Hak istimewa dicabut AS, perusahaan global bersiap kabur dari Hong Kong

Kontan.co.id Dipublikasikan 09.19, 03/06 • Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Beberapa perusahaan global sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan beberapa operasi keuangan mereka keluar dari Hong Kong. Para bankir senior di sana mengatakan, ini seiring langkah Amerika Serikat (AS) yang berencana mengakhiri hak-hak istimewa kota itu.

Presiden AS Donald Trump telah memulai proses penghapusan perlakuan khusus AS untuk Hong Kong untuk menghukum keputusan Beijing karena memberlakukan undang-undang (UU) keamanan nasional baru di sana. Menurut China, UU ini tidak akan melukai hak dan kebebasan warga Hong Kong.

Baca Juga: Hong Kong terus dirongrong Amerika, China siapkan Hainan sebagai penggantinya

Sejumlah perusahaan global sedang mengamati perpindahan beberapa operasi treasury perusahaan mereka ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, kata empat bankir senior dengan pengetahuan tentang masalah tersebut.

"Operasi keuangan perusahaan mengikuti arus perdagangan dan sekarang ada banyak pertanyaan seputar status Hong Kong sebagai pusat perdagangan," kata seorang bankir yang berbasis di Hong Kong seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6).

Arus perdagangan dapat terpukul jika akhir hubungan khusus Hong Kong dengan Amerika Serikat terjadi. Tarif impor nol persen Hong Kong untuk impor AS juga bisa berisiko.

Baca Juga: China kerahkan kapal induk kedua Shandong sebagai respons kehadiran militer AS

"Beberapa (perusahaan multinasional) sedang mempertimbangkan untuk menggeser bagian dari operasi treasury mereka (keluar dari Hong Kong) dan kemudian secara bertahap meningkatkan perpindahan ke luar Hong Kong," kata bankir itu.

Rantai ritel AS terkemuka, yang mengoperasikan ratusan toko di seluruh Asia, sudah dalam pembicaraan awal dengan bank-banknya untuk memindahkan beberapa operasi terkait manajemen kas ke Singapura dari Hong Kong.

Para bankir yang membantu perusahaan-perusahaan menjalankan pusat treasury dan mengelolanya mengaku sedang dalam pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan terasebut terkait kemungkinan rencana relokasi, meski belum ada batas waktu yang jelas.

Artikel Asli