Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Cegah Amblyopia pada Anak

SINDOnews Dipublikasikan 11.49, 08/07 • Titi Sutinah Apridawaty
Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Cegah Amblyopia pada Anak
Kelainan pada neuron diidentifikasi sebagai penyebab amblyopiaanak yang dapat mengakibatkan cacat permanen pada mata. Foto Ilustrasi/SmartParents

Peneliti gabungan dari University of California Irvine dan Louisiana University mengidentifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya kelemahan penglihatan (amblyopia) dini pada anak. Yaitu neuron atau sel saraf yang tidak berfungsi secara tepat.

Neuron sendiri adalah unit dasar otak dan sistem saraf yang bertanggung jawab untuk menerima input sensorik dari dunia luar. Kelainan pada neuron ini yang diidentifikasi sebagai penyebab amblyopiaanak yang dapat mengakibatkan cacat permanen pada mata.

Dr. Taruna Ikrar, Ph.D, ilmuwan asal Indonesia yang bekerja sebagai profesor yang juga Kepala Pusat Penelitian Otak di Pacific Health Sciences University California sekaligus Anggota American College of Clinical Pharmacology menjadi bagian dalam penelitian tersebut. (Baca Juga: Asupan Baik untuk Cegah Infeksi Urin)

Menurut Dr. Taruna, temuannya yang dimuat dalam Jurnal InternasionalCurrent Biology dengan judul "Layer 4 Gates Plasticity in Visual Cortex Independent of a Canonical Microcircuit" itu memberi harapan bagi kita untuk mencegah terjadinya amblyopiapada anak.

"Sebagai mana diketahui, anak-anak yang menderitaamblyopiadan gangguan penglihatan karena kerusakan saraf penglihatan, dalam perkembangannya dapat mengakibatkan cacat permanen pada penglihatan. Sekalipun telah dilakukan operasi atau memperbaikiaksis amblyopia-nya," kata Dr. Taruna melalui keterangan tertulis yang diterima SINDOnews.

Kerusakan ini sering diakibatkan oleh perkembangan sistem saraf otak yang tidak benar atau dengan kata lain terjadi satu kesalahan dalam perkembangan sistem saraf pada fase pertumbuhan anak tersebut.

Pada penelitian ini ditemukan pula fenomena yang ditunjukkan oleh jenis atau tipe tertentuinhibitory neuron(neuron penghambat) yang mengontrol fase waktu. Yaitu bahwa periode kritis dari pertumbuhan dan perkembangan fase awal penglihatan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Para peneliti menemukan, fungsi yang tidak tepat dari neuron selama periode kritis perkembangan sistem saraflah yang bertanggung jawab terhadap kecacatan penglihatan ini. (Baca Juga: Dr Reisa Sebut Vaksin Lokal Covid-19 Diharapkan Tersedia pada 2021)

"Jenis neuron yang spesifik tersebut meregulasi fase atau periode kritis selama perkembangan anak yang selama ini masih menjadi misteri,"imbuh Dr. Taruna.

"Terobosan kami mengurai jalan baru untuk perawatan yang dapat mengembalikan penglihatan normal pada anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan awal,"pungkasnya.

Artikel Asli