Harga emas anjlok dan kian menjauh dari rekor tertinggi baru, ada apa?

Kontan.co.id Dipublikasikan 16.07, 07/08 • SS. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Reli harga emas yang memecahkan rekor berhenti pada Jumat (7/8), karena dolar Amerika Serikat (AS) mendapat dukungan dari investor yang mencari lindung nilai terhadap pertengkaran AS-China.

Tetapi, kekhawatiran atas pandemi virus corona yang memburuk membuat harga emas tetap di jalurnya untuk kenaikan mingguan tertinggi dalam satu dekade terakhir dan sembilan pekan berturut-turut.

Melansir data Bloomberg, harga emas spot merosot 1,71% pada pukul 22.50 WIB menjadi US$ 2.028,32 per ons troi, setelah mencapai rekor tertinggi baru di posisi US$ 2.072,50 pada awal perdagangan Jumat (7/8). 

Sementara harga emas berjangka AS melorot 1,39% ke level US$ 2.040,60.

Baca Juga: Harga emas masih berkilau, ini 5 keuntungan investasi emas

"Ada kenaikan dollar AS dalam 24 jam terakhir, dan itu adalah kunci untuk aksi ambil untung yang kita lihat pada emas," kata Analis OANDA Craig Erlam kepada Reuters.

Namun, Erlam mengatakan, momentum masih sangat kuat dengan kenaikan dan menembus US$ 2.100 untuk harga emas kemungkinan besar dalam waktu dekat.

Dollar AS rebound dari level terendah dalam dua tahun terakhir karena keputusan Presiden AS Donald Trump melarang transaksi orang Amerika dengan dua aplikasi asal Cina yang populer, WeChat dan TikTok, menekan sentimen risiko.

Mata uang negeri uak Sam dalam banyak hal telah menjadi tempat perlindungan yang investor sukai selama ketegangan yang meningkat antara Washington dan Beijing.

"Kinerja dollar AS memiliki suara besar tentang berapa banyak kenaikan harga emas sebagai landasan pacu selaras," ujar Analis Pasar FXTM Han Tan kepada Reuters.

Baca Juga: Meroket, harga emas Antam bertambah Rp 11.000 ke Rp 1.065.000 per gram di Jumat (7/8)

Harga emas telah menanjak 35% tahun ini di tengah lonjakan kasus virus corona yang telah memukul ekonomi dan mendorong langkah-langkah stimulus global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Harus ada perubahan paradigma dalam pandangan untuk kebijakan moneter global dan ekonomi dunia, sebelum mempertimbangkan apakah lonjakan harga emas telah berjalan dengan sendirinya," tambah Tan.

Artikel Asli