Goar Vartanyan, Mata-mata Legendaris Uni Soviet Meninggal di Usia 93 Tahun

Kompas.com Dipublikasikan 03.03, 28/11/2019 • Ardi Priyatno Utomo
Reuters via BBC
Goar Vartanyan (kanan) saat menemui Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2005. Goar menjadi mata-mata legendaris Uni Soviet setelah mengungkap rencana pembunuhan Pemimpin Sekutu di Perang Dunia II oleh Nazi.

MOSKWA, KOMPAS.com - Goar Vartanyan, mata-mata legendaris Uni Soviet yang mengungkap rencana Nazi membunuh para pemimpin Sekutu meninggal di usia 93 tahun.

Badan intelijen luar negeri Rusia (SVR) menyatakan, Goar meninggal Senin (25/11/2019), disampaikan juru bicara Sergei Ivanov.

Seperti dilansir AFP, rencananya jenazah Goar Vartanyan bakal dimakamkan di pemakaman prestisius Moskwa, Troyekurovskoe.

Baca juga: Dituduh Jadi Mata-mata Arab Saudi, 2 Mantan Karyawan Twitter Dijerat Pengadilan AS

Goar menjadi mata-mata legendaris Uni Soviet setelah mengungkap plot itu bersama sang suami, Gevork Vartanian, yang meninggal pada 2012.

"Tanpa pasangan ini, sejarah negara ini mungkin akan lain. Mereka ini menorehkan tinta di umat manusia," jelas juru bicara pemerintah, Dmitry Peskov.

Lahir pada 1926 di Armenia Soviet, Goar pindah ke Iran pada 1930-an. Di sana, dia bergabung dengan grup anti-fasis yang dipimpin sang suami.

Dilansir BBC Rabu (27/11/2019), mereka diyakini mengungkap ratusan agen Nazi, dan bertanggung jawab atas konferensi 1943.

Saat itu, "Big Three", julukan yang diberikan bagi para pemimpin Sekutu di Perang Dunia II, berkumpul di Teheran.

Mereka adalah Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, Presiden AS Franklin D Roosevelt, dan Pemimpin Soviet Joseph Stalin.

Goar dan suaminya berperan dalam mengungkap Operation Long Jump, yakni plot untuk membunuh "Big Three", dan menangkap calon pembunuhnya.

Plot itu diyakini diprakarsai oleh komandan Nazi kelahiran Austria, Otto Skorzeny, dan terungkap setelah transmisi komunikasinya dicegat.

Namun dalam memoarnya, pria yang membantu pemimpin fasis Italia Benito Mussolini kabur itu mengaku tak merencanakannya.

Goar dan Gevork kemudian pindah ke Soviet pada 1951, dan bekerja bersama dalam sejumlah program "ilegal" sepanjang 1956-1986.

Peskov menyatakan, Presiden Vladimir Putin yang merupakan mantan agen KGB, sangat mengenal pasangan legendaris tersebut.

Pada 2017 misalnya. Putin mengunjungi markas SVR, dan memuji agen di sana, termasuk Pasangan Vartanyan. "Mereka rendah hati, tak ingin disebut pahlawan," pujinya.

"Dia adalah pahlawan bagi Uni Soviet! Pasangan itu menjadi legenda karena prestasinya," jelas SVR dalam keterangan resmi.

Baca juga: Dibebaskan AS, Wanita yang Dituduh Mata-mata Rusia Ini Sampai di Moskwa

Penulis: Ardi Priyatno UtomoEditor: Ardi Priyatno Utomo

Artikel Asli