HER - Part 1: Anak Aneh

Storial.co Dipublikasikan 08.01, 13/08/2020 • kurayui
Anak Aneh

Mungkin tinggal dalam sebuah lingkungan terisolasi bagi beberapa orang dipandang aneh. Sehingga orang yang secara sengaja atau tidak tinggal dalam lingkungan itu pun dianggap aneh. Bagi mereka, aku adalah anak aneh.

Halo! Perkenalkan, namaku Hyu!

Hyu? Ada nama seperti itu?

Kenapa namanya Hyu?

Aku baru tahu ada nama Hyu!

Hyu? Ikan hiu?

Hahaha.

Hahaha.

Hahaha.

Terkejut, heran, bahkan menjadikan candaan sudah biasa aku dengar setiap kali aku menyebutkan namaku saat perkenalan. Hyu adalah nama panggilanku. Awalnya aku tidak suka. Kenapa orang tuaku memberi nama yang aneh? Hyu, apa maknanya?

Kata Ibu, nama itu bukan tak memiliki makna seperti yang sering dikatakan banyak orang. Hyu melambangkan daya cipta. Sosok yang cakap dalam memimpin dan mengatur orang-orang yang berada di sekitarnya, juga pribadi yang pandai menghasilkan uang. 

Makna yang bagus, kan? Namun sepanjang hidup, aku tidak pernah menjadi seorang pemimpin. Aku hanyalah pecundang, penyendiri yang terlalu takut untuk mencoba ini dan itu. Cakap dalam memimpin dan mengatur orang apanya?

Tidak! Aku tidak seburuk itu. Aku pernah beberapa kali menjadi ketua dalam kelompok belajar. Bahkan, pernah menjadi moderator dalam diskusi di kelas. Apa itu termasuk dalam cakap dalam memimpin dan mengatur orang-orang di sekitarku?

Tepatnya sejak kapan aku dianggap aneh?

Sejak mereka tahu aku tinggal di dalam area terisolasi itu. Orang asing akan sedikit sulit untuk memasuki area tempat kami tinggal. Karena kami tinggal di dalam kompleks puskesmas. Bapak dan ibuku bekerja di puskesmas itu. 

Kami mendapat kemurahan hati dari Kepala Puskesmas untuk tinggal di dalam area puskesmas. Kebetulan ada satu ruang kosong yang bisa kami manfaatkan sebagai tempat tinggal. Aku lahir dan bertumbuh di sana.

Itu bukan hal yang aneh, kan?

Area itu terkenal angker. Sejak kecil aku tidak memiliki teman bermain. Sesekali saudara sepupu datang, tapi lebih sering aku habiskan waktuku bersama pohon-pohon, burung, dan hewan-hewan  di kebun. 

Area tempat kami tinggal juga ditinggali oleh lumayan banyak ular. Konon katanya, pada masa penjajahan Belanda, area ini merupakan tempat tinggal seorang Tuan Tanah asal Belanda yang gemar memelihara ular. Tuan Tanah itu memiliki satu sumur yang ia gunakan untuk memelihara ular. 

Ketika dia meninggal, ular itu pun berkeliaran dan hidup dengan bebas di area yang kini menjadi tempat tinggal kami. Karena dua alasan pokok itu tempat tinggal kami dihindari. Selain itu, sejak menjadi puskesmas, tentu saja tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya.

Teman sebaya memilih menghindar untuk bermain ke rumah karena label angker yang disematkan pada area tempat tinggalku. 

Mereka takut untuk menginjakkan kaki di area tempat tinggal kami walau di terang hari. Label angker memang bukan sekadar gosip belaka. Beberapa kali aku melihat sesuatu yang seharusnya tak bisa aku lihat seperti pocong, kuntilanak, dan manusia berlumuran darah.

Teman-temanku sangat tertarik dengan cerita tentang keangkeran tempat tinggalku. Mereka sering memintaku berbagi cerita tentang pengalaman mistis yang aku alami selama tinggal di area itu. 

Aku pun menceritakan apa adanya, ketika aku tak sengaja melihat penampakan-penampakan makhluk tak kasat mata yang berbagi tempat tinggal bersama kami.

Tentu tidak semua dari mereka percaya. Ada yang menganggapku sebagai pembual. Ada yang menganggap ketidaksengajaan itu sebagai hal keren, dan sebagian besar menganggapku aneh.

Dia gemar berbicara dengan tumbuhan dan hewan. Dia itu aneh! Bagaimana bisa manusia berbicara dengan hewan dan tumbuhan?

Aku juga sering melihatnya ngomong sendiri.

Dia nggak ngomong sendirian. Tapi, dia ngomong sama teman-teman nggak tampak yang tinggal dan berbagi tempat dengannya.

Dia emang aneh! Anak aneh!

Hahaha.

Hahaha.

Rupanya kebiasaanku berbicara dengan pohon dan hewan sudah bocor keluar. Bukankah mereka juga makhluk hidup. Apakah salah jika aku mengajak mereka ngobrol? Karena hanya mereka teman bermain yang aku miliki. 

Tapi, ngomong sendirian? Aku tidak ngomong sendirian. Aku ngobrol sama dia. Iya, dia. Dia yang selalu ada bersamaku. Dia yang selalu ada untukku.

***

Bagi kami, orang Jawa, melihat anak-anak ngomong sendiri adalah wajar. Karena menurut kerpercayaan kami, setiap bayi yang lahir ke dunia memiliki among sendiri.

Among adalah pamomong yang bertugas ngemong atau momong setiap bayi yang lahir. Menemani dan menjaga mereka selama bertumbuh. Pada anak-anak seringnya ditemukan kebiasaan mereka seolah berbicara dengan orang lain, padahal mereka sendirian. 

Kebiasaan itu dianggap wajar karena diyakini si anak sedang mengobrol dengan among-nya. Among tetap ada dan menjaga hingga anak-anak dewasa. Tapi seringnya ketika mereka beranjak remaja, mereka mulai mengabaikan si among.

Dulu sekali, ketika masih anak-anak, aku pernah menonton sebuah film barat di televisi. Kalau tidak salah judulnya The Boogeyman. Berkisah tentang remaja yang diteror Boogeyman atau hantu menyeramkan. 

Setelah diselidiki, ternyata si Boogeyman adalah 'teman tidak tampak' si remaja. Teman tidak tampak itu berubah menjadi monster menyeramkan setelah si remaja mengabaikannya.

Teman tidak tampak dalam film itu menurutku hampir sama dengan among dalam kepercayaan kami. Bedanya dalam kepercayaan kami, among tetap ada dan menjaga setiap individu walau kadang diabaikan. Mereka tidak berubah menjadi monster walau diabaikan.

Aku pun pernah membaca cuitan dr. Andri, SpKJ di Twitter yang membahas tentang teman tidak tampak. Beliau bercerita tentang pasiennya yang merasa memiliki teman tidak tampak. Hal yang awalnya dianggap biasa, tapi lama-lama mengganggu bahkan mengancam si pasien.

Lalu, bagaimana denganmu? Kamu termasuk golongan yang mana?

Menurut orang-orang terdekatku, aku pun mengalami fase umum yang terjadi pada tumbuh kembang anak; sering ngomong sendirian saat bermain. Tapi mereka bilang ada sesuatu yang aneh pada diriku. 

Menurut mereka harusnya kebiasaan itu hilang setelah aku mulai bersekolah. Mereka memakluminya ketika aku masih TK hingga SD kelas tiga. Tapi kebiasaan itu tidak menghilang hingga aku SMP.

Orang tuaku sering mendapat laporan tentang aku yang masih sering ngomong sendirian. Saat bermain di kebun, saat di sungai, bahkan saat berjalan sendirian di jalan sepulang mengaji. 

Orang-orang yang melapor menganggap apa yang terjadi padaku bukanlah hal yang wajar. Ada sesuatu yang salah padaku.

Apa orang tuamu tidak menegurmu? Bagaimana dengan teman-temanmu?

Tentu saja mereka menegurku. Tapi, sungguh aku tidak ngomong sendiri!

Aku bukan tipikal murid yang tidak punya teman sama sekali. Aku punya beberapa teman, bahkan boleh dibilang aku termasuk murid populer yang punya geng. Tapi aku sering merasa tidak nyaman jika harus berkumpul dengan terlalu banyak orang. Sering juga aku merasa minder. 

Aku merasa tidak bisa hidup dalam dunia yang dihuni terlalu banyak orang. Tapi aku tetap pergi ke sekolah setiap hari. Menjalani hari demi hari dengan wajar. Seperti manusia lainnya.

Aku tidak tahu bagaimana tanggapan teman-temanku, karena aku tidak pernah mencoba cari tahu tentang bagaimana mereka memandangku dan menilaiku. Dan aku tidak mau tahu!

Kalau diingat-ingat, semasa sekolah aku lumayan dihormati karena aku dimasukkan dalam kategori murid baik, pendiam, dan berprestasi. 

Walau tidak pernah menduduki peringkat pertama, aku selalu berada dalam peringkat sepuluh besar, lima besar, dan tiga besar. Walau orang tuaku bangga akan hal itu, aku merasa bukan apa-apa dan merasa biasa saja.

Secara fisik pun boleh dibilang penampilanku tak terlalu buruk. Tapi, aku merasa diriku buruk rupa. Merasa tidak populer. Padahal aku punya lumayan cukup banyak teman.

Ngomong-ngomong soal teman, aku selalu memimpikan punya seorang sahabat. Tapi, pada kenyataannya mendapatkan sahabat yang benar-benar seorang sahabat itu sulit. Orang yang aku anggap sebagai sahabat hanya memanfaatkan aku. Menghilang di saat aku butuh. 

Membuangku setelah bosan. Bukan berarti semua temanku buruk. Ada beberapa yang hanya aku labeli sebagai teman, tapi sangat baik dan perhatian padaku. Kenyataannya aku tidak punya sahabat, tapi aku punya beberapa teman baik. Begitu tidak terlalu buruk, kan?

Oya waktu kelas satu SMA pernah seorang teman menegurku. Katanya, "Jangan sering melamun di kelas. Itu nggak baik lho! Apalagi sekolah kita ini terkenal angker. Sering ada anak kesurupan."

Aku bingung. Kapan aku melamun? Aku tahu tentang peraturan tidak tertulis di sekolahku. Bahwa murid-murid diimbau untuk tidak melamun saat di sekolah, karena itu dipercaya sebagai pemicu kesurupan. Tapi, sungguh aku tidak pernah melamun di kelas!

Waktu SMP aku juga pernah ditegur seorang teman. Suatu pagi mereka sedang berkumpul di depan kelas. Beberapa dari mereka menjadi ketakutan. Saat aku lewat, mereka mencium wangi melati yang membuat bulu kuduk mereka meremang. Kata mereka, aroma yang aku bawa mirip aroma hantu.

Memangnya mereka pernah ketemu hantu? Aku memang memakai parfum milik ibuku yang beraroma melati. Tapi, apanya yang beraroma seperti hantu? Perlu mereka tahu, aroma hantu tak seperti melati. 

Tapi, seperti bunga sedap malam atau kembang sundel. Bahkan, ada yang busuk seperti bangkai. Setelah mendapat teguran itu, aku tidak pernah memakai parfum melati itu lagi. 

Walau aku sudah terbiasa dipandang sebagai kaum minoritas, tapi aku takut dikucilkan. Jadi, lebih baik aku menghindari apa pun itu yang bisa berdampak aku dikucilkan.

Bukan berarti kehidupan sekolahku baik-baik saja. Kaum minoritas yang duduk di bangku paling belakang ini selalu mendapat teguran keras dari salah satu siswi pandai yang duduk di bangku deretan depan jika mendapat nilai bagus di kelas. 

Pernah sekali aku mendapat nilai Bahasa Inggris tertinggi di kelas. Seluruh murid di bagian belakang pun mendapat nilai bagus. Siswi itu menemuiku, menegurku. Bukan menegur, tapi menuduhku mencontek buku pelajaran saat ulangan berlangsung. 

Sumpah aku tidak mencontek! Tapi, aku tidak mengelak tuduhan bahwa aku membagi jawabanku untuk teman-teman di bangku belakang. Apa itu salah?

Aku kesal pada siswi itu. Tapi, aku tidak bisa melawannya. Dia pandai, dia kuat. Sedang aku bukan apa-apa. Walau teman-temanku membelaku, tetap saja aku merasa kerdil. 

Aku bukan apa-apa. Mendapat nilai bagus dan membagi jawaban kepada teman adalah sebuah kesalahan.

Dia itu aneh!

Baunya seperti hantu!

Tidak, dia itu bau rumah sakit!

Dia dapat nilai tertinggi karena dia ngerpek buku pelajaran. Lalu, dia membagikannya kepada yang lain. Makanya semua yang di belakang dapat nilai bagus. Curang!

Bagaimana hubunganmu dengan guru? Harusnya ada Guru BK, kan? Jika kamu punya masalah, kamu bisa meminta konseling pada Guru BK.

Hubungan dengan guru? Kalau diingat-ingat aku ini pernah menjadi si pembuat onar. Tapi, aku juga punya beberapa guru yang dekat dan memberiku perhatian khusus. 

Saat kelas enam SD, aku membuat Guru Bahasa Inggris dan seluruh siswi di kelas menangis usai aku berkelahi dengan siswa ternakal di kelas.

Aku sangat menyukai Bahasa Inggris. Karena itu aku selalu antusias setiap kali tiba giliran pelajaran Bahasa Inggris. Tapi, aku sebal karena siswa ternakal di kelas membuat kegaduhan saat kelas berlangsung. 

Guru Bahasa Inggris kami seorang perempuan muda, karenanya beliau seolah tidak punya wibawa di depan murid-murid nakal.

Berada di puncak rasa kesalku, aku pun bangkit dari dudukku dan melawan siswa ternakal di kelas. Aku pasrah ketika siswa itu akan menonjok mukaku, tapi urung ia lakukan. Masih dirundung rasa kesal, aku mematahkan penggaris plastik milikku dan menyayat tanganku sendiri. 

Lalu, aku maju ke depan untuk meminta maaf kepada Guru Bahasa Inggris karena kelas gaduh dan aku tidak bisa menanganinnya. Entah kenapa aku melakukan hal itu. Padahal aku bukan ketua kelas yang harus bertanggung jawab atas ketertiban di dalam kelas. Aku hanya kesal.

Melihatku meminta maaf dengan tulus dan menangis, Guru Bahasa Inggris memelukku dan ikut menangis. Entah kenapa seluruh siswi di kelasku ikut menangis. Kekacauan itu berakhir dengan dihukumnya seluruh siswa di kelasku. Aku merasa puas.

Saat kelas dua SD, aku terlibat perkelahian dengan salah satu siswi terpandai di kelas. Perkelahian antar geng. Di kelas dua, aku hanya berdua dengan salah satu siswi. 

Sedang siswi terpandai itu menguasai hampir semua siswi di kelas. Dalam perkelahian itu, kami dibantu kakak kelas kami, siswi-siswi kelas tiga yang menjadi satu geng dengan kami. Dalam perkelahian itu kami yang menang. 

Tapi, guru pembimbing lebih memihak siswi terpintar. Jadilah aku dan temanku yang terkena hukuman. Kami tidak boleh main ke sekolah bagian atas, tempat kelas tiga berada.

Tapi, aku juga pernah mewakili sekolah untuk Lomba MATPEL. Kepala Sekolah sendiri yang memilihku untuk mewakili mata pelajaran IPS. Menurut Beliau, kemampuan menghafalku bagus. 

Sehingga cocok untuk mewakili pelajaran IPS. Sayang aku tidak bisa mewakili hingga tingkat kabupaten. Usahaku gagal di tingkat kecamatan.

Bapak Kepala Sekolah itu lah guru yang boleh dikatakan dekat denganku. Mungkin karena sebelumnya aku adalah si pembuat onar saat kelas dua, juga kelas enam. Beliau yang membimbing kelas kami. Selain beliau, aku tidak begitu dekat dengan guru lain.

Kelas satu SMP, aku menegur Wali Kelas karena beliau salah menjumlahkan nilai dalam raporku. Karena jumlah nilai yang salah itu peringkatku menurun. Dalam mata pelajaran beliau yaitu Matematika, aku pernah meraih nilai ulangan tertinggi, nyaris seratus. Karena semua itu, aku jadi lumayan dekat dengan Wali Kelas saat kelas satu.

Kelas dua SMP aku berada di kelas biasa, bukan kelas unggulan seperti semasa SD dan kelas satu SMP. Karenanya aku jadi sedikit menonjol karena berhasil menduduki poisisi tiga besar di kelas. Aku pernah membuat kerajinan tangan dengan tanganku sendiri dan sedikit dibantu Bapak. 

Karena itu aku mendapat nilai bagus walau hasilnya tak sempurna. Hasta karya teman-teman sekelas rata-rata sempurna karena memesan bahan mentah dari pengrajin bambu. Sedang aku melakukan semuanya sendiri. Selain itu dalam ulangan mata pelajaran Pendidikan Agama aku mendapat nilai tertinggi dengan nilai nyaris seratus. 

Guru Kerajinan Tangan dan Guru Agama yang memberiku perhatian khusus di kelas dua. Bahkan, aku cukup dekat dengan Guru Agama sampai kelas tiga.

Saat kelas tiga secara tidak sengaja aku menemukan jam tangan di lapangan bawah. Aku menyerahkannya pada Guru Kesenian. Aku mengidolakan beliau dan berpikir bahwa beliau lah yang bisa aku percaya. Pria tampan yang saleh. Tapi, menyerahkan jam tangan itu pada beliau membuatku harus melewati interogasi kecil dari beliau. 

Dari momen itu aku mendapatkan kepercayaan dari beliau. Ketika ada kasus pencurian di kelas kami, beliau melepaskan aku saat harus menjalani interogasi satu per satu murid.

Saat kelas kami dicurigai melakukan teror pada tukang kebun menyebalkan lewat tulisan makian di tembok lapangan bawah, beliau pun meloloskanku begitu saja saat interogasi. Aku tidak terlibat pada kasus pencurian.

 Tapi, aku sedikit memperjelas tulisan teror pada tembok walau aku tidak tahu pelaku sebenarnya siapa. Aku tidak perlu mengakui tindakan itu. Karena, tukang kebun menyebalkan itu memang pantas mendapatkan makian itu. Lagi pula itu hanya sebuah kata makian. Bukan masalah serius, kan?

Aku tidak pernah meminta konseling pada Guru BK. Tapi, aku pernah dipanggil untuk melakukan konseling karena ketahuan membawa buku diary dan membacanya saat pelajaran Biologi. Aku sangat menyukai pelajaran Biologi dan guru pembimbingnya. 

Tapi, melaporkan aku hingga aku harus menerima bimbingan konseling hanya gara-gara buku diary, bukan kah itu keterlaluan? Guru Biologi menyita buku diary-ku dan melaporkan aku pada tim Tata Tertib. 

Karenanya, aku harus mengikuti bimbingan konseling dari Guru BK selama jam istirahat. Tapi, aku tidak bisa membenci Guru Biologi itu, karena aku sangat suka pelajaran Biologi.

Lagian aneh sekali dia. Jam pelajaran Biologi malah baca buku diary!

Iya dia aneh. Bukannya menyimak penjelasan guru dengan membaca buku pelajaran, tapi malah membaca buku diary.

Tapi, bagaimana dia bisa mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Biologi ya?

Tentu saja aku belajar dan membaca buku Biologi. Kenapa aku menyukai pelajaran Biologi? Karena itu bisa membuatku menjadi lebih dekat dengan hewan dan tumbuhan. Dari pelajaran Biologi, aku jadi bisa mengenal mereka lebih dekat. Hewan dan tumbuhan lebih memahami aku, daripada kalian!

***

Artikel Asli