Haru! Rela Gendong Siswanya yang Patah Tulang, Guru Asal Sulawesi Tengah Ini Berkorban Demi Muridnya Agar Tetap Bisa Belajar di Sekolah

grid.ID Dipublikasikan 05.55, 19/09/2019 • Siti Maesaroh
Guru di Sulawesi Tengah gendong muridnya yang alami patah tulang

Laporan Wartawan Grid.ID, Siti Maesaroh

Grid.ID - Kisah haru dan keikhlasan hati kembali ditunjukkan oleh seorang guru asal Morowali, Sulawesi Tengah.

Tak hanya berjuang membagikan ilmu kepada murid-muridnya, ia bahkan rela menjemput dan menggendong siswanya ke sekolah.

Kisah pengorbanan guru itu viral usai dibagikan oleh akun Instagram @makassar_iinfo pada Kamis (18/9/2019).

Guru baik hati tersebut diketahui bernama Mukim.

Ia merupakan salah satu guru yang mengabdikan dirinya di desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat.

Ia mengajar di SMP Negeri 4 Bungku.

Setiap hari dengan senang hati dan tanpa paksaan, Mukim rela menjemput murid didiknya itu karena mengalami patah tulang.

Kegiatan menjemput siswanya itu bahkan sudah dilakukan rutin hampir selama dua pekan lebih.

Mukim selalu menggendong siswanya dari pintu gerbang menuju ruang kelas dengan jarak 80 meter.

Pak mungkin bahkan kembali mengantar siswa itu saat pulang sekolah sampai ke rumah.

Siswa yang digendong Mukim diketahui bernama Mohamad Agil.

Ia mengalami patah tulang usai terjatuh dari pohon kelapa.

Kejadian itu terjadi menjelang hari raya Idhul Adha lalu.

Dalam unggah itu tampak beberapa foto Mukim dan Agil yang sedang digendong dengan raut wajah tersenyum dan tulus.

Sementara itu, kejadian dedikasi seorang guru demi muridnya juga pernah terjadi di Dusun Tanjung Rejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo.

Melansir dari Kompas.com pada 7 November 2013 silam, guru SLB selalu mengantar jemput para siswanya agar mau sekolah.

Salah satu guru, Dian Oktasari (24), membeberkan alasan dari rutinitas antar jemput yang dilakukannya bersama rekan pengajar lain.

"Kalau tidak diantar jemput, mereka tidak akan berangkat sekolah karena ada orangtuanya enggak ada kendaraan, yatim piatu, broken home sehingga enggak ada yang jemput.

"Ada 9 siswa yang kami bagi empat untuk antar jemput.

"Setiap berangkat sekolah kami hampiri, pulangnya ya kami antar," ujar Dian dikutip dari Kompas.

Dian mengaku ikhlas dan tanpa paksaan melakukan hal itu.

"Kalau dibilang capek ya capek, tapi sudah menjadi tanggung jawab kami untuk mengajar mereka.

"Mereka juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan," ujar Dian.

(*)

Artikel Asli