HER - Part 2: Namanya Sherly

Storial.co Dipublikasikan 08.03, 13/08/2020 • kurayui
Namanya Sherly

Bagi mereka, olok-olokan itu mungkin hanya sebuah candaan. Bagai angin lalu yang lewat begitu saja. Namun, tidak denganku. Semua mengendap dalam memoriku. Perlahan tapi pasti, mulai menghancurkanku.

Aku kasih tahu ya! Kamu itu bukan anak ibu sama bapak. Ibu nemuin kamu di pinggir tempat sampah! Karena kasihan, kamu dipungut sama ibu dan dijadikan anak.

Bener itu! Liat aja! Kamu beda sama kami. Itu karena kamu bukan anak kandung ibu dan bapak.

Katanya, jika saudara-saudaramu menggodamu dengan mengatakan bahwa kamu bukanlah anak kandung kedua orang tuamu, maka kamu adalah benar-benar anak kandung dari orang tuamu. 

Jika saudara-saudaramu nggak pernah lakuin hal itu ke kamu, bisa jadi kamu beneran anak pungut.

Harusnya aku baik-baik saja dengan candaan yang dilontarkan oleh kedua kakakku. Mereka sering mengolokku, kamu itu anak nemu di pinggir tempat sampah. Kalimat yang bagi mereka hanya candaan sambil lalu, tapi tidak bagiku.

Aku dilahirkan di sebuah rumah sakit kenamaan di kota tempat tinggalku. Ketika aku dibawa untuk bertemu Ibu, Kakek meragukan kebenaran bahwa aku adalah anak Ibu.

“Apa bener ini anakmu? Kok putih banget? Kayak Cina. Coba tanya dokter. Jangan-jangan anakmu ketuker.” Ibu pernah menceritakan sebegitu paniknya Kakek ketika pertama kali melihatku. Walau sudah diberi tahu perihal nomer seri gelang yang dipakai ibu dan bayi adalah sama pun masih ngeyel. Menurut Kakek, melahirkan di rumah sakit bisa saja bayi tertukar.

Bukan hanya Kakek, orang-orang di sekitarku pun sering memanggilku Mei Xin. Mei Xin adalah nama salah satu tokoh dalam Tutur Tinular. Dia adalah pendekar wanita asal Mongolia. 

Orang-orang memanggilku Mei Xin karena menurut mereka wajahku seperti orang Cina. Entah bagaimana mereka bisa menilaiku mirip orang Cina. Kulitku memang putih, tapi mataku nggak sipit.

Bukan anak kandung! Anak nemu di pinggir tempat sampah!

Semua itu menggangguku! Jadi, kenapa selama ini Ibu selalu mendahulukan, mementingkan kakak laki-lakiku, itu karena aku bukan anak kandungnya? Bukankah katanya anak bungsu itu seperti raja atau ratu. Tapi, kenapa tidak denganku?

Di rumah diolok-olok! Di sekolah pun diolok-olok. Kata mereka, aku bau rumah sakit. Tapi, kenapa mereka kadang malah betah berlama-lama di rumahku?

Begitu lah manusia. Baik jika ada mau. Kalau sudah bosan, mereka akan menendangmu! Baik di depan, tapi menikam dari belakang. Bukankah beberapa kali kamu mengalaminya? Hanya kita yang berbeda! Kamu tahu itu, kan?

Iya. Kamu benar. Kebanyakan dari mereka seperti itu. Tidak ada yang tulus. Karena itu, aku lebih nyaman berada dekat denganmu, Sherly.

***

Dia sosok kakak sekaligus teman yang aku impikan. Cantik, baik, dan perhatian. Ada kalanya aku merasa dia adalah diriku. Namanya Sherly. Sherly Chen, begitu katanya saat kami berkenalan.

Iya, Sherly Chen. Seperti nama artis ya? Memang. Dia pun secantik artis. Rambutnya hitam berkilau, lurus panjang terurai. Wajahnya putih dengan mata sipit yang tajam, bibir merah dan pipi merona. Dia sosok yang sempurna.

Berkenalan di mana? Mm, aku nggak tahu pastinya di mana. Aku rasa di sekolah? Aku berteman dengannya setelah perkenalan itu. Aku menulis namanya di buku diary-ku. Dia memberikan biodata lengkapnya padaku, lalu tak lupa membubuhkan tanda tangannya untukku. Aku senang sekali! Hanya kami yang tahu tentang biodata dalam diary itu.

Kami sering menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita dan berbagi pemikiran. Aku mengatakan padanya jika aku ingin menjadi profesor kelak. Sherly tergelak ketika mendengarnya, tapi tak mengolokku. 

Ia mengatakan, itu cita-cita yang sempurna. Ia menyarankan agar aku rajin belajar. Karena, untuk jadi profesor perlu otak yang encer.

Sherly selalu menemaniku ketika aku bermain di kebun. Bereksperimen seolah-olah kami ini duo ilmuwan handal. Dalam misi pencarian bahan eksperimen, kami menemukan sebuah tanamam perdu yang sedang berbuah lebat. Buahnya kecil-kecil dan berwarna merah tua keunguan. Kupikir buah itu beracun. Sherly sependapat. Kami tetap memetik satu tangkai yang buahnya paling lebat.

Kami membawanya ke kebun. Lalu, kami menangkap beberapa ikan kecil di sungai yang berada tepat di sebelah timur kebun. Kami menaruh ikan-ikan itu dalam sebuah wadah. 

Lalu, memeras buah merah yang sebelumnya kami petik saat melakukan perburuan bahan eksperimen di sawah dekat kebun. Tetesan airnya berwarna pink keunguan. Kami sengaja meneteskan air perasan pada wadah tempat kami menaruh ikan.

Awalnya biasa saja. Tapi, lama-lama ikan-ikan mulai bergerak dengan gusar. Kami berjongkok, dengan tenang mengamati reaksi ikan-ikan itu. Setelah bergerak-gerak dengan gusar, ikan yang paling kecil berhenti bergerak. Mati. Lalu, ikan-ikan yang lain pun sama. Mereka mati.

Aku dan Sherly saling memandang. Lalu, kami kompak tersenyum. Percobaan kami berhasil. Kami berhasil membuktikan bahwa buah dari tanaman perdu itu memang beracun.

Ngomong-ngomong soal cita-cita, selain ingin menjadi profesor, aku ingin menjadi seorang artis. Sherly terkejut mendengarnya. Ia bertanya kenapa aku ingin menjadi seorang artis. Katanya, dunia artis itu adalah dunia yang kejam.

Jadi artis itu bisa jadi apa aja. Trus, bisa ke mana aja. Dikenal banyak orang dan punya penggemar. Artis yang menggeluti seni peran dan tarik suara. Aku menyukai keduanya dan ingin jadi artis yang seperti itu.

Sherly membenarkan hal itu. Namun, di balik semua yang menurutku enak-enak itu, ada sesuatu yang harus dibayar dengan mahal. Katanya, terjun ke dunia artis itu sama saja melempar diri kita ke dalam pilihan antara hidup dan mati. Godaan dan cobaannya terlalu besar. Jika kita berhasil bertahan, maka kita akan tetap hidup. 

Tapi sekali terjerumus dalam pilihan yang salah, kita akan mati! Sherly menceritakannya dengan ekspresi serius. Aku mengusuk kedua lenganku karena bergidik. Ngeri hanya dengan membayangkan apa yang dijelaskan Sherly.

Benar juga. Jadi artis nggak melulu enak. Lagi pula mana mungkin gadis desa jelek dekil sepertiku bisa jadi artis?

Hey! Cantik itu bisa dibuat! Hidung pesekmu bisa jadi mancung. Kulit burikmu bisa jadi mulus! Kalau jadi artis, semua bisa dipermak. Karena jadi artis yang dijual bukan hanya bakat, tapi juga penampilan.

"Hmm… benar juga. Kamu juga dipermak di sana-sini?"

Nggak! Semua padaku asli buatan Tuhan.

"Wah! Kamu cantik dari lahir ya. Kupikir-pikir, nggak enak juga jadi artis. Apalagi kalau udah terkenal. Oya! Ada cara lain untuk bisa pergi ke mana aja."

Apa?

"Jadi pemandu wisata!" Penuh percaya diri aku mencetuskan cita-cita baruku.

Walau sempat tercenung, Sherly pun tersenyum. Lalu berkata, Ya ya ya. Bahasa Inggrismu bagus. Kamu harus lebih mengasahnya saat SMP nanti. Lalu, kamu kamu bisa bersekolah di SMK Pariwisata.

"Ada ya?"

Ada dong!

"Baiklah! Cita-citaku hanya satu. Jadi pemandu wisata!"

Sherly pun tersenyum dan menganggukkan kepala.

Lihat! Aku tidak berbicara sendirian, kan? Tapi, aku ngobrol dengan teman sekaligus kakak impianku. Namanya Sherly. Dia cantik, kan?

Dia sempurna di mataku. Wajahnya oriental. Fisiknya sempurna. Aku tidak membutuhkan siapa-siapa lagi untuk menjadi temanku, karena aku sudah punya Sherly. Sherly yang baik dan setia. Sherly yang selalu ada di sisiku, kapan pun dan dimana pun.

***

Artikel Asli