Hanif: Saya 5 Tahun Jadi Menteri Tak Bisa Operasikan Power Point

kumparan Dipublikasikan 06.42, 15/11/2019 • Michael Agustinus
Muhammad Hanif Dhakiri menerima cinderamata usai seminar satu hari BPJS Ketenagakerjaan di Gedung Permata Kuningan, Kuningan, Jakarta, Jumat (15/11). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Perkembangan dunia teknologi dan informasi begitu cepat. Sehingga yang tidak bisa menyesuaikan diri akan sulit berkompetisi.

Mantan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyebut Nokia sebagai contoh. Dulu Nokia begitu merajai industri telekomunikasi. Namun, kini Nokia sudah hampir tidak ada lagi di pasaran.

“Lihat deh Nokia yang luar biasa itu tiba-tiba bisa tumbang. Ilang gitu saja,” kata Hanif di Apindo Training Center, Jakarta, Jumat (15/11).

Hanif menuturkan, Nokia tumbang karena gagal berinovasi. Untuk itu, Hanif meminta kepada masyarakat agar terus meningkatkan kemampuannya di bidang masing-masing sehingga bisa bersaing.

“Makanya kalau kita punya skill, terus skill kita tidak di-update ya enggak bisa. Wong saya 5 tahun jadi menteri sekarang enggak bisa mengoperasikan power point,” ujar Hanif yang disambut tawa peserta yang hadir.

“Makanya sekarang saya lagi beradaptasi menulis lagi, bikin presentasi sendiri lagi. Ternyata power point-nya sistemnya juga berubah lebih update, jadi kita harus belajar ulang,” tambahnya.

Muhammad Hanif Dhakiri pada seminar satu hari BPJS Ketenagakerjaan di Gedung Permata Kuningan, Kuningan, Jakarta, Jumat (15/11). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Selain itu, Hanif Dhakiri merasa saat ini zaman sudah jauh berbeda. Ia mengungkapkan zaman dulu orang berbuat kesalahan dulu baru bisa hancur atau mati. Saat ini, kata Hanif, orang tidak melakukan apa-apa juga bisa mati meskipun tidak berbuat salah.

Hanif kembali menegaskan harus ada aktivitas dalam upaya meningkatkan kapasitas diri. Sehingga tidak kalah digilas oleh perkembangan zaman.

“Nah hal-hal kayak gitu perlu terus setiap warga, setiap pekerja harus punya akses, punya kesempatan untuk bisa meningkatkan skill dan mengubah skill sehingga bisa masuk pasar kerja atau berwirausaha,” tutur Hanif.

Artikel Asli