Hindari Resesi, Singapura Longgarkan Kebijakan Moneter

CNN Indonesia Dipublikasikan 05.44, 14/10/2019 • CNN Indonesia

Bank sentral Singapura (MAS) melonggarkan kebijakan moneternya pada Senin (14/10). Pelonggaran yang dilakukan untuk pertama kalinya sejak 2016 itu dilakukan sebagai strategi untuk menghindari terjadinya resesi di tengah perang dagang AS-China.

Sebelumnya, resesi dapat diartikan sebagai kontraksi perekonomian yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut.

Dilansir dari AFP, Senin (14/10), kebijakan moneter Singapura tidak menggunakan suku bunga melainkan melalui pengelolaan nilai tukar.  Dalam hal ini, membiarkan kurs dolar Singapura menguat atau melemah terhadap sekeranjang mata uang mitra dagangnya merupakan cara yang bisa ditempuh.

Pelonggaran moneter dilakukan otoritas moneter dengan sedikit mengurangi laju apresiasi rentang nilai tukar mata uangnya.

Sebagai negara yang perekonomiannya mengandalkan ekspor, Singapura menjadi negara pertama di Asia yang terkena imbas perlambatan ekonomi global. Hal itu tercermin, dari pertumbuhan ekonomi dan ekspor yang lesu selama beberapa bulan terakhir.

Dalam laporan prediksi awal yang juga dirilis hari ini, perekonomian Singapura pada kuartal III  berhasil menghindari resesi dengan tumbuh 0,6 persen secara kuartalan. Angka ini membaik dibandingkan kuartal II lalu di mana ekonomi Singapura merosot 2,7 persen.

Sektor manufaktur yang menjadi pilar perekonomian Singapura juga merosot 3,5 persen, lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal sebelumnya yang sebesar 3,3 persen.

Ekonom CIMB Private Banking Song Seng Wun mengungkapkan dengan terhindarnya perekonomian dari resesi, otoritas moneter menilai sedikit pelonggaran kebijakan sudah cukup. Bank sentral juga berharap pertumbuhan ekonomi pada 2020 lebih baik dari tahun ini.

Terlebih, AS-China telah menyepakati sebagian perjanjian untuk menyelesaikan perang dagang antara dua perekonomian terbesar itu.

"Mungkin kesepakatan AS-China fase satu menambah sedikit harapan untuk 2020," ujarnya.

Artikel Asli