Hoaks dan Infodemik Covid-19, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Kompas.com Dipublikasikan 01.01, 06/08 • Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas
SHUTTERSTOCK/MARTA DM
Ilustrasi hoaks pandemi virus corona, Covid-19

KOMPAS.com - Hoaks dan informasi simpang-siur terkait Covid-19 atau infodemik, belakangan kian ramai mewarnai media publik di Indonesia.

Tak heran jika di tengah pandemi virus corona yang kian serius dihadapi negara ini, kepercayaan masyarakat turut mengikis akibat terimbas oleh keberadaan informasi yang ada.

Padahal, seperti disampaikan Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS), Prof. Dr. dr Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, saat ini di Indonesia sudah lebih dari 110.000 orang yang terinfeksi virus corona baru ini.

"Pada waktu sekarang ini, rumah sakit di Jakarta sudah makin penuh, tadinya sudah makin berkurang (pasien). Sekarang beberapa rumah sakit kembali penuh," kata Prof Zubairi, dalam webinar dengan tema Covid-19, Hoax & Fakta Vs Teori Konspirasi & Teori Ilmiah, Rabu (5/8/2020).

Baca juga: Bagaimana Peran Ilmuwan Indonesia Menangkal Hoaks tentang Covid-19, Ahli Jelaskan

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini juga menyampaikan, saat ini Indonesia sedang menghadapi kurva yang tidak melandai, tetapi semakin serius.

Sementara dalam kondisi ini, diharapkan semua tenaga dan upaya dapat terkonsentrasi untuk mengatasi pandemi Covid-19.

"Sayangnya timbul berita-berita bohong (hoaks) dan tidak benar yang amat merugikan dalam penatalaksanaan penyakit ini. Masyarakat jadi bingung dan makin tidak percaya dengan upaya yang sedang dilakukan," jelas Prof Zubairi.

Baca juga: Penjelasan Hadi Pranoto soal Herbal Antibodi Covid-19 dan Tanggapan Ahli

Menanggapi munculnya informasi-informasi tidak benar itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutnya dengan infodemik, yakni informasi tidak benar terkait pandemi virus corona yang dihadapi saat ini.

Menyikapi konstruksi anti-sains yang beredar

Informasi tidak benar yang baru saja viral yakni terkait obat Covid-19 herbal yang diungkapkan Hadi Pranoto. Sementara, komunitas ilmiah Indonesia sangat meragukan riset yang diungkapkan Hadi saat tampil di channel Youtube milik musisi Anji.

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Bidang Penelitian Fundamental, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, Ph.D mengatakan bahwa dalam menghadapi setiap pandemi, tidak terkecuali Covid-19, selalu ada sikap-sikap non-ilmiah yang beredar di masyarakat.

"Itu sebenarnya sebagai konstruksi berpikir untuk memahami pandemi tersebut. Tetapi karena itu non-ilmiah, sikap-sikap itu tidak berkorelasi langsung terhadap eksistensi pandemi," jelas Prof Herawati.

Tak heran, jika seringkali masalah tersebut semakin memperburuk persebaran pandemi yang dimaksud, dalam hal ini terkait Covid-19.

Kendati demikian, menurut Prof Herawati, pandemi ini membawa sesuatu yang baru dan sebenarnya belum ditemukan oleh para ilmuwan.

"(Yakni) suatu paradigma baru yang mana pandemi ini telah meningkatkan kolaborasi antar peneliti di dunia. Ini memudahkan kita semua menangani pandemi. Kalau saja tidak ada informasi yang penuh kebohongan tersebut," jelas Prof Herawati.

Lantas, bagaimana ilmuwan atau komunitas sains harus bersikap?

"Satu-satunya cara untuk menghadapi masalah anti-sains atau non-ilmiah ini adalah bagaimana ilmuwan bersikap, sains harus digunakan untuk melawan konstruksi non-ilmiah ini," ungkap Prof Herawati.

Baca juga: 3 Hoaks Corona di Tanah Air, dari Thermo Gun sampai Kelinci Percobaan

Selain itu, Prof Herawati menambahkan perlunya menyikapi cara pandang dalam penanganan persebaran penyakit ini. Sebab, masih banyak hal yang perlu diketahui dan dieksplorasi tentang virus corona SARS-CoV-2 ini.

"Kita harus benar-benar memahami karakter virus ini, sehingga kita bisa menanganinya," jelas Prof Herawati.

Oleh sebab itu, diperlukan juga studi genomik untuk penatalaksanaan penyakit, dalam hal ini pandemi Covid-19.

Alasannya, karena saat ini semua kalangan sedang menyiapkan suatu kehidupan yang mungkin berbeda dari yang sebelumnya kita alami.

"Dengan penemuan-penemuan, seperti vaksin, bagaimana deteksi pasien, yang semua itu berdasarkan pada studi genomik," papar Prof Herawati.

Baca juga: Hadi Pranoto Tolak Bahas Pendidikan, Ketahui Etika Penelitian Ilmuwan

Tantangan ilmuwan Indonesia

Hoaks, infodemik Covid-19, klaim-klaim yang tidak berdasarkan studi ilmiah hingga teori konspirasi yang tumbuh subur sejak pandemi virus corona adalah tantangan bagi para ilmuwan, peneliti dan komunitas ilmiah Indonesia.

"Ilmuwan harus bisa menjawab semua penyataan-pernyataan anti-sains dan non-ilmiah. Jadi mengenai virus ini, kita harus mengikuti kasus ini hari per hari," ungkap Prof Herawati.

Peneliti pun juga melakukan studi terhadap Covid-19 ini dari hari ke hari. Sebab, kata Prof Herawati, setiap hari ada kepustakaan baru yang harus dipelajari.

"Jadi kita tidak bisa lagi santai menghadapi virus corona, dan kita (ilmuwan) harus bisa menjawab semua pertanyaan mengenai hal ini," jelas dia.

Penulis: Holy Kartika Nurwigati SumartiningtyasEditor: Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Artikel Asli