Hujan badai terus terjadi, ini penjelasan para ilmuwan

Kontan.co.id Dipublikasikan 21.55, 19/11/2019 • Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - Badai yang disertai hujan deras terjadi berturut-turut selama tiga musim di Amerika Selatan bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan banjir di Imelda (2019).

Sebelumnya, banjir akibat hujan badai ini terjadi di Florence pada tahun 2018 dan Harvey tahun 2017 silam.

*Baca Juga: Ketemu! Ini gen yang membuat serangga tahan perubahan iklim *

Fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan Priceton University. Mereka pun melakukan penelitian untuk mengetahui kenapa hujan badai terjadi terus menerus.

Para ilmuwan menjelaskan semakin tinggi kadar kelembapan air dan tingginya kecepatan angin dapat membuat badai dengan hujan deras. Sekedar info, mereka melaporkan hasil penelitian tersebut dalam Journal Climate and Atmospheric Science.

James Smith, peneliti sekaligus penulis laporan mengatakan penelitian tersebut dapat membantu mereka untuk memahami tentang tingkat curah hujan.

Sehingga, mereka dapat mengetahui perubahan curah hujan dan memprediksikan bahaya banjir yang akan terjadi.

*Baca Juga: Fakta menarik, predator laut berperan sebagai penyeimbang kehidupan *

Hasil penelitian ini juga dapat membantu menyelesaikan puzzel dalam penelitian pemodelan iklim terbaru. Asal tahu saja, model iklim tersebut memproyeksikan pada akhir abad ini, curah hujan badai akan meningkat hingga dua kali lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kelembapan suhu permukaan laut.

Model iklim tersebut juga memprediksikan angin badai tropis akan menguat ketika suhu meningkat. Penelitian menunjukkan badai dengan dengan angin yang kuat cenderung menghasilkan curah hujan yang tinggi.

Para ilmuwan menjelaskan frekuensi badai makin kuat mendorong peningkatan curah hujan.

*Baca Juga: Kawanan induk gurita raksasa ditemukan mengerami telur di dasar lautan *

"Dengan menggunakan teknik pemodelan yang canggih, tim dapat mengetahui bagaimana dan mengapa tingkat curah hujan tropis di masa depan berubah," kata Anjuli Bamzai, Direktur Divisi Sains Atmosfer dan Geospace National Science Foundation.

Sekedar info, National Science Foundation mendanai penelitian tersebut.

 

Sumber : National Science Foundation 

Artikel Asli