High School Love Story - Part 5

Storial.co Dipublikasikan 03.31, 03/07 • Mizan Media Utama
Part 5

Kau menghilang tanpa kata setelah menghancurkan tembok yang sudah kita bangun bersama, lalu sekarang datang dan memintaku untuk membangunnya lagi? Maaf saja, aku tidak ingin membuang tenagaku sia-sia.

***

Sania mematung beberapa detik. Menatap tak percaya Rey yang kini sudah duduk di sampingnya. Tanpa sadar, dia menahan napas saat matanya bertemu dengan mata tajam milik Rey. Tatapan Rey seakan berbicara bahwa dia merindukan cewek itu.

“Apa kabar?” tanya Rey menyunggingkan senyum. Dia memperhatikan setiap lekuk wajah Sania yang sudah banyak berubah. Terlalu sempurna bagi Rey, hingga dia jatuh cinta untuk kali kedua.

“Ck,” Sania mendecak memandang ke arah luar jendela. Susah payah dia menahan air matanya agar tidak keluar di depan cowok itu. Sania tidak ingin terperangkap lagi. Jangan sampai dia jatuh ke lubang yang sama untuk kali kedua.

“Makud lo, apa gue baik-baik aja setelah lo pergi tanpa kabar?” Dalam sekejap pertanyaan Sania mampu membuat Rey mendadak bisu. Rey sadar, luka yang dia goreskan di hati Sania terlalu dalam hingga untuk menatapnya saja Sania enggan. Rey tersenyum miris bertanya pada dirinya sendiri, apa itu pantas dilakukan seorang cowok sejati? Andai saja penyesalan tidak datang terlambat, semua ini tidak akan terjadi.

Sunyi, hawa dingin menyelimuti meja nomor tiga yang berbanding terbalik dengan kondisi meja di sebelahnya yang begitu ribut dan berisik.

“Gue harap lo baik-baik aja,” ucap Rey setelah terdiam beberapa menit.

“Kok, jadi kaku gini, sih? Nggak asyik banget!” Tari berusaha mencairkan suasana.

“Rey, ceritain dong lo ngapain aja di Amerika.”

“Makan.” Mata Rey masih belum mampu beralih. “Minum.” Masih terpaku pada keindahan wajah Sania. “Terus tidur,” lanjutnya, lalu melirik Tari.

“Lah, gitu doang?” Tari memasang muka kesal.

Mukanya doang yang berubah, tapi sifat sih, nggak! omel Tari dalam hati.

“Terus, lo maunya gue ngapain?” Rey mengangkat tangannya, memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Yang lain kek, contohnya mikirin Sania gitu.”

“Itu sih, tiap hari.”

Meskipun fokusnya masih pada jendela kedai, tapi pendengaran Sania masih berfungsi dengan normal. Sania dapat mendengar dengan jelas percakapan Rey dan Tari yang hampir membuatnya tersedak.

“Permisi.” Dengan senyum profesionalnya, seorang pelayan menggunakan kaus bergambar cangkir kopi di bajunya meletakkan tiga lembar kertas menu di atas meja.

“Mau pesen apa Mas, Mbak?” Si pelayan siap dengan pulpen dan kertas di tangannya.

“Kopi hitam,” ucap mereka bersamaan. Rey mengernyitkan kening. Setahunya, Sania sangat membenci sesuatu yang pahit. Apa selama dia pergi, Sania berubah menjadi orang yang berbeda?

Ingin sekali rasanya Sania menghilang dari tempat itu sekarang juga. Malu? Tentu saja. Sebelum Rey pergi, hal yang paling Sania benci adalah kopi hitam, kesukaan mantan kekasihnya itu. Sangat aneh jika sekarang dia memesan kopi hitam di depan Rey. Jangan salah, Sania tidak berbohong kalau dia menyukai kopi hitam sekarang. Semenjak Rey pergi, kopi hitam selalu menemaninya untuk sekadar menghilangkan rasa rindunya pada Rey.

“Ehem,” deham Tari dengan senyuman jailnya dan menatap Rey serta Sania bergantian, lalu terkekeh karena wajah Sania yang memerah.

“Cappuccino dingin Mas, terus pancake cokelat keju satu.” Tari beralih pada Sania dan Rey yang seperti orang tidak saling mengenal. “Lo berdua nggak pesan yang lain?”

“Nggak,” lagi-lagi bersamaan.

“Ngomong aja sampai kompakan gitu. Jodoh memang nggak ke mana. Auchh!” Tari meringis karena kakinya yang diinjak Sania di bawah sana.

“Sakit tahu!” Dia memekik dengan suara cempreng yang khas dari seorang Meidina Lestari.

Sudut mata Sania tidak sengaja menangkap wajah Rey yang tersenyum pada pelayan tadi. Debaran di hatinya masih ada, walau bercampur dengan rasa sakit yang terlalu perih.

“Uwo uwooo … reuni sepasang kekasih? Kok, nggak ngajak-ngajak?” Adit tiba-tiba datang dengan berteriak-teriak rusuh. Rey berdiri dari duduknya, lalu memeluk Adit ala cowok.

“Woahhh!” Adit menatap tak percaya Rey dari ujung kaki sampai kepala. “Lo makin maknyos aja, Bro!” ucap Adit geleng-geleng lebay.

Rey terbahak, lalu meninju lengan Adit pelan. “Cilok Bang Eman kali, maknyos.”

“Eh, masih inget Bang Eman? Dulu kan sering bolos di belakang gerobak cilok dia,” cerocos Adit mengingat kelakuan jahiliah masa SMP mereka dulu.

“Adit, lo ganggu banget sumpah,” Tari memotong pembicaraan dua sejoli tukang bikin onar di zaman SMP dulu.

Adit menengok ke samping mendapati Tari yang memanyunkan bibirnya kesal. “Uuuu, Sayang my baby unyu-unyu marah.” Adit seperti melupakan keberadaan Rey. Dia langsung sibuk karena pacarnya yang lagi ngambek. Iya, Adit tuh pacarnya Tari. Mereka pasangan dari SMP. Pasangan paling langgeng deh pokoknya.

“San,” Rey memanggil Sania, dia masih tetap berdiri.

“Apa?”

“Ikut gue sebentar.”

Mereka pindah ke tempat duduk paling pojok yang lumayan jauh dari kerumunan anak-anak lain. Mereka berusaha saling menyelami pikiran masing-masing. Mencari sepatah dua patah kata yang akan diucapkan. Namun, setelah beberapa menit berlalu, hanya tatapan mata yang berbicara.

Rey menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “San … gue, minta maaf.” Tatapannya sendu berbanding terbalik dengan Sania yang menatap dingin. Seolah-olah Rey adalah makhluk paling jahat di dunia.

Sania membasahi bibir, lalu merogoh sesuatu dari tas kecil yang dibawanya. “Gue mau balikin ini.” Kalung dengan liontin huruf “S” yang bersambung dengan “R” itu kini berada di hadapan Rey. Benda itu mengingatkannya pada hari dia dan Sania resmi menjadi sepasang kekasih.

“San, gue mau ulang semuanya dari awal.”

“Sori, perasaan gue ke lo udah nggak ada lagi,” Sania berusaha berbicara setenang mungkin. Semoga saja Rey tidak menyadari kebohongan yang diucapkannya tadi.

“Bohong, mata lo nggak bisa bohongin gue.” Rey menggenggam tangan Sania.

Sania menyipitkan mata. Kemudian, dia menarik tangannya, melepaskan genggaman tangan Rey. “Perlu lo inget, gue bukan Sania yang dulu lagi, Sania yang bego dan gampang kemakan omongan busuk lo.” Sania berdiri memperbaiki letak tas kecilnya, kemudian berlalu pergi.

***

Seperti rencananya semalam, Devan berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Pagi ini dia mau menginterogasi Sania yang tidak mengabarinya selepas dia mengantar Sania reuni kemarin. Tepat saat Devan memasuki kelas, Kevin, Bombom, dan Dahlia langsung mencegatnya.

“Dev, lihat PR dong!”

“Ehhh, nanti, nanti, gue lagi sibuk.” Devan melengos melewati tiga anak itu. Lalu, berteriak-teriak memanggil Sania yang lagi sibuk menyalin PR.

“Sania,” Devan menggeram karena Sania tidak mengacuhkannya. “Sania Islami, sejak kapan lo jadi tuli gini?”

Setelah menyelesaikan PR-nya, Sania melirik Devan yang kini sudah duduk di sampingnya dengan muka jengkel. Kedua alisnya bertaut hampir menyambung. “Kenapa tadi manggil gue?”

“Tahu ah!”

“Baperan lo.”

Tangan Sania menahan pergelangan Devan saat cowok itu berdiri dan hendak pergi. “Lo marah kenapa?” Sania mendongak, memperhatikan wajah Devan yang tertekuk dari arah bawah.

“Nggak,” suara Devan terdengar dingin dan cuek. Ini tandanya kalau dia benar-benar marah.

“Serius, Dev?”

Devan menunduk, menangkup wajah Sania, lalu sedikit mengangkatnya sampai wajah mereka tepat berhadapan. “Lo nggak tahu seberapa khawatirnya gue kemarin. Seenggaknya lo ngasih kabar San. Lo nggak bales chat gue. Lo nggak angkat telepon gue. Lo ….” Hampir saja jantung Devan copot karena Sania yang tiba-tiba ikut memegang kedua pipi Devan. “Sori, kemarin gue lagi pengin sendiri aja.”

Gumpalan kertas sukses mendarat dengan mulus di kepala Devan. “Masih pagi woi! Pagi-pagi bikin baper rakyat jomlo aja!” Devan mendengkus, lalu memungut kertas yang mengenai kepalanya tadi. Kemudian, dia melemparkannya kembali ke arah Dito. Sayang lemparan Devan memeleset karena jarak meja Devan dan Dito terlalu jauh.

Bibir Dito menyeringai karena gumpalan kertas yang di lempar Devan mengenai bibir Pak Hasan yang tiba-tiba sudah masuk ke kelas.

“Lah, Pak Hasan ngapain ke kelas?” bisik Sania pada Devan. Belum juga upacara, masa udah mau mulai belajar? Devan mengedikkan bahunya.

“Sania Pak.” Tangan Devan menunjuk-nunjuk ke arah Sania saat Pak Hasan memelotot padanya.

“Lah, kok gue? Devan tuh, Pak!”

“Sudah, sudah, Devan, Sania duduk.”

Selalu saja jika Devan yang melakukan kesalahan, semuanya seakan dilupakan dan dibiarkan begitu saja oleh Pak Hasan.

Sania mencibir kesal. Hanya karena Devan selalu mendapatkan nilai sempurna saat ulangan, jadi dia bisa melakukan apa pun semaunya.

“Anak-anak hari ini kalian dapat teman baru. Ada anak pindahan dari sekolah lain yang akan masuk ke kelas ini.”

Belum selesai Pak Hasan ngomong, kelas sudah berubah menjadi riuh. Siswa bergembira karena ada kemungkinan mereka tidak belajar. Tentu saja jika ada siswa baru, pasti akan ada acara perkenalan yang akan memakan waktu jam pelajaran Matematika nanti.

“Diam, diam!” Pak Hasan memukul meja di depannya dengan penggaris kayu.

“Kalian bersihkan kelas, bersikaplah baik kepada anak itu nanti. Dia adalah anak dari donatur terbesar sekolah ini, jadi jangan membuatnya merasa tidak betah di kelas ini.”

“Pak.” Loli mengangkat tangan dengan wajah berbinar.

“Iya Loli?”

“Murid barunya cewek atau cowok?”

“Anaknya laki-laki.”

Seketika siswa cewek ber-yes ria dan ber-highfive bareng teman sebangku masing masing, tentu saja kecuali Sania karena dia duduk dengan Devan. Sania juga tidak terlalu tertarik dengan anak baru yang namanya saja belum dia tahu.

Artikel Asli