Halo Prof! Benarkah Onani Bisa Menyebabkan Kemandulan?

Kompas.com Dipublikasikan 13.05, 26/05 • Shierine Wangsa Wibawa
RS Pondok Indah
dr. Hery Tiera, Sp.U Dokter Spesialis Bedah Urologi RS Pondok Indah ? Pondok Indah RS Pondok Indah ? Bintaro Jaya

KOMPAS.com - Banyak orang beranggapan bahwa terlalu sering onani atau masturbasi bisa menyebabkan kemandulan. Namun, benarkah demikian?

Kepada rubrik Halo Prof! Kompas.com, seorang pembaca Kompas.com bernama Wildan mengirimkan pertanyaannya:

"Apakah benar, Prof, onani dapat menyebabkan kemandulan?"

Pertanyaan itu lantas dijawab oleh dr. Hery Tiera, Sp.U, Dokter Spesialis Bedah Urologi di RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya. Berikut paparannya:

Baca juga: Halo Prof! Mengapa Saya Sering Keluar Darah Haid Saat Olahraga?

Halo Bapak Wildan,

Masturbasi adalah terjadinya stimulasi diri pada alat kelamin untuk mencapai gairah dan kesenangan seksual, biasanya sampai pada titik orgasme (klimaks seksual). Masturbasi biasanya dilakukan dengan menyentuh, membelai, atau memijat alat kelamin hingga tercapai orgasme.

Masturbasi tidak menyebabkan kemandulan. Pada masturbasi dilakukan rangsangan pada alat genital yang berujung pada ejakulasi seperti layaknya saat hubungan seksual. Hal ini tidak akan secara langsung mempengaruhi kemampuan lelaki untuk mempunyai keturunan.

Namun perlu diperhatikan, semakin sering masturbasi dilakukan, tentu volume semen (cairan ejakulat) yang dihasilkan setiap ejakulasi semakin sedikit. Hal ini akan mengganggu jumlah sperma yang dihasilkan saat Anda berhubungan seksual.

Untuk itu, apabila sedang menjalani program untuk memiliki anak, sebaiknya masturbasi tidak sering dilakukan, dalam upaya konservasi jumlah sperma yang cukup untuk pembuahan.

Baca juga: Halo Prof! Bagaimana dan Ke Mana untuk Mengobati Vaginismus?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas sperma yang optimal tercapai setelah 2-3 hari tanpa ejakulasi. Itulah sebabnya tiga hari sebelum pemeriksaan analisis sperma, tidak diperbolehkan berhubungan seksual atau masturbasi. Hal ini dimaksudkan agar saat pemeriksaan tersebut didapatkan kualitas sperma yang optimal.

Jika frekuensi masturbasi sudah dikurangi, dan istri masih belum hamil, Bapak dan istri diharapkan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi.

Terkhusus untuk masalah gangguan kesuburan pria, Bapak dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis bedah urologi. Dokter akan melakukan wawancara terarah, pemeriksaan fisik, dan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti analisis sperma, sonography doppler testis, dan organ genitalia interna, serta analisa hormon jika diperlukan.

Demikian jawaban dari saya. Semoga membantu.

Salam sehat,

dr. Hery Tiera, Sp.U

Dokter Spesialis Bedah Urologi

RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya

Punya pertanyaan terkait kesehatan dan sains yang membuat Anda penasaran? Kirimkan pertanyaan Anda ke haloprof17@gmail.com untuk dijawab oleh ahlinya.

Editor: Shierine Wangsa Wibawa

Artikel Asli