Ibu Ini Temukan Putranya yang Diculik 32 Tahun Lalu

Tagar.id Dipublikasikan 12.00, 08/08
Ibu Ini Temukan Putranya yang Diculik 32 Tahun  Lalu

Kasih ibu sepanjang masa. Ungkapan ini layak disandang Li Jingzhi, seorang ibu rumah tangga yang tak pernah putus asa terus mencari dan mencari anaknya yang diculik. Penantian  yang panjang harus dijalaninya lebih dari tiga dekade untuk menemukan putranya, Mao Yin, yang diculik pada 1988 dan dijual.

Jingzhi hampir putus asa untuk bisa bertemu lagi dengan putra kesayangannya. Namun, keajaiban itu pun datang juga. Pada Mei, ia akhirnya mendapat telpon dari seorang yang mengetahui keberadaan Mao Yin…. 

Saat itu, pada akhir pekan, Jingzhi dan suaminya membawa balita mereka, Mao Yin jalan-jalan ke kebun binatang atau ke salah satu banyak taman di kota tempat tinggal pasangan suami istri itu, Xi'an, ibu kota provinsi Shaanxi di China tengah. Salah satu acara tamasya ini selalu teringat jelas dalam ingatannya selama bertahun-tahun.

Baca Juga: China Kirim Bantuan untuk Korban Ledakan di Lebanon

Setiap hari, setelah pulang kerja, saya bermain dengan anak saya. Saya sangat senang. Dia tidak suka menangis. Dia sangat lincah dan menggemaskan.

"Dia berumur sekitar satu setengah tahun pada waktu itu. Kami membawanya ke kebun binatang Kota Xi'an. Dia melihat seekor cacing di tanah. Dia sangat ingin tahu dan menunjuk ke cacing sembari berkata 'Mama, cacing ! ' Dan saat saya menggendongnya keluar dari kebun binatang, dia memegang cacing di tangannya dan meletakkannya di dekat wajah saya, ,"kata Jingzhi seperti diberitakan dari  BBC News, Jumat, 7 Agustus 2020.

Mao Yin merupakan anak tunggal  - saat itu pemerintah China mewajibkan kebijakan satu anak, jadi tidak ada pertanyaan untuk memiliki lebih banyak. Jingzhi ingin putranya belajar keras dan menjadi sukses. Ia pun menjulukinya Mao Yin dengan sebutan Jia Jia, yang berarti "hebat".

"Jia Jia adalah anak yang berperilaku sangat baik, pintar, patuh, dan bijaksana. Dia tidak suka menangis. Dia sangat lincah dan menggemaskan. Dia adalah tipe anak yang disukai semua orang saat  mereka melihatnya," kata Jingzhi .

Penculikan Anak

Mao Yin saat masih balita. (Foto: BBC News).

Rutinitas ia dan suami setiap hari, mengantar Mao Yin ke taman kanak-kanak di pagi hari dan menjemputnya setelah bekerja. "Setiap hari, setelah pulang kerja, saya bermain dengan anak saya," kata Jingzhi. "Saya sangat senang."

Jingzhi bekerja di sebuah perusahaan pengekspor biji-bijian. Pada saat panen, ia harus meninggalkan kota selama beberapa hari untuk mengunjungi pemasok di pedesaan. Jika ia dinas ke luar kota, Mao 'Jia Jia' Yin tinggal di rumah bersama ayahnya. 

Saat itu, mendadak  Jingzhi mendapat pesan dari pimpinannya untuk segera segera pulang. "Waktu, telekomunikasi belum terlalu maju. Saya mendapat pesan berupa  telegram dengan enam kata di atasnya: 'Darurat di rumah; segera kembali.' Saya tidak tahu apa yang terjadi. "

Jingzhi pulang dengan perasaan yang bercampur. Dalam pikirannya timbul, jangan-jangan terjadi sesuatu. Ternyata benar apa yang ia khawatirkan. Seorang manajer memberikan kabar yang mengejutkan yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.

"Pemimpin kami mengatakan satu kalimat: 'Putramu hilang,'" kata Jingzhi. "Pikiran saya menjadi kosong. Saya pikir mungkin dia tersesat. Saya tidak terpikir  bahwa saya  tidak akan dapat menemukannya."

Hati saya sakit … saya ingin menangis. Saya ingin berteriak. Saya merasa hati ini hampa.

Mao Yin dan Ibunya

Mao Yin kecil digendong ibunya, Jingzhi. (Foto: BBC News).

Oktober 1988, Mao Yin Berusia 8 Tahun

Suami Jingzhi bercerita seperti biasa ia hendak menjemput pulang setelah Mao Yin belajar. Saat menuju rumah, ia berhenti untuk mengambil air minum di sebuah hotel kecil milik keluarga. Suami Jingzhi meninggalkan si kecil, yang dipikirnya hanya mendinginkan air minum selama satu atau dua menit. Namun betapa terkejutnya, Mao Yin sudah tidak ada.

Jingzhi dan suami waktu itu mengira Mao Yin pasti segera ditemukan. "Saya pikir mungkin anak saya tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang dan orang-orang yang baik hati akan menemukannya dan mengantarkan pulang," tuturnya. 

Namun ditunggu-tunggu hari demi hari, tak ada orang yang mengantarkan pulang Mao Yin. Hingga seminggu pun berlalu, Jingzhi dan suami semakin cemas. Mereka mendatangi kantor polisi, bertanya kepada setiap orang yang mereka temui di sekitar hotel.

Jingzhi juga mencetak 100.000 selebaran dengan foto Mao Yin dan menyebarkan  di sekitar stasiun kereta dan bus di Xi'an, dan memasang iklan orang hilang di surat kabar lokal. Semua usaha yang dilakukan  tidak menunjukkan hasil. 

"Hati saya sakit … saya ingin menangis. Saya ingin berteriak," kata Jingzhi. "Saya merasa hati ini hampa." Jingzhi terus-terusan menangis sepanjang hari.

Jingzhi acapkali menangis setiap melihat pakaian, sepatu kecil dan mainan kesayangan Mao Yin. Ia tak pernah terbayang putra satu-satunya menjadi korban penculik yang memang tengah marak di negaranya.

Pada 1979, pemerintah Tiongkok mengeluakan kebijakan satu anak untuk mengendalikan jumlah penduduk yang pertumbuhannya pesat dan mengentaskan kemiskinan.  Pasangan suami istri yang tinggal di kota hanya diperbolehkan punya satu anak, sedangkan di pedesaan bisa punya anak kedua jika yang pertama perempuan.

Pasangan yang menginginkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan nama keluarga dan merawat mereka di masa tua, namun usahanya tidak berhasil - mereka akan menghadapi denda yang berat. Dan tambahan anak-anak mereka tidak akan mendapatkan  tunjangan sosial.

Kebijakan tersebut diyakini berkontribusi terjadinya  peningkatan jumlah penculikan anak, terutama terhadap anak laki-laki. Tapi Jingzhi tidak tahu apa-apa tentang ini.

"Kadang-kadang di TV ada pemberitahuan tentang anak hilang, tapi saya tidak pernah menyangka bahwa mereka telah diculik dan dijual. Saya hanya mengira mereka hilang,"  tutur Jingzhi. 

Pengumumam Anak Hilang

Jingzhi menyebarkan pengumuman anak hilang untuk bisa berharap menemukank kembali Mao Yin. (Foto: BBC News).

Ia sempat menyalahkan suaminya sebagai penyebab Mao Yin hilang. Namun Jingzhi menyadari harus bersama-sama menemukan putra mereka. 

Jingzhi Tak Pernah Putus Asa

Seiring berjalannya waktu, obsesi mereka hanya Mao Yin sehingga tak pernah membicarakan hal lain. Ini membuat hubungan suami istri itu retak. Empat tahun kemudian mereka memutuskan bercerai.

Setelah berpisah dengan suaminya tak membuat Jingzhi patah semangat mencari anaknya. Ia terus mencari dan mencari. Setiap sore, pulang kerja, ia naik kereta ke provinsi sekitarnya untuk menemukan keberadaan Mao Yin. Ia pulang pada Minggu malam untuk kembali bekerja pada Senin pagi. 

Setiap kali mendengar berita penemuan anak hilang, Jingzhi langsung pergi mencari tahu. Suatu saat ia mendengar kabar ada pasangan yang baru saja mengadopsi anak laki-laki. Ia tak mau membuang kesempatan. Meskipun jauh dari tempat tinggal, Jingzhi naik bus jarak jauh ke kota Shaanxi.

Dari kota Shaanxi, ia berganti bus menuju pedesaan untuk mencari pasangan yang dikatakan telah mengadopsi seorang anak laki-laki dari marga Xi , seorang yang terlihat seperti Mao 'Jia Jia' Yin. Namun setelah menunggu sampai malam sampai para penduduk desa kembali dari ladang, ternyata pasangan itu telah membawa anak adopsi ke desa  Xi'an. Jadi dia bergegas kembali lagi, tiba pada dini hari.

Dari kabar penduduk desa, pasangan tersebut menginap di sebuah flat. Jingzhi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari flat yang disewa pasangan itu. Lagi-lagi ia harus kecewa karena menurut pemilik flat, mereka sudah pergi ke kota lain.  

Tanpa kenal lelah, Jingzhi bergerak menuju kota yang dimaksud dan sampai di sana malam hari. Ia kembali mencari tempat penginapan pasangan tersebut hingga berjam-jam, bertanya dari satu hotel ke hotel lain. Hingga akhirnya ditemukan juga hotel tersebut, tapi ternyata pasangan tersebut sudah check out.  

Saya  merasa tidak bisa terus menerus seperti ini. Jika  tidak mencoba mengendalikan emosi,  mungkin saya benar-benar gila. Jika menjadi gila, saya  tidak akan bisa pergi keluar untuk mencari anak saya 

Jingzhi terus menelusuri keberadaan pasangan yang membawa anak laki-laki. Ia berhasil juga menemukan pasangan suami istri tersebut. Namun Jingzhi harus kecewa, ternyata bocah ternyata bukan Mao Yin, putranya. "Saya pikir pasti anak ini adalah Jia Jia. Saya sangat kecewa. Itu berdampak besar pada saya. Setelah itu, saya terus mendengar suara anak saya. Ibu saya khawatir saya akan mengalami gangguan mental," kata Jingzhi.
Putranya adalah hal pertama yang dia pikirkan ketika bangun setiap pagi. Malam hari Jingzhi  bermimpi Mao Yin menangis memanggil namanya. "Mama, mama!". Kehilangan ini membuat Jingzhi mengalami tekanan batin. Atas saran mantan teman sekelasnya yang  seorang dokter, ia pergi  ke rumah sakit.

Dokter itu mengatakan sesuatu yang bisa berdampak besar pada saya. Dia mengatakan kepada saya: 'Saya dapat merawat Anda untuk penyakit fisik, tetapi untuk penyakit di hati Anda, itu terserah Anda.' Kata-katanya membuat saya  berpikir sepanjang malam. 

Lingzhi Bertemu Anaknya

Momen mengharukan saat Li Jingzhi melihat putranya kembali setelah 32 tahun menghilang. (Foto: CCTV|BBC).

"Saya  merasa tidak bisa terus menerus seperti ini. Jika  tidak mencoba mengendalikan emosi,  mungkin saya benar-benar gila. Jika menjadi gila, saya  tidak akan bisa pergi keluar untuk mencari anak saya dan suatu hari jika anak saya kembali dan melihat ibu yang gila, itu akan sangat menyedihkan baginya," tutur Jinghzi.

Jingzhi mencoba bisa menerima takdir, meskipun upaya untuk mencari anaknya yang hilang tak pernah sirna.
Sementara itu, saudara perempuan Jingzhi memindahkan semua pakaian dan mainan Mao Yin ke dalam sebuah kotak, agar Jingzhi tidak terlalu terbayang-bayang anak kesayangannya bila melihat koleksinya.

Bergabung dengan Baby Come Home

Setelah 19 tahun pasca kehilangan putranya,  Jingzhi bergabung dengan situs web, Baby Come Home sebagai tenaga  suka rela. Situs ini untuk membantu menyatukan kembali keluarga dengan anak-anak mereka yang hilang. "Saya tidak lagi merasa kesepian. Ada begitu banyak sukarelawan yang membantu kami menemukan anak-anak kami - saya merasa sangat tersentuh. Saya pikir meskipun anak saya tidak ditemukan, saya dapat membantu anak-anak lain menemukan rumah mereka kembali," tuturnya.  

Pada tahun 2009, pemerintah China membuat database DNA, di mana pasangan yang kehilangan anak dan anak yang dicurigai diculik dapat mendaftarkan DNA mereka. Ini adalah langkah maju yang besar, dan telah membantu menyelesaikan ribuan kasus. Sebagian besar anak hilang yang didengar Jingzhi adalah laki-laki. Pasangan yang mengadopsi anak biasanya mereka yang tidak memiliki anak, punya anak perempuan  tetapi ingin anak laki-laki, dan kebanyakan  berasal dari pedesaan.  
Bekerja menjadi sukarelawan di Baby Come Home  selama dua dekade terakhir, Jingzhi telah membantu menghubungkan 29 anak dengan orang tua mereka. Dia mengatakan sulit untuk menggambarkan perasaannya saat melihat pertemuan anak dengan orangtuanya. 

Saya berbisik di telinga ibu: 'Bu, jangan khawatir, saya  pasti akan menemukan Jia Jia. Itu bukan hanya untuk memenuhi keinginan saya sendiri, tetapi juga keinginan ibu yang sangat merindukan cucunya.

"Saya bertanya pada diri sendiri: 'Mengapa ini tidak terjadi pada diri saya saya? Tetapi ketika saya melihat orang tua  memeluk anak mereka, saya ikut merasakan kebahagiaan. Saya juga merasa bahwa jika mereka dapat memiliki hari ini, saya pasti dapat memiliki hari ini juga. Melihat anak mereka kembali, saya masih punya harapan, kelak bertemu kembali dengan Mao Yin," ucap Jingzhi. 

Sebagai manusia biasa, Jingzhi hampir kehilangan asa. Namun ia tidak ingin kekecewaan itu terus berlarut. "Setiap kali petunjuk, ternyata bukan apa-apa, saya merasa sangat kecewa. Tapi saya tidak ingin terus merasa kecewa. Jika terus kecewa seperti ini, akan sulit bagi saya  untuk tetap hidup. Jadi saya mempertahankan harapan untuk terus hidup."
Ibu Jingzhi yang sudah lanjut usia juga mengingatkan untuk terus mencari putranya. "Ibu saya  meninggal pada tahun 2015 di usia 94 tahun. Sebelum meninggal, beliau masih sangat merindukan Jia Jia. Suatu kali ibu memberitahu saya  bahwa dia bermimpi bertemu Jia Jiai. Ibu berkata: 'Sudah hampir 30 tahun, dia harus kembali, '"kata Jingzhi, mengingat kata-kata ibunya.  
Ketika ibunya jatuh pingsan sesaat sebelum kematiannya, Jingzhi menduga dia sedang memikirkan cucunya. "Saya berbisik di telinga ibu: 'Bu, jangan khawatir, saya  pasti akan menemukan Jia Jia,'" katanya. "Itu bukan hanya untuk memenuhi keinginan saya sendiri, tetapi juga keinginan ibu yang sangat merindukan cucunya. 

Ibunya Yingzhi meninggal pada tahun 2015 tanggal 15 Januari, bertepatan dengan hari ulang tahun Yao Min. "Saya merasa itu adalah cara Tuhan mengingatkan saya untuk tidak melupakan ibu yang melahirkan saya dan anak laki-laki yang saya lahirkan. Pada hari yang sama seorang meninggal dan seorang lahir.  

Mao Yin Ditemukan

Pada 10 Mei tahun 2015, bertepatan dengan Hari Ibu, Yingzhi mendapat telepon dari Biro Keamanan Umum Xi'an dengan berita menakjubkan: "Mao Yin telah ditemukan." 

"Saya tidak berani percaya itu nyata," kata Jingzhi.
Sebelumnya pada bulan April, seseorang memberinya petunjuk tentang seorang lelaki yang diambil dari Xi'an bertahun-tahun yang lalu. Orang itu memberikan gambar anak laki-laki ini saat dewasa. Jingzhi memberikan gambar itu kepada polisi, dan mereka menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengidentifikasi sebagai seorang pria yang tinggal di Kota Chengdu, di provinsi tetangga Sichuan, sekitar 700 km jaraknya. .
Polisi kemudian meyakinkannya untuk melakukan tes DNA pada 10 Mei 2015. Minggu berikutnya, polisi mengambil sampel darah untuk melakukan putaran baru tes DNA dan hasilnya terbukti tanpa keraguan bahwa mereka laki-laki dewasa itu adalah Mao Yin. 

"Ketika saya mendapatkan hasil DNA, saya benar-benar percaya bahwa anak saya benar-benar ditemukan," kata Jingzhi, sembari menangis harus.  Setelah 32 tahun pencarian tanpa lelah, Jingzhi dipertemukan kembali dengan putra kesayangannya, Mao Yin. Inilah titik akhir pencarian yang mengharubiru dan membahagiakan.

Hari Senin tanggal 18 Mei dipilih sebagai hari pertemuan Jingzhi dengan Mao Yin.  Jingzhi merasa gugup. Ia tidak yakin bagaimana perasaan putranya tentang dia. Dia sekarang sudah dewasa, menikah, dan menjalankan bisnis dekorasi interiornya sendiri.
"Sebelum pertemuan, saya merasa sangat kekhawatiran. Mungkin dia tidak akan mengenali saya, atau tidak akan menerima saya, dan mungkin di dalam hatinya dia telah melupakan saya. Saya sangat takut ketika ingin memeluknya, anak saya tidak mau.  Saya merasa itu akan membuat saya merasa lebih terluka, bahwa anak yang saya cari, selama 32 tahun, tidak akan menerima cinta dan pelukan yang saya berikan kepadanya, "kata Jingzhi. 

Yingzhi dan putranya, Yao Min

Ekspresi kebahagiaan Yingzhi setelah bertemu putranya yang menghilang 32 tahun silam. (Foto: BBC News).

Karena sering tampil di televisi untuk membicarakan masalah kehilangan anak, kasusnya menjadi terkenal dan media heboh memberitakannya. Pada hari pertemuan, China Central Television (CCTV) menyiarkan secara langsung pertemuan seorang ibu yang merindukan anaknya setelah puluhan tahun hilang menjadi  korban penculikan. 

Mao Yin berjalan ke ruang upacara di Biro Keamanan Umum Xi'an, smbari berteriak "Ibu!" saat dia berlari ke pelukan ibunya, Jingzhi. Ibu dan anak saling bertangisan. "Sama seperti itulah dia dulu berlari ke arah saya  ketika  masih kecil," kata Jingzhi,  mengenang masa lalu.

Dari cerita Mao Yin, Jingzhi baru tahu kalau anaknya itu telah dijual kepada pasangan tanpa anak  di Provinsi Sichuan dengan harga 6.000 yuan (US 840 dalam nilai mata uang uang hari ini) satu tahun setelah dia diculik. Orang tua angkatnya mengganti namanya menjadi Gu Ningning dan membesarkannya sebagai anak tunggal mereka. 

Simak Pula: Presiden China Xi Jinping Dukung Keadilan Palestina Mao Yin di sekolahkan  di sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi di kota Chengdu. Ironisnya, orangtua angkat Mao Yin  beberapa tahun lalu pernah  Jingzhi, namun tak mau menghubunginya. Orang yang memberikan Jingzhi petunjuk tentang keberadaan putranya minta namanya dirahasiakan. Kesabaran dan kegigihan akan selalu menghasilkan buah yang manis. Itu yang dirasakan Jingzhi setelah bertemu dengan Mao Yin, putranya yang menghilang lebih dari 32 tahun silam. []

Artikel Asli