLA) 2019.

1. Penting untuk melakukan hijrah hati

Dok. KPPPA

Elvi Hendrani, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kemen PPPA mengatakan bahwa menuju SRA adalah sebuah hijrah hati. Mengapa demikian? 

Para orang dewasa harus merubah paradigma mereka untuk kepentingan terbaik anak. 
Semua orang dewasa di SRA menjadi orangtua dan sahabat  anak dan bergerak dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak, mendidik dengan kasih sayang dan mendekatkan dirinya dengan anak-anak. 

Contoh lain adalah penjaga perpustakaan yang harus menyediakan dan menyeleksi buku yang tidak mengandung informasi yg tidak layak bagi anak seperti pornografi, SARA, kekerasan, radikalisme dan lainnya bagi anak - anak. 

Penjaga kantin juga harus sadar dengan hanya menyediakan makanan sehat untuk anak - anak dan warga sekolah lainnya. Intinya, sekolah harus bergerak melakukan upaya perlindungan terhadap semua hal yang membahayakan anak di sekolah. 

Elvi melanjutkan, melindungi anak harus dilakukan 24 jam. 

Adanya SRA menunjukan komitmen Kota Semarang sebagai kategori Nindya KLA dalam melindungi sepertiga hidup anak, karena 8 jam seharinya bahkan bisa  lebih lama dari itu anak akan berada di sekolah, sehingga sekolah harus menjadi tempat yg aman dan nyaman bagi anak. 

2. Tujuan diterapkan Sekolahku Rumah Keduaku

Dok. KPPPA

Selama ini, anak tidak pernah ditanya apakah mereka merasa nyaman atau tidak di sekolah. Di SRA, justru keamanan dan  kenyamanan anak menjadi tujuan utamanya.

Kepala sekolah SMPN 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto mengatakan bahwa Agen Perubahan adalah ikon SMPN 33 Semarang yang telah didukung oleh United Nations Children's Fund (UNICEF) untuk mencegah perundungan. 

Agen Perubahan dipilih oleh seluruh murid dan menghasilkan komitmen untuk mencegah perundungan dan menerapkan disiplin positif. 

Para guru juga mendorong murid agar selalu mengkomunikasikan permasalah yang terjadi kepada guru.

Didik melanjutkan, citra Sekolahku Rumah Keduaku merupakan ruh bagi SMPN 33 Semarang agar bisa menjadi wadah bagi murid, guru, pegawai sekolah, orangtua murid dan komunitas lainnya terkait sekolah untuk saling berinteraksi.

3. Tips untuk orangtua agar dapat mendukung pembentukan karakter anak anti bullying

Freepik/katemangostar

Orangtua memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Mulai dari anak berumur sehari sampai ia dewasa dan mengerti dengan sendirinya mana hal yang baik atau buruk bagi hidupnya.

Apa saja yang bisa orangtua lakukan di lingkungan rumah untuk membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang positif?

Berikut rekomendasi yang Popmama.com rangkum sebagai panduan untuk Mama dan Papa:

  • Orangtua memiliki cukup waktu untuk anak-anak saat berada di rumah

Meski ada keterbatasan waktu karena pekerjaan yang menumpuk, relakan waktu untuk menyapa dan menjawab apa yang anak tanyakan kepada orangtua. Anak berhak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya.

  • Menggunakan bahasa yang baik saat di dekat anak

Anak meng-copy apa yang ia lihat. Bagi anak yang masih belum baligh, biasanya mereka menjadikan kedua orangtuanya sebagai profil panutan. Maka sediakan diri Mama dan Papa menjadi panutan yang baik. Gunakan bahasa yang baik saat komunikasi dengan anak. Begitu pun ketika akan bicara dengan orang lain saat di depan anak.

  • Batasi penggunaan gadget

Baik orangtua ataupun anak harus memiliki batasan penggunaan gadget, gunanya adalah untuk menciptakan quality time. Ngobrol dengan anak akan menggali banyak hal. Apa yang sedang dipikirkan dan dirasakannya adalah hal penting. Dari sini orangtua bisa mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak mama.

Itulah cara membuat anak memiliki pribadi yang baik dan terbebas dari perilaku perundungan. Anak perlu pengasuhan yang tepat. Apa yang orangtua lakukan di rumah dapat mendukung anak memiliki karakter yang positif.

  • Awas Cyber Bullying! Ini Cara Memantau Penggunaan Instagram pada Anak
  • Dibully Temannya Hingga Tewas, Fatir Ahmad Sempat Sebut Nama Pelakunya
  • Dendam Dibully 50 Tahun Lalu, Seorang Kakek Tembak Temannya Saat Reuni
Artikel Asli