Hantu di Rumah Dinas Majalengka, Jawa Barat

kumparan Dipublikasikan 07.15, 13/08 • BriiStory
Ilustrasi rumah angker. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Ini adalah kisah cerita tentang rumah angker di Majalengka. Cerita yang cukup panjang, semoga gak jadi membosankan.

Satu dari beberapa pengalaman yang membuat gw sedikit trauma. Jadi tolong jangan baca sendirian..

***

Masa kuliah dulu gw punya satu teman dekat perempuan, namanya Dian. Yaaahh bisa disebut pacar kali ya.

Tahun 2007, Dian tinggal dan kuliah di Bandung juga, kami beda kampus tapi satu angkatan. Ayah Dian pejabat di suatu Bank Daerah.

Sebagai pejabat tinggi, Ayah Dian selalu berpindah-pindah tempat kerja, tentu saja rumah dinasnya juga ikut pindah.

Nah, waktu itu beliau baru saja mendapat tugas baru untuk memimpin salah satu kantor cabang dari Bank itu, cabang di kota Majalengka.

Majalengka adalah kota kecil yang terletak di timur Jawa Barat. Bukan kota yang dilalui oleh jalur utama lintas Jawa, jadi cukup sepi kotanya.

Sebagai pacar yang sudah lama kenal dengan keluarga Dian, mau gak mau gw harus ikut membantu pindahan rumah dari rumah dinas lama, ke rumah dinas baru di Majalengka.

***

Gw masih ingat, waktu itu hari kamis, bertiga kami berangkat dari Bandung ke Majalengka, menggunakan mobil pribadi.

Kenapa bertiga? Karna adik perempuan Dian ikut juga, Ira namanya.

Duduk di belakang kemudi, gw mengarahkan mobil ke Majalengka melalui jalur Sumedang-Jatiwangi.

Gw cukup suka jalur ini, karena di beberapa wilayah masih ditemui pepohonan jati di kanan kiri jalan, bisa dibilang hutan kecil.

Singkat cerita, sekitar jam lima sore kami sampai di Majalengka. Kota yang cukup bersih dan rapi.

Yang menarik perhatian adalah suasana lengangnya kota, masih sore tapi sudah sepi.

Kami langsung menuju alamat rumah, gak memakan waktu lama kami pun sampai di tujuan.

Rumah besar dengan halaman sangat luas, berdiri kokoh dua pohon mangga yang rindang di dalam pagar. Bangunan arsitektur Belanda tetapi masih terlihat kokoh.

Kami parkir di car port sebelah kiri. Ada jalur mobil yang mengarah ke belakang lewat pintu samping. Gw menebak, garasi letaknya di belakang.

Sebelum masuk rumah gw sempatkan melihat-lihat sekitar. Depan pagar rumah ada trotoar yang berada di sisi jalan besar, tapi bukan jalan utama.

Angin sore itu berhembus sepoi-sepoi, meniup dedaunan pohon mangga di halaman rumah, membuatnya jadi bersuara.

Udara sore itu cukup sejuk, walau gak sedingin kota Bandung.

Gw coba susuri jalan kecil yang mengelilingi rumah melalui pintu samping, jalur ini cukup untuk dilalui satu mobil.

Benar dugaan gw, setelah sampai di halaman belakang ternyata memang ada garasi mobil yang besar.

Garasi dengan atap agak tinggi, tapi tanpa tembok di setiap sisinya, hanya ada empat tiang pancang yang menyangga atap, garasi terbuka istilahnya.

Tepat di tengah halaman, kembali gw melihat ada pohon mangga besar dan rindang, sedikit trauma kalau lihat pohon mangga, apalagi di rumah itu ada tiga.

Lama gw menatap garasi belakang, kondisinya gak terawat, debu tebal menyelimuti lantainya, terlihat kumuh. Perasaan gak enak melihatnya, ada yang aneh, auranya seram.

Lanjut berjalan melihat sekitar belakang rumah, gw menemukan hal yang lebih menarik perhatian.

Di paling pojok belakang bangunan, sebelah kanan, ada kamar mandi, kebetulan sudah gak tahan, gw masuk ke kamar mandi itu.

Kamar mandi ini kelihatannya jarang digunakan, daun kering bertebaran di lantainya,

Kamar mandi besar dengan desain model zaman dulu, batu-batu alam menempel pada dindingnya, bak mandi besar, dengan kloset model jongkok.

Sore sudah mulai gelap, penerangan kamar mandi hanya bersumber dari lampu bohlam lima watt, redup.

Setelah selesai, gw melangkah keluar.

Keanehan melihat rumah ini semakin bertambah, ketika di sebelah kamar mandi gw melihat sumur tua.

Hanya ada sumurnya aja, gak ada tali dan ember yang biasa digunakan untuk mengambil air dari dalam sumur.

Lumut tipis menyelimuti tembok sekeliling sumur.

Lubang sumur ditutup oleh papan yang tebal dan lebar.

Karena penasaran apakah masih ada air di dasar sumur, gw coba untuk memindahkan papan penutup.

Dengan sedikit menggesernya, sumur pun terbuka..

Gw bisa melihat ke dalamnya.

Nyamuk dan binatang kecil lainnya langsung berhamburan keluar.

Cukup lama gw menatap ke lubang sumur, hari sudah agak gelap menjelang malam, jadi agak susah untuk melihat dasarnya.

Ketika sedang fokus, tiba-tiba..

“Wuuuuussshhh….”,

Ada angin berhembus kencang dari dalam sumur, menerpa wajah..

Gw kaget, refleks langsung mundur menjauh.

"Barusan apaan..? Masa iya ada angin keluar dari dalam sumur?" Banyak tanya dalam hati.

Setelah sudah agak tenang, gw kembali mendekat ke sumur, menutup lubangnya dengan papan seperti semula..

Setelah itu gw masuk ke rumah lewat pintu belakang.

"Kenapa mukanya begitu? Kaya baru liat hantu.."

Tanya Dian melihat gw yang masih agak terlihat kebingungan.

"Gak, gak ada apa-apa .." Jawab gw.

Lalu gw dan keluarga berbincang di dalam rumah.

***

Barang-barang dan perabotan milik orang tua Dian sudah tiba satu hari sebelumnya, sudah diletakkan di tempatnya masing-masing, kami hanya tinggal merapihkannya saja.

Setelah berada di dalam rumah, barulah terlihat kalau itu adalah rumah yang besar. Arsitektur Belanda, langit-langit tinggi, tembok tebal.

Di dalam ada dua toilet, satu di kamar utama (kamar orang tua), satu lagi di sebelah dapur, di pojok paling belakang bangunan utama.

Satu toilet lagi berada di belakang rumah yang letaknya sebelah sumur tadi. Kalo gak sangat terpaksa, gw gak akan ke toilet itu lagi. Ngeri..

Tapi, nantinya pada tengah malam, gw dengan sangat terpaksa harus ke situ.

***

Setelah maghrib kami berkumpul di ruang tengah, berbincang kemudian lanjut makan malam.

Dari awal, gw memang merencanakan untuk menginap, kemudian pulang ke Bandung esok paginya.

Gw disediakan kamar paling depan, berjajar dengan ruang tamu, berbatasan langsung dengan halaman rumah.

Ortu Dian tidur di kamar utama, di sebelah kanan ruang keluarga.

Sedangkan Dian dan Ira di kamar yang berseberangan dengan kamar utama, di sebelah kiri ruang keluarga.

Belakangan, gw berniat untuk pulang malam itu juga, gw merasa kalau suasana rumah sangat gak enak, perasaan gw was-was. Gq sangat pingin pulang.

Tapi sayangnya, ortu Dian gak mengizinkan.

Ya sudah, gw ikut kemauan mereka. Toh hanya semalam, semoga gak terjadi apa-apa.

Tapi perasaan gw semakin kuat, kalau ada yang aneh dengan rumah ini..

***

Malam semakin larut, sekitar jam sepuluh kami masuk ke kamar masing-masing..

Di dalam kamar, gw hanya bisa melamun menunggu kantuk datang, gak ada yang bisa dilakukan karena hanya ada tempat tidur besar, meja kosong, dan lemari pakaian.

"Sepertinya malam ini akan panjang.." Gumam gw dalam hati.

Gw benar-benar gak bisa tidur, guling sana guling sini gak jelas, kantuk gak datang juga.

Gak terasa, jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, tetap gw belum tidur juga. Gelisah perasaan, semakin gak enak..

Kamar gw letaknya paling dekat dengan jalan raya di depan, tapi malam itu jalanan sangat sepi. Hanya sesekali terdengar suara motor melintas.

99% perasaan gw gak pernah salah. Ada yang aneh dengan rumah ini…

Makanya gw memutuskan untuk tidur dengan pakaian lengkap, kunci mobil dan dompet sudah berada di dalam saku celana, persiapan kalau tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi, tinggal kabur melarikan diri..

***

Benar seperti yang gw duga..

Perasaan semakin gak karuan ketika sayup-sayup terdengar suara bayi yang sedang tertawa kecil..

Iya., bayi..

Padahal gak ada bayi di rumah itu sejak gw datang..

Sumber suara dari ruang tamu yang letaknya persis di depan kamar.

Gw langsung duduk di pinggir tempat tidur, mencoba menajamkan pendengaran, apakah itu benar suara bayi?

Iya, ternyata itu benar suara tawa bayi, suaranya semakin lama semakin jelas..

Gak berani membuka pintu untuk memastikan, gw memilih diam di dalam kamar, mencoba mengabaikan. Tapi tetap aja gw ketakutan, pada titik ini teror baru saja dimulai.

Tapi lama kelamaan suara tawa bayi menghilang. Agak sedikit lega, tapi tetap gak bisa tidur..

Dan..

Sesuatu yang paling gak diharapkan terjadi, akhirnya terjadi juga,

Gw pingin buang air kecil.

Gak akan bisa kalau harus menahannya sampai pagi.

Akhirnya memutuskan untuk nekat keluar kamar, menuju toilet.

Perlahan gw membuka pintu kamar, karena masih was-was dengan suara bayi tadi.

Syukurlah, ternyata gak ada apa-apa , ruang tamu dalam keadaan kosong dan gelap.

Lalu lanjut berjalan ke arah toilet.

Gw memilih toilet di belakang rumah, yang bersebelahan dengan dapur.

Sesampainya di depan pintu toilet, gw mencoba untuk membukanya. Ternyata gak bisa, sepertinya terkunci dari dalam.

"Ah, mungkin ada orang di dalam.." Pikir gw dalam hati.

Karena sudah benar-benar gak tahan, gw berniat untuk ke toilet yang ada di halaman belakang, di sebelah sumur tua..

Sebenarnya gw sangat takut, tapi mau gimana lagi, terpaksa harus ke sana.

Ketika pintu belakang rumah terbuka, pandangan langsung tertuju ke garasi kosong yang ada di belakang. Pada detik itu gw gak melihat apa-apa, tapi indera gw yang lain bilang kalau di situ "ramai"..

***

Lalu gw berjalan di selasar belakang, melewati kamar pembantu yang masih kosong dan gelap..

Akhirnya gw melintas di depan sumur tua.

Ada yang aneh dengan sumur itu.

Papan penutup sudah berada di sisi, gak lagi menutup lubangnya. Padahal sore tadi gw tinggalkan dalam keadaan tertutup.

Tapi gak ambil pusing, gw lanjut ke toilet dulu karena sudah gak tahan lagi.

Setelah selesai, gw langsung keluar toilet.

Ketika pintu toilet terbuka, pandangan langsung menghadap ke garasi kosong dan gelap itu..

Gw diam..

Gw melihat sesuatu..

Pandangan gw menangkap satu objek yang berada di dalam gelapnya malam itu.

Gw melihat ada sosok berwarna putih kusam berdiri di pojok garasi, jantung berhenti saat itu..

Ada pocong di dalam garasi..

Pocong yang bentuknya tinggi besar, berdiri tegak di pojok garasi, gak jelas menghadap ke arah mana, karena gw gak berani melihat ke arah wajahnya.

Berdiri diam, hanya sesekali ada gerakan perlahan pada tubuhnya..

Lemas badan gw, tulang-tulang serasa lepas dari engselnya.

Gw paksa diri untuk berjalan menuju pintu belakang, menyeret kaki ke pintu. Gak berani lagi melirik garasi, tempat pocong itu berdiri..

***

Akhirnya berhasil masuk rumah, gw langsung mengunci pintu dan berjalan cepat menuju kamar.

Sesampainya di kamar, gw mengatur napas. Ingin rasanya pergi keluar rumah, lari ke tempat ramai, gw udah gak tahan..

Selanjutnya bisa ditebak, gw tetap gak bisa memejamkan mata.

Karena ternyata teror belum selesai..

***

Jarum jam sudah hampir ada di pukul dua..

Ketika sekali lagi, sayup-sayup gw mendengar tawa bayi dari ruang tamu.

Kali ini suaranya semakin lama semakin jelas..

Gw semakin ketakutan, semakin bertambah panik.

***

Seperti biasa, akhirnya rasa penasaran mengalahkan segalanya, gw berjalan menuju pintu, berniat untuk untuk mengintip ke luar, apa sebenarnya yang sedang berlangsung di ruang tamu.

Gw membuka pintu sedikit demi sedikit, sampai mata mendapat celah untuk mengintip.

Akhirnya gw dapat melihat ke ruang tengah, dalam remangnya cahaya gw dapat menyaksikan apa yang terjadi di situ.

Ternyata, di sofa ruang tamu ada sosok wanita berambut panjang, duduk dengan bayi kecil di pangkuannya. Wanita ini berpakaian terusan panjang berwarna gelap.

Sekali lagi, jantung seperti berhenti berdetak, badan gw lemas selemas-lemasnya.

Beberapa detik wajah kami saling bertatapan..

Perlahan gw menutup pintu, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Badan gw gemetar hebat, bulu kuduk berdiri semua.

Pikiran semrawut memikirkan apa yang harus gw lakukan, sementara tawa perempuan dan bayinya terus menerus terdengar..

Beberapa saat kemudian, gw mendengar langkah kaki dari balik pintu.

Langkah yang sepertinya datang dari bagian belakang rumah menuju ke ruang tamu, tempat perempuan memangku bayi berada.

Jadi ramai sekali kedengaranya, beberapa kali juga tawa bayi berganti dengan tangisan, terdengar juga suara perempuan yang mencoba menenangkan bayinya..

Gw semakin ketakutan, panik..

***

"Duk duk duk duk…."

Seperti itu kira-kira langkah kaki bersuara. Kadang terdengar tergesa, kadang terdengar santai.

Gq berdoa dan berharap semoga mereka tetap beraktifitas di luar kamar.

Semoga mereka gak mencoba masuk ke dalam kamar..

Sementara di dalam kamar, gw belingsatan dengan keringat dingin bercucuran.

Tiba-tiba gagang pintu bergerak-gerak sendiri, seperti ada yang mencoba membukanya.

Gw semakin panik, karena jarak pintu sangat dekat, hanya berjarak beberapa meter saja.

Sialnya, gw lupa mengunci pintu sedari awal.

Akhirnya, pintu terbuka secara perlahan, gw hanya menatap dalam diam, keringat dingin semakin deras mengucur..

Ketika pintu sudah terbuka cukup lebar, perlahan menyembul kepala perempuan barambut panjang dari balik pintu, dengan wajah yang tersenyum kecil..

Ingatan cuma sampai pada detik itu saja, selebihnya gw gak ingat apa-apa lagi.

Gw gak sadarkan diri, pingsan..

Baru sadar setelah Dian membangunkan untuk salat subuh..

Gw gak menceritakan kejadian baru saja gw alami malam itu kepada Dian dan keluarga.

***

Setelah salat Jumat, gw pulang ke Bandung sendirian. Sementara Dian dan Ira pulang pada hari minggu.

Belakangan, ternyata ayah Dian hanya bertahan satu bulan di rumah itu. Beliau meminta pindah dan dicarikan rumah dinas lain. Setelah itulah gw baru cerita tentang kejadian yang pernah gw alami.

Ternyata, orang tua Dian juga mengalami hal yang sama, diteror oleh "penghuni" rumah..

***

Sekian cerita kali ini..

Sampai jumpa pada pengalaman seram gw lainnya..

Salam..

~Brii~

Artikel Asli