Gerakan Feminis di Korea: Menolak Pria

Media Indonesia Dipublikasikan 09.04, 07/12/2019 • http://mediaindonesia.com/
Yoon Ji-hye memperlihatkan fotonya ketika masih terobsesi dengan nilai-nilai kecantikan

"SAYA  perempuan tulen yang tidak lagi tertarik berhubungan dengan pria," tegas Bonnie Lee. Perempuan Korea Selatan (Korsel) berusia 40 tahun itu mengaku tidak lagi peduli untuk punya pacar dan cerita indah tentang perkawinan. Dia merasa happy menjadi jomblo alias melajang sampai mati.

Lee tidak sendiri. Di Korsel, jumlah perempuan yang menganut prinsip seperti dia jumlahnya kian bertambah. Mereka menolak norma patriakal yang menjadikan perempuan subordinat laki-laki.

Dengan tagar #NoMarriage Women, mereka bahkan mengimani prinsip gerakan feminis radikal dengan slogan 4B atau Four No, yakni No dating (tak berkencan), no sex (tidak berhubungan badan), no marriage (tidak menikah), no child-rearing (menolak memelihara/merawat anak). "Sebagai perempuan saya merasa lebih banyak mudarat daripada manfaatnya, jika kawin, " kata Lee yang tinggal bersama anjingnya di pinggiran Seoul, kepada AFP, Jumat (6/12).

Jumlah perempuan yang menikah di Korsel rata-rata terus menurun. Mereka merasa terlalu banyak tuntutan tugas sebagai istri, lantaran harus merawat anak dan mertua yang telah sepuh dengan sedikit mendapat bantuan dari negara maupun masyarakat sekitar. "Dalam perkawinan, kehidupan Anda sebelumnya maupun pengalaman kerja Anda, tidak lagi berarti," jelas Lee.

"Untuk beberapa alasan yang menggelikan, seberapapun tingginya pendidikan Anda tidak ada artinya jika menikah. Yang dituntut bagi seorang istri adalah apakah Anda cukup mampu mengurus suami dan mertua," imbuh perempuan yang mengantongi dua gelar master ini.

Lee banyak melihat rekannya yang berpendidikan tinggi mengalami hambatan di tempat kerja, ditambah lagi masalah dalam rumah tangga setelah kawin dan punya anak.

Fenomena rumah tangga di Korea ini digambarkan dengan apik di filmKim Ji-young, Born 1982. Film yang diangkat dari novel feminis ini mengangkat persoalan perempuan di Korsel yang memilih menikah, sehingga terpaksa mesti berhenti bekerja dan berjuang membesarkan anak dengan dukungan yang minim.

Dari situs pencarian di Korsel terungkap, sebagian besar perempuan memberi nilai 9,5 dari skala tertinggi 10 untuk film tersebut. Sebaliknya kaum pria memberi rating jelek, 2,8.

Lepas dari Korset

Satu dekade lalu, lebih dari 47 % perempuan lajang di Korsel atau yang tidak pernah menikah, masih percaya lembaga pernikahan tetap dibutuhkan. Namun, tahun lalu, datanya merosot hingga tinggal 22,4%. Jumlah pasangan yang menikah juga turun dari 434.900 pasangan pada 1996, hingga 257.600 pada tahun ini.

Sejauh ini memang tidak ada data resmi berapa anggota gerakan 4B, tapi salah seorang anggotanya mereka memiliki sekitar 4.000 pengikut. Sebuah channel Youtube feminis yang antiperkawinan dan merawat anak, memiliki lebih dari 100.000 subscribers.

Lee sendiri mengadopsi prinsip 'lepas dari korset', sebuah gerakan di Korea yang menyerang standar kecantikan. Beberapa penganut gerakan ini bahkan ada yang memviralkan video saat mereka membuang semua koleksi perangkat kosmetik yang mereka punya.

Yoon Ji-hye, seorang youtuber perempuan berusia 24 tahun merasa kaum perempuan di Korea sering kali dituntut manut atau pasif, bertingkah manis, ceria, sekaligus menarik perhatian. Dia menolak stereotif tersebut dengan memangkas rambutnya dan berpenampilan layaknya pria. "Saya pernah menghabiskan berjam-jam hanya untuk melihat bagaimana caranya make-up di youtube, juga membeli alat-alat kecantikan seharga US$200 setiap bulan," tukas Yoon yang kini masih tinggal bersama orang tuanya.

Selain menolak stigma dan tuntutan nilai patriakal, kaum feminis di Korsel juga mengecam kamera porno tersembunyi yang kerap menjadikan perempuan sebagai korban. Modusnya, biasanya para pria secara diam-diam merekam pasangannya, baik ketika mereka sedang bercinta ataupun dalam keadaan tanpa busana, dan kemudian menyebarkannya di internet. Itulah yang membuat Yoon enggan lagi menjalin hubungan dengan pria.

Kaum feminis ini juga semakin kecewa terhadap laki-laki, ketika tahun lalu seorang politikus pria yang mengaku sebagai feminis, justru terbukti memerkosa perempuan yang meminta bantuan padanya. "Sebagai perempuan, saya merasa tidak bisa menerima sistem di masyarakat ini. Kami tidak butuh pria. Bagi saya kencan atau pun pernikahan, tidak lagi penting," tegas Lee.

Menurut Shin Gi-wook, sosiolog dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, gerakan 4B dan Lepas dari Korset adalah gerakan feminis paling radikal yang pernah muncul di Korea. "Empat kondisi itu "perkawinan, menjadi ibu, berkencan, dan bercinta, memang kerap menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Begitu pun representasi dari Korset yang seolah membelenggu tubuh perempuan," ujarnya.

Munculnya para perempuan yang berprinsip seperti ini diyakini bakal mengubah peta demografi penduduk Korea di kemudian hari. Pemerintah memprediksi 55 juta populasi saat ini bakal menyusut hingga 39 juta pada 2067, di mana setengahnya berusia 62 tahun ke atas alias manula.(A-1)

 

 

Artikel Asli