Heboh Gubernur Sumbar Minta Kominfo Hapus Aplikasi Kitab Suci Bahasa Minang

Trending Now! Dipublikasikan 03.23, 05/06
Source: wikipedia.org
Source: wikipedia.org

Warganet tengah ramai membahas mengenai Bahasa Minang hingga menjadi trending topic di Twitter pagi hari ini, Jumat (5/6). Tren ini dipicu oleh Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, yang dikabarkan telah meminta pihak Kemenkominfo menghapus aplikasi Alkitab berbahasa Minang. 

Irwan mengirimkan surat pada Menkominfo Johnny G. Plate pada Kamis (28/5) atas pertimbangan pendekatan budaya masyarakat Sumatera Barat. "Kan di Sumatera Barat, kita tahu juga di sini ada budaya. Jadi memang kultur Islam lebih dekat dengan Sumbar," jelas Plt Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar, Zardi Syahrir.

Zardi menambahkan bahwa aplikasi itu telah menimbulkan keresahan antara masyarakat Minangkabau. "Aplikasi tersebut sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah 'Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah'," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang yang juga guru besar UIN Imam Bonjol Padang, Duski Samad mengatakan, surat itu merupakan aspirasi pimpinan ormas Islam di Sumbar. MUI Kota Padang bersama pimpinan Ormas Islam lainnya sebelumnya telah mendesak Gubernur Sumbar mengambil langkah agar aplikasi itu dihapus.

“Kita juga berharap pada pemeluk agama lain, jangan mengungkit hal-hal yang sudah final, bahwa Islam di Minangkabau itu melekat dengan budayanya,” ujar Duski seperti dilansir dari Padangkita.com.

Perlu diketahui, menurut Badan Pusat Statistik, sebanyak 97,4% masyarakat Minangkabau beragama Islam. Ada 1,43% beragama Kristen dan kurang dari 1% merupakan umat Katolik.

Atas permintaan tersebut, aplikasi kitab suci itu sudah tidak ada lagi di Google Playstore. 

Seperti topik lainnya, langkah Gubernur Sumbar dan Kementerian Kominfo itu juga menuai pro dan kontra. Mereka yang tak sependapat memprotes kebijakan itu. Banyak yang menilai bahwa bahasa Minang tidak dimiliki satu agama saja, bahkan sudah ada sebelum agama dianut secara luas di Sumatera Barat.