Ibu Ningsih Tolak Konsep Perdamaian yang Ditawarkan Anaknya soal Gugatan Warisan

Kompas.com Dipublikasikan 23.48, 13/08/2020 • Kontributor Lombok Tengah, Idham Khalid
KOMPAS.COM/IDHAM KHALID
suasana persidangan perkara warisan oleh Rully dengan menggugat ibunya di Pengadilan Agama Praya Lombok Tengah

LOMBOK TENGAH, KOMPAS.com - Gugatan harta warisan oleh Rully Wijayanto terhadap ibunya, Praya Tiningsih, di Lombok, NTB, memasuki sidang keempat dengan agenda pembacaan duplik dan tawaran konsep perdamaian, Kamis (13/8/2020).

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Agam Praya, ada empat poin poin perdamaian yang ditawarkan Rully. Namun, beberapa ditolak ibunya.

Adapun poin yang ditolak oleh pihak tergugat, yakni poin pertama yang berbunyi, "Penggugat mohon dicantumkan bagian masing-masing ahli waris di dalam amar putusan perkara ini sesuai dengan hukum Faraid Islam".

Baca juga: Saya Menggugat Warisan Bukan untuk Diri Sendiri, tapi untuk Mama dan Adik-adik

Menurut Tiningsih, poin tersebut telah melanggar wasiat dari suaminya yang menyebutkan tanah tersebut tidak boleh dibagi.

"Ya, saya tolak poin pertama. Dia (Rully) tetap mau bagi tanah tersebut, tapi wasiat bapaknya tidak boleh dibagi," kata ibu sapaan Ningsih usai selesai persidangan, Kamis.

Ningsih juga menolak poin keempat bagian b yang di mana Rully meminta dia juga mendapat penjelasan soal penggunaan uang Taspen.

"Saya tolak juga yang b poin nomor empat, soal Taspen, karena yang Taspen itu lebih ke hak saya," kata Ningsih.

Baca juga: Gara-gara Tak Diizinkan Membuat Dapur, Anak Gugat Ibunya agar Harta Warisan Dibagikan

Sementara itu Rully mengaku sangat kecewa atas tanggapan ibunya yang tidak setuju terhadap konsep yang ditawarkan.

Menurut Rully, pembagian harta warisan itu dilakukan agar mengetahui hak nya, dan tidak ada pihak luar yang ikut campur terhadap warisan ayahnya.

 

"Nanti kalau sudah putusan, kita akan tahu hak-hak kita, hak adik saya, hak mama saya, dan ini juga untuk jaga-jaga kalau nanti ada yang mengklaim harta warisan almarhum bapak," kata Rully.

Rully menyebutkan rumah yang sudah berdiri di atas bangunan 4,2 are itu tidak akan dirusak atau pun dijual dan akan tetap menjadi rumah bersama.

"Walaupun sudah dibagi, rumah itu tidak akan dirusak, tidak akan disekat atau tidak akan dijual, tetap rumah itu berdiri seperti semula, hanya saja kita tahu hak-hak kita," kata Rully.

Sebelumnya diberitakan, harta warisan yang ingin digugat oleh Rully yakni tanah seluas 4,2 are bersama uang deposit sepeninggal alamaruh ayahnya.

Persoalan menggugat tanah warisan itu berawal dari kekecewaan Rully karena Nngsih tidak mengizinkan untuk membuat ruang tamu dan dapur.

Penulis: Kontributor Lombok Tengah, Idham KhalidEditor: David Oliver Purba

Artikel Asli