Hantu Korban Tertabrak Kereta Api

kumparan Dipublikasikan 07.18, 13/08 • BriiStory

Malam ini gw akan cerita pengalaman waktu kecil, terjadi pada pertengahan tahun 90an, waktu itu gw masih kelas empat SD.

Walaupun peristiwanya sudah lama, tapi gw masih ingat detailnya.

***

Malam itu, sekitar jam satu tengah malam, gw terbangun oleh suara tante Erni yang memanggil-manggil dari depan pagar rumah, kamar gw memang letaknya paling depan, di belakang garasi, bersebelahan dengan ruang tamu,

Ada apa tante Erni datang malam-malam?

Gw langsung bergegas membuka pintu dan berjalan menuju pagar untuk membuka gembok, mempersilahkan tante erni dan Ika untuk masuk, Ika adalah anak pertama Tante erni, waktu itu umurnya baru sekitar empat tahun,

“Ada apa tan? Tumben malam-malam ke rumah?” Tanya gw penasaran.

“Gak ada apa-apa Brii, tante cuma mau tidur di rumah kamu malam ini,” begitu jawabnya,

Gak lama kemudian Ibu dan Bapak ikutan terbangun, keluar kamar untuk menemui mereka, gw yang masih ngantuk berat kembali masuk kamar.

Dari dalam kamar, terdengar obrolan Bapak, Ibu, dan tante Erni di ruang tamu. Tapi gw gak terlalu jelas mendengar pembicaraan mereka, mungkin karna sudah ngantuk berat.

Tapi yang pasti tante Erni bicara sambil menangis, saat itu gw gak tau kenapa tante Erni menangis,

***

Tante Erni adalah tante favorit gw, dia adik bapak yang nomor empat.

Sedari kecil, beliau lah yang mengurus gw dan kakak kalau orang tua sedang gak ada di rumah. Atau kalau kami sedang sakit, tante Erni juga yang merawat sampai sembuh, sudah seperti orang tua sendiri.

Perjalanan hidup tante Erni yang gw tahu dimulai sejak pernikahannya dengan om Juntak.

Layaknya pasangan baru menikah, waktu itu mereka belum memiliki rumah. keadaan mengharuskan mereka untuk mengontrak rumah sebagai tempat tinggal.

Seingat gw, beberapa kali mereka berpindah-pindah, sebelum akhirnya menempati rumah kontrakan yang letaknya dekat dengan rumah gw.

Nah, ketika tinggal di rumah inilah ketika tante Erni datang malam-malam datang ke rumah.

Letaknya di pinggir jalan raya yang cukup besar, Jalan raya Anyer tepatnya.

Sebelah kanan rumah, ada jalan tanah yang gak terlalu lebar, hanya satu mobil kecil yang dapat melaluinya. Nah, inilah jalan masuk menuju kampung yang ada di belakangnya, itulah kampung gw.

Rumah yang gw sekeluarga tempati terletak sekitar 500 meter dari jalan masuk.

Tepat di belakang rumah tante Erni ada rel kereta api, jalur perlintasan kereta yang masih tetap aktif sampai sekarang. Jarak antara pintu belakang dan rel kereta cukup dekat, sekitar empat meter, iya..dekat banget.

Kalau kereta lewat, getarannya sampai ke tulang sum-sum.

***

Pada waktu itu om Juntak (yang bekerja pada satu pabrik baja yang cukup terkenal) masih bekerja dengan sistem shift.

Jadi ketika beliau sedang dapat giliran shift malam, tante Erni hanya berdua dengan Ika di rumah, itu yang terkadang menjadi masalah.

Yang gw tau tante Erni itu perempuan pemberani, tapi entah kenapa sejak tinggal di kontrakan terakhir itu, dia selalu minta untuk ditemani ketika om Juntak sedang shift malam.

Seperti takut untuk tidur sendirian..

***

Kampung tempat gw lahir ini, sekitar 20 tahun yang lalu, masih sangat sepi.

Rumah kami letaknya hampir pada paling ujung kampung, setelah itu hanya ada kebun kelapa dan persawahan.

Tipikal daerah Banten, kampung ini juga sarat dengan hal-hal mistis.

Salah satu contohnya adalah santet, beberapa kali gw melihatnya berseliweran, dulu gw udah pernah bahas dan ceritakan tentang ini.

Atau beberapa kali ada anak kecil yang hilang pada waktu maghrib, membuat heboh se-isi kampung, lalu tiba-tiba beberapa jam kemudian si anak muncul. Katanya, anak itu diculik oleh kalong wewe.

Makanya, kalau sudah masuk waktu maghrib suasana kampung menjadi sepi.

***

Beberapa bulan sebelum kejadian tante Erni malam-malam datang, ada peristiwa yang menggegerkan se-isi kampung, bisa dibilang se-isi kota malah.

Ada orang tertabrak kereta. Terjadi di perlintasan yang letaknya persis dibelakang rumah tante Erni, korbannya laki-laki dewasa.

Yang cukup bikin heboh adalah detail Kejadiannya.

Sebelum tertabrak kereta, laki-laki itu sempat diteriaki oleh orang sekitar agar berhenti berjalan menyeberangi rel, karena ada kereta yang akan melintas.

Tetapi laki-laki itu seperti sama sekali gak mendengar teriakan-teriakan itu, tetap melangkahkan kakinya.

Beberapa detik kemudian, BAAMM!!

Lelaki malang itu tak terhindarkan dari maut, tertabrak kereta yang melintas, meninggal di tempat kejadian.

Ada peristiwa yang bikin geger pasca kejadian. Ternyata kepala korban terlepas dari badan, dan tidak ditemukan selama beberapa jam.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan kepalanya.

Peristiwa tertabraknya terjadi sekitar jam satu siang, warga baru menemukan kepalanya pada sore hari, menjelang maghrib.

Coba tebak di mana kepalanya ditemukan?

Ditemukan di atap rumah tante Erni.

Itulah kenapa cukup lama baru ditemukan, karena gak ada yang berpikir kalau kepala korban bisa terlempar dan nyangkut di atas atap.

***

Walau pun hanya bisa muat oleh satu mobil saja, jalan yang ada di sebelah rumah tante Erni memang cukup ramai untuk ukuran jalan kampung.

Banyak orang lalu lalang setiap harinya, yang otomatis harus juga menyeberang rel kereta api yang tanpa palang pintu dan petugas penjaga.

Iya., rel kereta api itu tanpa palang pintu dan gak ada petugas yang menjaganya, jadi setiap orang atau kendaraan akan melewatinya harus ekstra hati-hati.

Mungkin karena itulah setiap beberapa tahun sekali, selalu aja ada korban meninggal tertabrak kereta di tempat itu.

***

Pak Rusdi adalah seorang penjaga malam di kampung gw waktu itu, dia bertugas berkeliling kampung melaksanakan siskamling setiap malamnya,

Waktu itu umurnya sekitar 50 tahun.

Beliau orang yang menenangkan, sangat suka berbincang dengan para penduduk kampung.

Dia juga sering mampir ke rumah untuk sekadar ngobrol dengan Bapak, mereka biasa berbincang di teras teras depan.

Kebetulan, tepat di belakang teras itu adalah kamar gw, hanya terhalang tembok dan jendela yang sering dalam keadaan terbuka.

Hingga pada suatu malam ~gak lama setelah peristiwa ada orang yang tertabrak kereta~, pak Rusdi berbincang dengan Bapak di teras depan rumah.

Ada satu obrolan mereka yang sangat menarik perhatian gw, ketika pak Rusdi bilang:

“Pada tengah malam kemarin ketika siskamling, saya melihat ada orang berjalan kaki dari belakang kampung ke arah depan, menuju rel kereta.

Berjalan melewati pos kamling tempat saya duduk untuk beristirahat sebentar..”

“Loh., lalu apa yang aneh Pak?” Tanya Bapak penasaran..

Pak Rusdi menjawab, “Yang aneh adalah, orang itu berjalan kaki, tapi tanpa kepala..”

“Berjalan lewat persis depan saya, saya gak berani melakukan apa-apa, Cuma diam dan memperhatikan. Dan orang tanpa kepala itu berjalan menuju rel kereta api..” Lanjut pak Rusdi,

“Saya ketakutan, gemetar, sangat seram pemandangannya..”

“Terus Pak?” Bapak gw makin penasaran,

“Saya gak melakukan apa-apa, cuma bisa mengatur napas setelah kaget dengan peristiwa yang baru aja terjadi. Saya hanya tetap duduk di pos kamling .” jelas pak Rusdi.

Pos kamling tempat pak Rusdi duduk beristirahat letaknya di samping kanan rumah gw, bangunan semi permanen berbentuk rumah panggung kecil berbahan dasar bambu dan anyamannya.

“Tapi itu ternyata belum selesai Pak..” lanjut Pak Rusdi,

Cerita Pak Rusdi membuat gw semakin mendekatkan telinga ke jendela, agar lebih jelas mendengarkan.

Berdegup kencang jantung gw mendengarnya..

Pak Rusdi melanjutkan cerita:

“Setelah itu, sekitar 30 menit kemudian, suasana yang sudah hening dan sepi tiba-tiba jadi bertambah sepi dan mencekam..”

“Angin dingin mulai bertiup pelan. Badan saya tiba-tiba merinding lagi, bulu kuduk berdiri..”

“Yang biasanya sesekali saya melihat ada warga kampung yang melintas, kali ini gak ada sama sekali, benar-benar sepi dan kosong. Seperti kampung yang gak berpenghuni..”

"Perasaan saya mengatakan, kalau sebentar lagi akan ada sesuatu yang akan terjadi.."

“Perasaan jadi semakin gak enak. Padahal rasa takut ketika melihat ada orang berjalan tanpa kepala sebelumnya masih terasa, saya masih syok..”

“Dan benar saja, dalam suasana yang semakin mencekam itu saya melihat sesuatu dari kejauhan. Sesuatu yang berbentuk manusia, berjalan dari arah rel kereta, menuju pos kamling tempat saya duduk.”

“Orang itu berjalan perlahan. Yang tadinya hanya terlihat berbentuk bayangan hitam dari kejauhan, lambat laun semakin terlihat jelas, karena jaraknya semakin dekat dengan tempat saya duduk.”

“Ketika sudah cukup dekat jarak kami, barulah terlihat cukup jelas penampilan orang itu.

Ternyata orang yang sama dengan yang saya lihat beberapa saat sebelumnya. Dengan tampilan yang sama, sangat menyeramkan."

"Kali kedua ini pun orang ini tetap berjalan tanpa kepala. Lehernya terlihat ada cucuran darah mengalir, membasahi pakaian yang masih menempel pada tubuhnya.”

“Ketika sudah benar-benar melintas tepat di hadapan, saya melihat dia membawa sesuatu di tangan kanannya..”

Pak Rusdi menghentikan sejenak bercerita, dan menghela napas cukup panjang.

“Dia membawa apa di tangan kanannya Pak?” tanya Bapak penasaran.

Gw yang tetap mendengarkan dari balik jendela juga ikut makin penasaran.

Pak Rusdi melanjutkan ceritanya, “Dia membawa seonggok kepala, saya berkesimpulan itu adalah kepalanya sendiri.” Suara pak Rusdi terdengar gemetar.

***

Itulah pertama kalinya gw mendengar cerita tentang hantu tanpa kepala, dari narasumbernya langsung.

Hari-hari berikutnya, cerita itu cepat tersebar ke seluruh penjuru kampung, membuat banyak penduduk gak berani keluar kalau hari sudah gelap.

Apalagi untuk berjalan melewati perlintasan rel kereta api pada malam hari, gak ada yang berani, kecuali kalau terpaksa.

***

Sore itu Gw dan kakak sedang duduk depan tv, ketika Tante Erni datang ke rumah.

“Kak., kalo boleh nanti malam Cici atau Brii menginap di rumah aku ya, Kak Juntak kerja malam.” Begitu kira-kira omongan Tante Erni kepada Ibu.

Kakak langsung bilang, “Brii aja ya Tan, aku ada ulangan besok pagi”,

Dan gw pun ga bisa mengelak, dengan berat hati..

Sebelumnya gw belum pernah bermalam di rumah tante Erni sendirian, biasanya ditemani kakak. Kalau Kakak, sudah pernah sendirian, beberapa kali malah.

“Nanti di rumah tante Erni, jangan tidur malam-malam ya Brii. Usahakan jam sembilan sudah tidur..”, Kakak tiba-tiba bicara seperti itu kepada gw, dengan setengah berbisik.

“Emang kenapa Kak?”, Tanya gw penasaran,

“Udah nurut aja, pokoknya jangan tidur terlalu malam..” Begitu kata Kakak sambil menutup pembicaraan.

Gw masih penasaran, karena Kakak serius bicaranya, jarang-jarang dia seperti itu.

***

Selesai makan dan mengerjakan PR, Sekitar jam delapan malam gw siap berangkat. Bapak, Ibu, dan Kakak sedang berkumpul di depan tv.

“Ma, Pa.., Brii berangkat ke tante Erni ya”, gw pamit.

Bapak wanti-wanti agar gw hati-hati ketika menyeberang rel kereta, pastikan sedang gak ada kereta yang melintas.

Ibu hanya berpesan agar jangan tidur malam-malam, karena besok pagi gw harus sekolah.

Kakak? Dia bilang begini, “Jangan tidur larut malam, jam sembilan harus sudah tidur. Kalau bisa jangan tidur di kamar belakang..”

“Ah ada apa sih Kakak kaya gitu.” Gumam gw dalam hati..

Gw berangkat.

***

Tante Erni membuka pintu ketika gw mengetuk pintu rumahnya, lalu mempersilahkan masuk.

Rumah tante Erni ini adalah rumah petak yang memanjang, gak terlalu besar.

Paling depan ada ruang tamu, terdapat sofa dan meja segi empat di tengahnya, ada tv juga di ujung ruangan.

Ada lorong panjang pada sisi rumah, di sebelah kanan terletak dua kamar yang bersebelahan, kamar depan dan kamar belakang.

Hanya ada dua kamar itu saja di dalam rumah.

Di belakang ada dapur dan kamar mandi.

Di paling ujung ada pintu belakang yang apabila kita membukanya langsung berhadapan dengan rel perlintasan kereta, hanya berjarak sekitar empat meter.

“Brii, tidur di kamar depan aja ya, sudah tante beresin tuh. Biar tante sama Ika tidur di kamar belakang.” begitu kata Tante Erni.

“Iya tante..”

Kebetulan, gumam gw dalam hati. Gw ingat omongan kakak, dia bilang kalo bisa jangan tidur di kamar belakang.

***

Setelah selesai nonton tv dan mulai mengantuk, sekitar jam setengah sepuluh malam gw masuk kamar, sementara tante Erni dan Ika sudah masuk ke kamar belakang lebih dulu.

Lampu ruang tamu gw biarkan menyala, karena tante Erni berpesan agar lampu jangan dimatikan.

Di kamar, gw menggunakan lampu kecil, lampu besar dalam keadaan mati, suasana jadi sedikit redup. Pintu gw tutup, tapi gak terkunci.

Suasana malam itu awalnya biasa aja, gw gak merasakan ada hal-hal aneh yang mengganggu, kecuali suara kendaraan yang kadang melintas di depan rumah.

Oh iya, kereta yang terakhir adalah kereta jam 10 malam, setelah itu sudah gak ada lagi, baru kemudian melintas lagi jam lima pagi.

Sehingga, setelah jam sepuluh malam suasana jadi benar-benar sepi dan hening.

Kamar berukuran kira-kira 3x4 meter itu gak berjendela, di dalamnya hanya ada kipas angin, meja, lemari, dan tempat tidur.

Hp belum ada, tv gak ada, Gw hanya bisa melamun menunggu terlelap.

Sambil terbaring di tempat tidur, iseng menghitung jumlah plafon motif bunga yang ada di langit-langit.

Sesekali terlihat cicak di tembok yang kadang diam, kadang berkejaran.

Semua dilakukan sambil menunggu kantuk datang.

Goyang-goyang kaki, guling sana guling sini..

***

Jarum pada jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit, gw masih juga belum terlelap.

Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di jalan depan rumah, jalan yang memang tergolong jalan besar, yaitu jalan raya Anyer..

Cukup lama bengong dan melamun gak jelas seperti itu, sampai suatu saat di mana keadaan berangsur berubah.

Tiba-tiba suasana menjadi sangat sepi, gak terdengar suara sedikit pun.

Udara kota Cilegon yang cukup panas dan gerah, tiba-tiba berangsur jadi sedikit sejuk dan dingin. Ada tiupan angin semilir yang mengalir masuk melalui lubang angin di atas pintu.

Suasana itu membuat gw jadi merasakan kantuk yang teramat sangat..

Akhirnya gw terlelap..

***

"Gludukkk…gluduk…gluduk…"

Tiba-tiba gw terbangun, karena mendengar ada suara yang cukup mengganggu..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…" Suara itu terdengar lagi..

Duduk di pinggir dipan tempat tidur, gw mencoba mengumpulkan nyawa, coba menyadarkan diri sepenuhnya.

Melihat ke arah jam dinding, jarumnya sudah di angka satu. Jam satu tengah malam, lewat sedikit.

Ngucek-ngucek mata..

Suara yang terdengar mengganggu itu tiba-tiba hilang. Gw yakin kalau suara itu bersumber dari luar kamar, tapi masih di dalam rumah.

Pada saat itu gw masih belum yakin itu suara apa, karena suaranya sudah keburu menghilang.

Kembali gw rebahkan badan di atas tempat tidur, mencoba kembali tidur..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…"

Tiba-tiba suara itu muncul lagi..

Suaranya terdengar jelas, gw tambah yakin suara itu bersumber dari luar kamar..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…"

Gw langsung bangun dan duduk, mencoba menajamkan pendengaran.

Kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu kamar, maksud hati ingin memastikan suara apakah itu kira-kira..

Ketika sudah cukup dekat, gw mendekatkan telinga ke daun pintu..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…"

Terdengar lagi, kali ini gw tambah yakin kalau suara itu bersumber dari lorong depan kamar, lorong memanjang dari depan sampai belakang.

Hanya saja, gw belum tahu benda apa yang menghasilkan suara itu..

Terdengar seperti suara dari benda yang menggelinding di atas lantai rumah, menggelinding dari depan ke arah belakang, kemudian sebaliknya kembali menggelinding dari belakang ke depan.

Sempat berpikir kalau itu adalah Ika yang sedang bermain bola di luar kamar. Tapi gak mungkin, karna gw gak mendengar ada suara Ika sama sekali, dan gak mungkin juga Ika bermain bola pada tengah malam seperti itu.

Suara itu gak selalu terdengar, hanya sesekali saja, kira-kira di rentang waktu lima sampai sepuluh menit.

Penasaran, gw berniat untuk membuka pintu kamar dan melihat ke luar..

Sambil memegang gagang pintu dan memutarnya, perlahan gw membukanya.

Gak berani langsung membuka lebar-lebar, hanya ingin membuat celah sedikit cukup untuk mengintip.

Setelah cukup ada sedikit celah, gw mengintip keluar.

Gak ada apa-apa, gak terlihat apapun, hanya lorong gelap yang diterangi oleh sedikit cahaya lampu dari ruang tamu..

Karena gak ada apa-apa, gw langsung menutup pintu..

Tapi beberapa detik kemudian suara itu muncul kembali..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…"

Perlahan gw membuka pintu kamar lagi..

Sekali lagi gw intip ke luar kamar..

Tiba-tiba.. "Gludukkk…gluduk…gluduk…",

Akhirnya gw melihat sesuatu..

Gw melihat, ada benda yang menggelinding sendiri dari arah depan rumah, menuju ke belakang.

Gw masih belum bisa memastikan benda apa itu, karena bendanya bergerak cukup cepat. Yang pasti berbentuk bulat dan berwarna gelap..

Gw masih berdiri di balik pintu, dengan posisi mengintip ke luar kamar..

Perasaan mulai gak enak, mulai timbul rasa takut, mulai gak nyaman.

Tiba-tiba suara itu muncul lagi, dari arah belakang rumah..

"Gludukkk…gluduk…gluduk…" kali ini benda itu bergerak lebih pelan, gw jadi bisa melihat sedikit lebih jelas, ketika melintas persis di depan pintu kamar.

Gw kaget, langsung merinding ketakutan..

ketika gw sekilas melihat kalau benda itu ternyata ada rambutnya, pada sisi lainnya terlihat seperti ada wajahnya juga..

Benar, benda itu sekilas terlihat seperti kepala manusia yang menggelinding.

Tapi gw belum terlalu yakin, karena lorong rumah sedikit temaram penerangannya, dan juga benda itu dalam keadaan bergerak, menuju ke ruang tamu.

Sekali lagi, rasa penasaran menyelimuti diri, menuntun gw untuk membuka pintu dan keluar kamar. Mencoba menengok ke ruang tamu.

Gw berjalan keluar kamar, menuju ruang tamu..

Hanya beberapa langkah,

ketika sudah terlihat sebagian ruang tamu, gw berhenti..

Badan gw kaku, gak bisa bergerak, berat untuk melangkah, bulu kuduk berdiri semua, tulang-tulang terasa seperti lepas dari engselnya..

Semua itu terjadi karena dari tempat gw berdiri, gw melihat ada laki-laki sedang duduk di sofa ruang tamu,

Laki-laki itu duduk tanpa kepala..

Menggunakan kemeja lengan panjang berwarna gelap. Celana panjang lusuh berwarna agak terang, dengan noda darah di beberapa tempat.

Kepalanya di mana?

Ternyata, gw lihat kepalanya ada di bawah pintu, pintu depan, tepat disamping tubuhnya yang sedang duduk di sofa, dengan posisi wajah menghadap ke arah gw berdiri..

kemudian kepala itu tersenyum..

Gw paksa mata untuk terpejam, gak berani untuk melihat pemandangan itu.

Hampir pingsan, perlahan gw memaksa kaki untuk melangkah mundur, ke kamar belakang tempat tante Erni tidur…

Sesampainya di depan pintu, gw langsung mengetuknya.

Gak lama kemudian tante Erni bangun dan membuka pintu.

Gw masuk dan berbisik menceritakan semua yang baru aja terjadi dengan suara gemetar dan hampir menangis.

Tante Erni terlihat tenang dan kemudian membangunkan Ika.

Kami bertiga lantas pergi ke luar rumah lewat pintu belakang, pergi menuju rumah gw.

Selama perjalanan, Gw dan tante Erni gak berani menoleh ke belakang..

Akhirnya kami bertiga malam itu pindah tidur di rumah gw, sampai pagi menjelang.

***

Itulah salah satu dari banyak "petualangan" #briikecil yang seru dan pastinya seram.

Nanti kapan-kapan akan gw ceritakan kisah yang lainnya, gak malam ini..

Met bobo, semoga mimpi indah..

Salam

~Brii~

Artikel Asli