If Only - Part 5

Storial.co Dipublikasikan 04.09, 07/07 • Mizan Media Utama
Chapter 4

Semesta mengatur pertemuan demi pertemuan setiap umat manusia.

Pada satu titik, ada pertemuan yang meninggalkan kesan tetapi berujung luka.

Kita hanya tidak menyadarinya.

***

Sudah lima hari berlalu semenjak insiden TV jatuh. Setelah tiga hari selanjutnya menjalani masa ospek yang tersisa dan mengikuti tes TOEFL pada Jumat kemarin, Kiana bebas juga hari ini.

Tidak seperti penghuni indekos lain yang menghabiskan hari libur dengan berjalan-jalan atau mencuci pakaian, Kiana sudah berniat untuk berhibernasi seharian. Dia ingin beristirahat sejenak sebelum menyambut dunia perkuliahan penuh kelelahan. Namun, baru saja Kiana berniat menyiapkan “peraduan”, secarik kertas lusuh menarik perhatiannya. Kertas itu dia temukan menempel di pipinya setelah tidur di sekretariat kemarin. Kiana meraihnya, lalu membaca kembali tulisan yang tertera di sana.

Ke mana perginya jiwa-jiwa yang mati?

Katanya bukan lagi di bumi,

tetapi kenapa masih mampu terpanggil?

Kadang dalam bentuk air mata

atau mimpi di pertengahan malam.

Lalu kusadari, dibanding keduanya,

mereka hidup sebagai kenangan

bagi yang ditinggalkan.

Membekas layaknya ingatan

tentang luka masa lalu.

Karenanya, sebagian orang tidak perlu terpejam untuk menggapai mimpi buruk.

Pada setiap langkah, mereka hadir,

menjelma sebagai sesak,

hidup dalam wujud keputusasaan.

Kiana tidak tahu siapa yang menggoreskan tintanya, tetapi yang jelas lelah terjabar di sana. Gadis itu masih berusaha mendefinisikan tulisan tersebut saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Naura muncul dengan raut wajah mengerikan.

“Kiana, Instagram gue di-follback Kak Juna!!!” teriak Naura histeris seraya melompat ke atas tempat tidur Kiana.

“Ya, terus?”

“Kita lagi ngomongin Juna, nih, respons lo nggak seru banget, sih!” seru Naura sewot. Sejak awal masuk, Naura sudah nge-fans banget dengan Kak Juna, apalagi setelah aksi heroik Juna di lobi fakultas kemarin. Tiba-tiba, Kiana teringat tatapan yang Juna layangkan kepadanya tempo hari. Mata gelap yang menatap Kiana dengan sorot khawatir yang familier.

“Eh, iya, dia dulu SMA-nya di mana sih, Nau?” Naura yang sedang sibuk melancarkan aksi stalking, menoleh ke arah Kiana.

“Di SMA Garda Kencana,” sahut Naura, membuat Kiana mengernyitkan dahi.

“Masak, sih? Tapi kok gue ngerasa mukanya familier gitu, ya? Gue kira dia dulu sekolah di sekolah gue juga gitu, atau tinggal di kompleks gue.” Mendengar kalimat Kiana, Naura langsung tertawa geli.

“Kiana-ku sayang, Kak Juna yang gantengnya kayak gitu mana mungkin tinggal di daerah rumah lo yang panasnya kayak Gurun Sahara. Udah gitu jauh banget lagi, kudu mendaki gunung lewati lembah.” Mendengar celoteh Naura, Kiana memutar bola matanya.

“Nau, gue nggak pernah mendaki gunung lewati lembah untuk ke rumah gue, lagi pula si Dimas aja masih sanggup pulang pergi, kok!”

“Dimas temen lo yang anak Teknik itu?” tanya Naura dengan nada sangsi.

“Iya, memang gue punya temen lain yang namanya Dimas?”

“Halah, paling juga orangnya dekil, kumal. Udah kebayang deh gue. Warna mukanya pasti nggak jauh dari warna oli.”

“Heh, kesayangan gue itu, jangan dihina-hina!” seru Kiana tidak terima. Naura mengedikkan bahunya tidak peduli.

“Lo kenapa nggak pacaran aja, sih, sama dia?” tanya Naura tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Arjuna tentu lebih menarik baginya daripada obrolan seputar Dimas si bocah Teknik bau mesin bubut. Kali ini Kiana yang ganti tertawa geli.

“Dimas sama gue itu udah temenan dari orok! Gue jadian sama dia, sama ajaibnya kayak burung ngelahirin bayi kucing.”

Naura menoleh sekilas sebelum bergumam tak acuh. Dia sudah mulai terbiasa dengan kosakata ajaib Kiana. Temannya itu punya imajinasi yang di luar batas manusia normal. Jari Naura terus menggeser layar, sampai pada satu foto yang di-blur secara utuh. Naura mengernyitkan dahinya, melihat caption dan tanggal upload yang tertera di bawah foto.

@arjuna.prana: Lil Panda.

Sekalipun tidak menunjukkan wajah utuh, samar-samar Naura dapat melihat bahwa yang menjadi objek potret Juna adalah seorang gadis yang tengah terlelap. Foto itu diunggah beberapa hari yang lalu, tepatnya pada ospek hari pertama mereka.

Dalam sekejap, bahu Naura turun.

“Yah, Ki, kayaknya Juna udah punya cewek, deh,” gumam Naura, nada kecewa terdengar dalam suaranya. Naura mengangsurkan ponselnya ke hadapan Kiana, membuat gadis itu mau tidak mau melihat.

“Ah, paling juga tuh cewek sama anehnya kayak dia,” sahut Kiana cuek.

“Lo kenapa segitu sewotnya, sih, sama dia?” Naura melontarkan pertanyaannya.

“Ya, lagian gila aja dia, gue sampai ke Fakultas Teknik buat nyari yang namanya Juna-Juna itu. Eh, tahunya, Juna itu dia sendiri.” Kiana bersungut kesal.

“Lo-nya kali yang aneh. Masak iya, Kak Juna aja nggak tahu.” Kiana berdecak mendengar kalimat Naura, seolah-olah tidak mengenal seorang Arjuna Pranaja adalah dosa tidak termaafkan.

“Memang siapa, sih, si Junaedi itu, sampai gue harus tahu? Pembaca proklamasi? Duta antikorupsi? Atau, penyelamat dunia kayak Aang si Avatar?”

Naura mencibir mendengar kalimat Kiana.

“Dia itu … ganteng,” kata Naura dengan mata berbinar, persis anak kecil melihat balon.

“Udah? Ganteng doang?” Naura langsung mengangkat tangannya, tepat di hadapan Kiana. Gadis itu bangkit dari tidurnya, sudah siap untuk menceritakan sejuta kelebihan Juna kepada Kiana.

“Dia itu anak dari pemilik perusahaan media cetak. Nyokapnya itu dulu penyiar ternama dan—”

“Yaelah, itu mah yang hebat orang tuanya,” cibir Kiana tampak tidak peduli.

“Tunggu dulu dong, gue belum selesai. Arjuna itu, pemegang indeks prestasi tertinggi konsentrasi Jurnalistik dua tahun berturut-turut, dan berkat itu dia udah megang seat buat magang di CNN Indonesia!”

“Wow!” Kiana membulatkan kedua bola matanya. Namun, belum sempat Naura bersikap jumawa, Kiana sudah kembali melanjutkan. “Biasa aja, sih, paling juga koneksi.”

Naura langsung menyentakkan kepalanya kesal.

“Lo tuh, negative thinking banget, sih!” seru Naura sewot.

“Biarin, daripada positif hamil.”

“Ish!” Naura mengembuskan napasnya kuat-kuat. Dia tidak akan menang berargumen dengan Kiana. Kiana sendiri hanya mengedikkan bahunya tak acuh.

Meskipun Juna sudah menyelamatkan nyawanya—ralat, kepalanya—Kiana belum ikhlas untuk berdamai dengan Juna. Dia masih menjadi baris terdepan antifans Juna. Baris terdepan karena cuma Kiana yang berbaris. Tidak lama, pintu kamar Kiana diketuk dua kali. Tanpa menunggu jawaban dari Kiana, pintu itu terbuka sendiri, memunculkan sesosok laki-laki jangkung.

“Dimas, lo ngapain di sini?!” Kiana menjerit, menyadari dosa apa yang sedang Dimas perbuat. Bisa-bisanya ada spesies berjakun di indekos gadis, depan kamar Kiana pula!

“Your favourite.” Dimas mengangkat plastik berlogo gerai piza di tangan kanannya, seraya mengangkat sebelah alis.

“Ini tuh kosan cewek, Dimas!” Kiana jadi kesal sendiri. Iya, sih, dia doyan banget piza. Namun, kalau demi seloyang tuna melt ditambah potato wedges Kiana harus diusir ibu indekos, makasih deh, Kiana masih mampu beli sendiri.

“Ck, tenang aja sih, gue udah izin sama ibu kos lo,” ujar Dimas santai.

Kiana melongo tidak percaya. “Terus diizinin?”

“Menurut lo?” Sebelah alis Dimas naik, sudut bibirnya tertarik ke atas. Kiana menggelengkan kepala takjub, ternyata kuat juga pesona Dimas sampai bisa mengambil hati ibu indekosnya.

Dimas yang baru tersadar akan keberadaan orang lain di ruangan ini—selain dia dan Kiana—melempar senyum ke arah Naura.

“Eh, sori, gue nggak ngeh ada orang lain. Gue Dimas, maaf ya masuk sembarangan,” ujar Dimas lembut. Naura langsung meleleh dibuatnya. Kalau ini Dimas yang sering Kiana ceritakan, Naura menarik kembali semua label dekil bin kumal yang dia sematkan pada pemuda itu tadi.

Walau sedikit kecokelatan, warna kulit Dimas jauh dari kata dekil. Pemuda itu punya tanned skin yang sangat seksi. Jangan lupa tambahkan mata cokelat kayu yang bersahabat, Dimas adalah jenis good-bad-boy paling tampan abad ini.

“Ini kamar gue, harusnya lo minta maaf sama gue, bukan malah tebar pesona sama temen gue!” seru Kiana sewot. “Lagian, Naura juga nggak doyan, tahu, sama yang bau oli kayak lo.”

“Nggak, kok! Siapa bilang?” Naura refleks mengelak, membuat Kiana menatapnya dengan sorot tajam.

“Jadi, maksudnya lo mau sama Dimas, Nau?” tanya Kiana polos. Di tempatnya, Naura salah tingkah.

“Eh, nggak gitu juga maksudnya … eng ….” Naura kehabisan kata-kata. Lagi pula, Kiana kenapa blak-blakan banget, sih, jadi orang?!

Dimas menggelengkan kepala melihat perdebatan antara Kiana dan Naura, kemudian dia melenggang masuk ke kamar Kiana. Lalu, Kiana tersadar bahwa keberadaan Dimas yang wajib dimusnahkan dari kamarnya jauh lebih penting daripada urusan suka tidak sukanya Naura pada pemuda tengil ini.

“Dimas, cabut nggak!” Dimas tidak menghiraukan jeritan Kiana, pemuda itu malah duduk di kursi meja belajar.

“Dimas!”

Masih tidak dihiraukan.

Kiana menghela napas, kemudian memejamkan mata seraya menggeram. “Adimas Prasetya, turun sekarang.”

Sekalipun kalimat itu diucapkan dengan volume suara yang lebih rendah, tetapi nada menggeram serta penekanan pada setiap suku katanya membuat Dimas akhirnya bangkit. Kiana sudah menyebut nama panjangnya, berarti dia sudah sangat serius.

“Oke, gue tunggu di ruang tamu, cepetan turun, ya? Teman satu kos sama ibu kos lo serem-serem, gue berasa kayak bakwan siap santap.”

“Sebut nama gue aja, nggak akan ada yang berani ganggu lo deh pasti!” Kali ini Naura yang bersuara. Dimas terkekeh kecil.

“Siap, nanti gue bakal se—” Belum sempat Dimas menyelesaikan kalimatnya, jeritan Kiana kembali terdengar.

“TURUN SEKARANG ATAU GUE SEMPROT LO!” Kiana sudah memegang tabung Baygon di tangannya, siap menyemprot Dimas. Dimas akhirnya turun tanpa meneruskan kalimat tadi, sementara Naura masih berbinar melihat pemuda itu.

“Ketawanya cakep banget, Ki,” ujar Naura dengan sorot memuja.

Kiana mendengus, lalu turun dari tempat tidur. “Kalau lo udah pernah ngelihat dia nangis gara-gara ngompol di celana juga fantasi lo buyar, Nau.”

Artikel Asli