Hujan di Bandung

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 21/02 • Allisha Maharani

Bandung mendadak diguyur hujan sore ini. Okta, anak laki-laki berusia tujuh belas tahun yang memiliki mata cokelat terang itu berlari menuju halte bus. Melipir karena ia tidak mau kebasahan.

Okta berniat untuk minum kopi di kedai yang jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Tapi, sepertinya ia harus menunda dulu keinginannya.

Halte bus sedang tidak ramai seperti biasanya. Hanya ada dua manusia bumi. Okta, dan satu anak perempuan seumuran. Parasnya cantik, dengan rambut panjang dikepang, mata indah bulat sempurna, dan bibir tipis penuh rona. Tapi Okta tidak peduli. Ia sibuk memikirkan hal lain.

Lima menit berlalu, bus kota datang melipir dari lengangnya jalanan. Anak perempuan yang tadi duduk di sebelah Okta kini sudah berdiri, kemudian masuk ke dalam bus. Tepat saat pintu bus tertutup kembali, kedua bola mata Okta secara tidak sengaja melirik ke arah kursi halte yang tadi ditempati anak perempuan itu. Kedua alis Okta terangkat, sebuah buku catatan berwarna hitam beserta bolpoin tergeletak begitu saja. 

Secepat kilat Okta mengambil barang itu, lantas ia berdiri dan wajahnya tegang menatap bus yang sudah jalan beberapa detik lalu. Baru saja ia ingin berteriak dan mengejar bus kota itu, tapi belum sampai mengeluarkan suara, Okta mengurungkan niat baiknya. 

Okta tadi memang sempat melihat anak perempuan di sebelahnya sedang mencatat sesuatu. Beberapa detik sebelum bus benar-benar menepi, suara panggilan masuk dari ponsel anak perempuan itu memaksanya untuk menghentikan sejenak apa yang sedang ia lakukan. Mungkin anak perempuan itu lupa kalau buku catatannya tertinggal, karena sepertinya, pembicaraan di ponsel benar-benar menyita seluruh perhatiannya.

Okta menggaruk rambut bagian belakangnya. Bingung harus bagaimana. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyimpannya. Siapa tahu semesta mau membantunya untuk mengembalikan buku itu.

***

Setelah hujan mereda, Okta segera menuju kedai kopi. Ia duduk di salah satu kursi, dengan banyak rasa penasaran akan isi di dalam buku catatan. Lalu ia memutuskan untuk membukanya dengan setengah keberanian dan ketakutan.

Perlahan tangan Okta membuka lembar pertama, dan ia langsung tercengang hanya karena membaca judulnya.

Oktober Hilang di Tahun 2007.

Semesta, kau sembunyikan di mana ia? Anak laki-laki tampan yang menggunakan tongkat untuk berjalan itu. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena ia pernah memberikanku roti. Aku juga belum sempat mengucapkan terima kasih karena ia berhasil membuatku tertawa lagi setelah Ayah pergi meninggalkan bumi. Tolong kembalikan ia, Semesta. Sekali saja. Aku janji, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Sungguh.

***

Lima belas menit setelah Dara duduk di kursi bus, ia baru menyadari sesuatu. Ada yang hilang. Ada sesuatu yang tertinggal. 

“Buku catatanku, kenapa tidak ada?” gumam Dara, sembari tangannya masih sibuk merogoh isi tas.

Wajah Dara berubah lesu, ia bingung sekarang, mana yang harus dicemaskan. Antara barang berharganya, atau seseorang yang tadi meneleponnya.

***

Sudah hampir tiga tahun ini Dara hidup tidak tahu arah. Sekolah, bekerja, menjaga ibunya, ketiga hal itu sudah fasih ia lakukan tanpa istirahat sekalipun. Cita-cita? Tujuan hidup? Kebahagiaan? Dara bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan mimpi indah dalam tidur malamnya.

“Ibu beneran udah sadar, Mbak?” Dara bertanya kepada seorang suster yang baru saja keluar dari salah satu kamar—tempat di mana ibu Dara dirawat selama ini.

“Alhamdulillah sudah, Mbak Dara. Tapi ibu masih banyak diamnya. Belum mau diajak bicara. Matanya suka kosong.”

Dara hanya menganggukkan kepalanya. Sejak suster itu meneleponnya, Dara sudah tidak bisa bersabar untuk melihat langsung keadaan ibunya. Sebuah kecelakaan membuat satu-satunya harta berharga Dara itu hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit selama empat tahun karena koma, dan sejak kejadian itu hidup Dara tidak pernah tenang. Syukurlah hari ini dia menerima kabar baik. Tapi sekaligus kabar buruk, karena Dara tahu pasti, apa yang membuat ibunya itu seperti manusia hidup yang tak bernyawa.

“Bu?” Dara memegang tangan ibunya dengan sedikit takut.

“Kenapa Ibu masih hidup?” 

***

Empat tahun yang lalu, saat Dara berusia tiga belas tahun, ia harus menyaksikan pertengkaran hebat kedua orangtuanya. Masalah yang butuh bertahun-tahun kemudian baru bisa Dara mengerti. 

Entah mengapa dulu ibunya sempat berkhianat. Membuat ayah dan ibu Dara berdebat tanpa henti setiap hari. Saling mengeraskan suara, saling menyalahkan dan tidak mau kalah. Sampai ayah Dara memutuskan pergi dari rumah. Dan baru satu jam berlalu, sebuah kabar buruk datang membuat Dara menangis sejadi-jadinya. Sejak hari itu, Dara menyimpan banyak kebencian di dalam dirinya.

***

Dara tidak bisa mengendalikan air matanya. Di pusara ayahnya, Dara benar-benar kehilangan kendali. Marah, sedih, kecewa, semuanya bercampur jadi satu.

“Ini semua gara-gara Ibu! Ibu buat Ayah meninggal! Ibu jahat!” Dara bicara dengan sisa-sisa kekuatannya. Setelah itu ia segera berlari meninggalkan ibunya sendirian. Dara berlari sejauh yang ia bisa, sampai akhirnya lelah, dan memutuskan untuk duduk di pinggir jalan sambil menangis.

“Apa kamu baik-baik saja?” Sebuah suara muncul, Dara mengangkat kepalanya. Ada seorang anak laki-laki seumuran sedang berjongkok di hadapannya.

“Siapa kamu?” ucap Dara dengan suara serak.

“Aku? Oktober…”

Dara tersenyum, “Mau melucu?” Kedua tangannya kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah.

Anak laki-laki yang mengaku namanya Oktober itu tertawa kecil, “Sungguh, namaku Oktober.”

“Eh, kamu jalan menggunakan tongkat karena tidak bisa melihat, kan? Terus kenapa sendirian? Bahaya tau!” 

“Aku yakin banyak orang baik yang akan menolongku kalau aku kenapa-napa. Kamu kenapa menangis sendirian?” tanya anak laki-laki itu lagi.

“Ayahku meninggal.”

Sejenak anak laki-laki itu diam. Dara bisa melihatnya, anak laki-laki itu seperti merasa bersalah sekaligus menyesal karena sudah bertanya.

“Kamu sudah makan?”

“Apa hubungannya makan dengan Ayahku?” Tanya Dara tidak mengerti.

“Banyak menangis pasti menguras tenagamu, setidaknya kamu harus makan, supaya bisa menangis lebih kencang lagi.”

Bukannya tersinggung, Dara justru tertawa. Tawa yang benar-benar tulus dari hatinya. Anak laki-laki yang baru ditemuinya itu sungguh menyenangkan sekaligus menyebalkan.

“Andai saja aku bisa melihat wajahmu yang tertawa itu, pasti menyenangkan…”

Mendadak Dara menjadi diam membisu, ia merasa bersalah padahal tidak melakukan apa-apa. 

“Kamu tau, tidak semua hal indah yang ada di dunia ini harus kita lihat. Kadang satu-satunya hal yang harus dilakukan untuk menikmatinya, ya dengan merasakan. Sungguh, itu sudah sangat cukup.”

Anak laki-laki itu tersenyum lebar, “Mau ikut aku beli roti?”

Dara menganggukkan kepalanya, “Mau!”

Entah mengapa perasaannya amat cepat membaik. Bertemu anak laki-laki itu sungguh obat yang penuh dengan keajaiban, meskipun di hari yang sama ia kehilangan ayahnya. Sepertinya semesta memang tahu apa yang terbaik untuk makhluk di bumi, kehilangan sesuatu tidak selalu buruk.

***

Dara dan Oktober sedang duduk di depan minimarket setelah membeli dua bungkus roti isi cokelat, dan hujan deras tiba-tiba turun membasahi kota.

Oktober memberikan satu bungkus roti untuk Dara, “Ini, untukmu satu.”

Dara mengambil roti itu dan membuka bungkusnya. Tidak lama kemudian ia segera melahap roti miliknya. Sedang teman barunya yang bernama Oktober itu malah melamun. Bukan sendu yang ada di bola matanya, melainkan sebuah kebencian. Meskipun anak laki-laki itu buta, Dara tetap bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Oktober.

“Aku benci hujan.” 

“Mengapa?” 

“Karena hujan aku kehilangan mataku.” 

Sebuah kecelakan membuat Oktober kehilangan penglihatannya. Anak laki-laki itu mengalami cedera pada kedua matanya saat usianya baru menginjak sebelas tahun. Dan hujan turun saat kejadian itu. Entah mengapa peristiwa itu ia jadikan alasan yang kuat untuk membenci hujan. 

“Ayo.” Dara menaruh roti yang baru setengah dimakannya, ia berdiri dan berusaha menarik tangan Oktober.

“Mau ke mana?”

“Kita hujan-hujanan!” Ucap Dara semangat. Oktober sebaliknya, ia justru menghentakkan tangannya agar terlepas dari tangan Dara. 

“Ayolah, Okto… kumohon.” Dara berusaha membujuk.

“Kamu tadi tidak mendengarnya? Aku benci hujan!”

Dara mendengarnya, dia tahu anak laki-laki itu menyimpan kebencian yang teramat dalam. Tapi Dara hanya ingin Oktober mengerti, bahwa ia harus bisa menerima semua takdir menyakitkan yang datang dalam kehidupan.

Dara mengembuskan napasnya, pura-pura kesal, “Ya sudah, kalau begitu aku hujan-hujanan sendiri saja!” Tidak lama setelah mengatakan itu, Dara berlari menembus hujan. Merentangkan tangan dan membiarkan wajahnya basah oleh air.

Oktober sedikit terkejut. Ia berdiri dan mengambil tongkatnya, lantas berteriak, “Jangan hujan-hujanan! Nanti kamu bisa sakit!”

“Justru kamu tidak boleh takut dengan rasa sakit! Kamu harus bisa jadi pemberani, terima semua rasa sakit yang datang! Hidup ini bukan hanya untuk merasakan senang! Ayolah, Oktober, mau sampai kapan kamu benci hujan?!” Dara tidak kalah dan ikut berteriak.

Masih belum mendapat respons dari Oktober, Dara menjadi gemas. Gadis itu menghampiri Oktober, lantas tangan kanannya terulur, “Ayo, ikut denganku.” Kali ini Dara mengucapkannya dengan lembut. Benar-benar tulus dan berharap Oktober mau mendengarkannya.

“Tapi bagaimana kalau hujan meyakitiku untuk yang kedua kali?”

Dara tersenyum, “Tidak akan. Perkiraan buruk itu hanya ada di pikiranmu sendiri, Okto. Percaya padaku.”

“Letakkan tongkatmu, ikut denganku merasakan hujan. Kamu harus mencobanya, setidaknya sekali saja.”

Akhirnya, setelah beberapa kali paksaan, Oktober menuruti kemauan Dara. Ia meletakkan tongkatnya, lantas berusaha mengambil tangan Dara yang sudah siap menyambutnya hangat sedari tadi. Dara tersenyum lega. Gadis itu segera menuntun Oktober menuju jalanan sepi di depan minimarket dengan perlahan. Lantas merasakan rintik-rintik air yang semakin lama semakin menyenangkan.

***

Dara berdiri di balik jendela besar rumah sakit. Menatap kosong langit gelap dan lampu-lampu gedung. Berulang kali ia mengembuskan napas. Meratapi pantulan dirinya sendiri di depan kaca jendela, dengan seribu pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya.

Mengapa hidupnya menyedihkan seperti ini? Mengapa ia tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi? Mengapa ia sampai detik ini masih bertahan sekalipun banyak luka yang menyerang tubuh dan hatinya dari berbagai arah? Mengapa dan mengapa, Dara hanya bisa terus bertanya seperti orang bodoh.

Setelah tadi sempat mengeluarkan pertanyaan yang bahkan Dara sendiri tidak pernah menyangkanya, kini ibunya sudah lelap dalam tidur. 

Ayah, Dara harus bagaimana menghadapi ini semua? Batinnya.

***

Sudah sejak pagi Okta duduk di halte bus. Ia menunggu seseorang datang, tapi sampai matahari berubah terik, seseorang itu tak kunjung menampakkan wajahnya. Akhirnya Okta menyerah, ia sudah berjam-jam ada di halte, mungkin nanti sore seseorang itu akan datang 

Okta memutuskan untuk pergi ke kedai kopi, lalu duduk di bangku pojok. Ia berniat membaca kembali isi di dalam buku catatan itu. Meskipun saat membaca perasaannya menjadi aneh, tapi Okta tetap penasaran.

Hujan di Bandung.

Hujan selalu mengingatkanku kepada anak laki-laki itu. Sedang di mana ya ia sekarang? Semoga ia tidak pernah membenci hujan lagi. Aku benar-benar berharap ia bisa menerima semua takdir hidupnya. Tolong hujan, bantu aku membuat ia mengerti, bahwa bermain denganmu sungguh-sungguh menyenangkan! Aku ingin ia bermain hujan bersamaku lagi di depan minimarket!

Okta sedang menyeruput kopi dinginnya sembari membaca, dan tiba-tiba ia tersedak saat tiba di kalimat terakhirnya.

***

Dara sampai di halte bus, tempat di mana ia meninggalkan buku catatannya secara tidak sengaja. Sebenarnya sudah sejak pagi Dara ingin mencarinya, tapi ia tidak bisa karena harus mengurus ibunya lebih dulu. 

Halte bus sepi, tidak ada orang satu pun. Berulang kali Dara menyapu bersih halte dengan kedua matanya, tetap saja ia tidak menemukan jejak keberadaan buku miliknya. Dara mengembuskan napas, percuma ia kemari, buku itu sempurna menghilang.

Di sisi yang lain, Okta melihat jam di tangannya. Sudah sore, dan sebentar lagi pukul empat. Ia harus bergegas kembali ke halte. Kali ini ia berharap semoga bisa bertemu dengan si gadis pemilik buku catatan.

Saat Okta hampir sampai, saat itulah Dara sudah melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bus. Okta berlari ketika ia sadar ada bus yang melipir dan seorang anak perempuan sudah bersiap pergi. Tapi terlambat, Okta baru sampai ketika pintu bus sudah tertutup dan memulai perjalanan. Dan sudah bisa dipastikan Okta tidak bisa menghentikannya. 

Okta tidak melihat wajah anak perempuan itu, tapi ia yakin, gadis itu adalah si pemilik buku catatan.

***

Hari-hari berikutnya, Okta tetap melakukan hal yang sama. Datang sejak pagi, menunggu sampai siang, atau terkadang ia hanya datang saat sore hari. Di jam yang sama atau malah lebih awal. Untuk sekarang, sepertinya ia belum disetujui semesta untuk bisa bertemu Dara. Tapi bagaimana pula mereka bisa bertemu, ketika Okta datang saat sore, Dara datang pagi harinya. Saat Okta menunggu sejak pagi, Dara datang malam harinya. 

Hari ini, tepat satu minggu setelah Dara kehilangan buku berharganya, ia benar-benar merasa kehilangan harapan sekarang. Akhirnya Dara menyerah dan memutuskan untuk tidak akan mencarinya lagi. Lagipula Dara tidak bisa lama-lama berada di luar, ia harus segera pulang untuk menemani ibunya.

“Bu?” 

“Ibu?” Gadis itu mencari ibunya. Sejak pulang dari rumah sakit ibunya selalu mengurung diri di kamar dan melamun dari balik jendela. Tapi entah mengapa malam ini ibunya tidak ada di kamar. Dara mulai panik, ia mencemaskan sesuatu. Dara mencari ibunya di berbagai sudut rumah, sampai akhirnya ia menemukannya. Di dapur, dan tubuhnya terkulai lemas.

“IBUU!!!”

***

Okta sama lelahnya dengan Dara. Ia sedikit kesal dan ingin marah karena tak kunjung bertemu deengan anak perempuan halte bus itu. Akhirnya Okta memutuskan untuk membaca lagi buku catatan. 

30 Juni 2010

Ayah, jangan khawatir sepi. Setiap hari ulang tahun Ayah, Dara selalu datang untuk menjenguk. Seperti hari ini. Tidak pernah terlewatkan sehari pun. Sudah tiga tahun ini Dara rutin melakukannya. Ayah pasti senang, ya? Semoga di tahun-tahun berikutnya, Dara tetap bisa datang. Dara sayang Ayah.

“30 Juni?” Okta mengerutkan keningnya, lantas ia mengecek tanggal di ponsel.

“Besok! Besok tanggal 30 Juni!” Entah mengapa Okta merasa amat senang. Masih ada harapan pikirnya. Atau mungkin memang ada alasan lain yang membuatnya ingin bertemu dengan gadis itu.

***

Ada banyak pemakaman umum di Bandung. Tapi Okta tahu kemana ia harus pergi. Di tengah perjalanan, ia membuka buku catatan itu kembali. Rupanya masih ada satu halaman terakhir yang belum ia baca. Dan tulisan itu baru dituliskan delapan hari yang lalu. Hari di mana ia menemukan buku itu. 

Empat tahun setelah Oktober menghilang.

Sungguh? Ada apa denganmu hari ini, Semesta? Kau sungguh-sungguh kabulkan doaku? Benar itu dia? Oktober yang selama ini aku cari? Aku bahkan sudah berniat melupakannya, tapi hari ini bahkan dia muncul di depanku tanpa kuminta?

Aku senang akhirnya dia bisa melihat lagi. Senang sekali. 

Omong-omong kau belum tau namaku, ya, Okto? Aku Dara. Aku harap kita bisa bertemu lagi, dan kamu masih bisa mengingatku.

Untuk sesaat Okta terdiam. Sejak pertama kali ia membaca tulisan di buku, Okta merasa ada yang aneh. Ingatannya terus dipicu untuk kembali kepada kejadian di masa lalu. Sebenarnya, ada banyak cerita di buku catatan milik Dara, tapi hanya beberapa halaman yang membuat perasaan Okta menjadi tidak keruan. Mungkin sebuah firasat.

***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dara selalu menepati janjinya. Ia mengunjungi pemakaman tepat di hari ulang tahun ayahnya. Ketika Dara selesai menaburkan bunga, air matanya langsung jatuh dari pelupuk. Mengalir deras membasahi wajah.

“Ayah… mengapa semua orang pergi? Mengapa Dara tidak pergi juga? Mengapa Tuhan biarin Dara sendirian? Mengapa, Ayah?” Ucap Dara lirih, lantas ia melirik batu nisan yang terletak di sebelah ayahnya. Dara benar-benar tidak menyangka, semua harus berakhir secepat ini.

Dara berdiri setelah mengusap lembut nisan ayahnya. “Ayah, Dara pergi dulu, ya? Doain supaya Dara baik-baik aja hidup sendirian di bumi yang luas ini. Tahun depan, Dara ke sini lagi. Dara janji.” Dara tersenyum sendu. Di usianya yang baru tujuh belas tahun, usia yang seharusnya menyenangkan dan berkesan. Justru sebaliknya, Dara harus bisa menerima takdir menyakitkan yang memang seperti itu rencananya.

“Dara?” Tiba-tiba sebuah suara muncul. Dara menoleh, dan tubuhnya langsung mematunng.

***

Okta sampai di pemakaman ketika Dara baru saja hendak pergi. Dengan sedikit rasa takut, Okta membuka mulutnya, menyebutkan satu nama, yang setelah bertahun-tahun berlalu, ia baru mengetahuinya.

“Dara?”

Okta mendekat saat gadis itu menoleh. Mereka saling pandang dalam waktu yang lama. Berkutat dengan pemikiran masing-masing.

“Okto?” Ucap Dara ragu-ragu.

Wajah Okta sedikit terkejut, lantas ia tersenyum, “Aku Okta.”

“Oh, maaf, berarti aku salah orang.” Ucap Dara sedikit kecewa.

Okta memberikan buku catatan milik Dara, “Namaku Okta, tapi tokoh Oktober di dalam bukumu ini adalah aku.”

Perlahan tangan Dara mengambil buku catatan dari tangan Okta, “Tapi tadi katamu, namamu Okta?”  

“Memang, tapi aku Okto yang selama ini kamu cari. Si anak laki-laki bertongkat yang benci hujan. Kalau tentang Okta, itu nama panggilanku yang asli.”

Dara dan Okta sama-sama tersenyum. Ketika hari ini seharusnya Dara bersedih, Okto yang ia rindukan hadir di hadapannya. Dara percaya sekarang, segala sesuatu yang kelihatannya buruk, rupanya tidak benar-benar buruk.

“Mengunjungi ayahmu di hari ulang tahunnya?” Tanya Okta kemudian.

Dara mengangguk samar, kemudian ia menoleh, melirik kearah pusara yang baru saja ia datangi, “Sekalian mengantar kepergian Ibuku.” 

***

“Maaf terlambat mengembalikan buku berhargamu.” 

Dara menggelengkan kepalanya, “Bukuku berada di tangan yang tepat. Terima kasih sudah menjaganya untukku, Okto.”

Kini mereka sedang berada di depan minimarket, duduk bersebelahan. Persis seperti empat tahun lalu.

“Ibuku bunuh diri,” ucap Dara tiba-tiba.

“Kamu tidak harus menceritakannya sekarang, Dara. Masih ada hari esok.”

“Apa jaminannya kamu tidak akan pergi?”

Okta tersenyum, “Aku janji, kali ini tidak akan menghilang lagi. Aku akan selalu jadi bayanganmu. Ikut ke manapun kamu pergi. Aku tidak akan membuatmu merasa sendirian, Dara.” 

Dara ikut tersenyum, ia merasa lega. Setidaknya ia masih memliki harapan untuk tetap hidup di dunia ini. Tidak lama kemudian matanya menatap kearah jalanan. Hujan.

Okta tiba-tiba berdiri, satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sedang yang satu lagi terulur di depan wajah Dara. Dara yang melihat itu merasa sedikit bingung. 

“Ikut denganku, kita bermain hujan lagi.” Okta tersenyum lebar.

“Tapi kamu kan tidak suka hujan?”

“Kata siapa?”

“Hari itu di halte. Kamu menepi karena benci hujan, kan?” Wajah Dara seolah meledek. Membuat Okta kesal sekaligus salah tingkah.

“Aku menepi karena tidak mau kebasahan. Aku sudah tidak membenci hujan, Dara.”

Dara senang mendengarnya. Oktober sudah berubah.

Hujan semakin deras. Bulir airnya semakin besar. Tidak lama setelah pembicaraan terakhir, Okta segera menarik Dara agar tubuhnya basah di bawah awan pekat. Dan seperti empat tahun lalu, mereka menikmati hujan siang itu.

Untuk sejenak Dara melupakan segala rasa sakitnya. Tentang ayahnya yang pergi karena sebuah kecelakaan. Tentang ibunya yang pernah berkhianat. Dan tentang ibunya juga yang dua hari lalu memilih mengakhiri hidupnya dengan menyayat tangannya sendiri. 

“OKTO! TERIMA KASIH DULU PERNAH MEMBERIKU ROTI. TERIMA KASIH KARENA SUDAH MAU JADI TEMANKU! TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA!” Dara berteriak di tengah suara hujan yang menderu.

“TERIMA KASIH JUGA! KARENA KAMU AKU SUDAH TIDAK BENCI HUJAN LAGI!” Okta balik berteriak.

Tidak lama kemudian, keduanya sama-sama tertawa tanpa perintah. Mungkin mereka sedang menertawakan takdir. Takdir-takdir yang menyedihkan dan juga menyenangkan. Takdir yang membuat mereka bertemu dan menjadi teman.

Rasanya, Dara sudah tidak butuh apa-apa lagi untuk menghilangkan segala rasa sakitnya. Tanpa roti cokelat pun tidak masalah. Baginya, kembalinya Okta sudah sangat cukup. Untuk hari ini, esok, dan hari-hari berikutnya. Semoga Dara tidak kehilangan orang yang dia sayang untuk yang ketiga kalinya. Semoga.

Tentang Penulis

Allisha Maharani. Manusia berjenis kelamin perempuan yang tidak pernah lupa untuk makan dan tidur. Menulis untuk membuat hatinya senang, dan tidak ahli menggambar, tapi bisa. Dulu punya cita-cita untuk jadi arsitek, tapi tidak suka pelajaran matematika. Mimpinya kini hanya ingin hidup aman, tenang, dan bahagia. Bersama pagi yang membiru cerah, siang yang mendadak hujan, langit sore yang selalu cantik, dan malam gelap yang penuh bintang, juga satu bulan sabit.

Baca cerita seru lainnya di FIKSI WEEKEND. Kamu juga bisa mengirimkan tulisan fiksi terbaikmu. Lihat di sini cara dan persayaratan untuk mengirim cerpen ke LINE TODAY.