Generasi Sandwich Pahlawan untuk Keluarga?

Opini Stories Dipublikasikan 07.32, 13/11/2019 • Maria Septia

Sudah menjalani kehidupan mandiri atau sudah memiliki keluarga sendiri, kadang seseorang masih harus bertanggung jawab untuk mengurusi kebutuhan finansial orangtua atau keluarga intinya.

Kondisi seperti ini memang lazim terjadi sehingga kelompok seperti ini dijuluki generasi sandwich. Generasi sandwich adalah korban atau justru pahlawan untuk keluarga?

“I am a member of the 'sandwich' generation, that group that must simultaneously care for elderly parents and support children.”

- Sandra Tsing Loh

Apa Itu Generasi Sandwich?

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (AS) yaitu Dorothy A. Miller, pada 1981. Ia memperkenalkan istilah generasi sandwich dalam jurnal berjudul "The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging."

Istilah generasi sandwich memang banyak dialami oleh mereka yang berada dalam posisi bertanggung jawab mengurusi generasi di atas dan di bawahnya, sekaligus memenuhi kebutuhannya sendiri.

Generasi di atas generasi sandwich adalah orangtua dan mertua. Sedangkan generasi di bawah generasi sandwich adalah anak, adik, atau keponakan.

Istilah generasi sandwich sebuah analogi yang menggambarkan kondisi keuangan, yang belakangan dialami generasi milenial. Sumber: 123rf/ Inspirestock International

Dalam jurnal yang diterbitkan Dorothy, generasi sandwich dideskripsikan sebagai generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tidak hanya orangtua dan juga anak-anak mereka. Generasi sandwich ini rentan mengalami banyak tekanan karena mereka merupakan sumber utama penyokong hidup orang tua dan juga anak-anak mereka.

Ciri-ciri Generasi Sandwich

Dikutip dari seniorliving.org, Aging and Elder Care Expert Carol Abaya memaparkan, peningkatan jumlah generasi sandwich mencapai 47 persen orang dewasa di usia 40 hingga 50 tahun yang memiliki orangtua 65 tahun atau lebih dan juga membesarkan anak. Selain itu, satu dari tujuh orang dewasa ini secara finansial membantu orangtua mereka dan satu atau lebih anak-anak.

Generasi sandwich, beban hidup atau rasa syukur bisa membalas jasa kepada orangtua? Sumber: 123.rf/  twinsterphoto

Berikut ciri-ciri generasi sandwich menurut Carol yang secara umum bisa dilihat dari perannya.

1. The traditional sandwich generation

Generasi sandwich ini adalah orang dewasa biasanya berusia 40-an atau awal 50-an tahun diapit di antara orangtua yang sudah lanjut usia dan anak-anak yang biasanya membutuhkan bantuan keuangan.

2. The club sandwich generation

Generasi sandwich ini adalah orang dewasa yang lebih tua berusia 50 atau 60-an yang terjepit di antara orangtua yang sudah lanjut usia, anak-anak dewasa dan juga mungkin cucu. Istilah ini juga dapat merujuk pada orang dewasa yang lebih muda di usia 30-an atau 40-an yang memiliki anak yang lebih muda, orang tua lanjut usia dan kakek nenek yang sudah lanjut usia.

3. The open faced sandwich generation

Generasi sandwich ini adalah siapa pun yang secara tidak profesional terlibat dalam perawatan lansia.

Generasi Sandwich Rentan Stres?

Seorang psikolog RS Hermina Pandanaran Semarang, Dhany Widijanti.S.Psi mengatakan generasi sandwich rentan stres karena beberapa faktor.

hadeuh terjebak di calon2 generasi sandwich membuatku stress. dari orang tua yg gabisa nabung, tapi adek2 umurnya belasan tahun sama gue. gue slalu nekenin sm mrk bahwa gue gamau biayain adik gue nanti. bukan masalah jahat atau apanya. kalo ngga nnti semua org tua bakal gitu?

— xsy (@Ieetaeyongiee) October 21, 2019

"Generasi sandwich rentan stres, tidak fokus pada pekerjaan, dan memunculkan polemik dalam rumah tangga karena manajemen yang kurang tepat. Kondisi tersebut akan diperparah jika payung finansial kurang dan kesehatan orangtua mereka kerap drop kerap bolak balik rumah sakit. Otomatis akan cukup menguras biaya bulanan dan waktu," jelas Dhany.

Tidak hanya laki-laki, perempuan juga banyak yang terjebak menjadi generasi sandwich. Sumber: 123rf/ Denis Ismagilov

Generasi sandwich ini berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan. Mereka seringkali terjebak dalam situasi harus mengerjakan banyak hal, tetapi durasi waktu sangat sedikit. Mereka juga selalu dituntut untuk multitasking serta harus berbagi perhatian, waktu, afeksi, dan kasih sayang.

Senada dengan Dhany, pakar psikologi dari Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana juga mengungkapkan generasi sandwich rentan stres. Stres yang didiamkan bisa menyebabkan keluhan fisik, pusing, dan lain sebagainya.

Apabila dibiarkan berlarut-larut dan tanpa solusi, Vera menuturkan, individu yang menjadi bagian generasi sandwich ini bisa mengalami depresi. Banyaknya kebutuhan yang dipikul generasi sandwich bisa menyebabkan konflik dalam keluarga.

“Banyak kepentingan berbenturan dari generasi atas, bawah, dan dirinya sendiri. (Belum lagi) mereka butuh berinteraksi sama kolega rekan kerja, teman-teman pergaulan, banyak sekali,” tutur Vera dikutip dari Republika.

Bisakah Memutus Rantai Generasi Sandwich?

Perencanaan keuangan yang matang memang penting untuk mempersiapkan masa tua. Hal ini bertujuan agar bisa hidup mandiri dan sejahtera saat masuk masa tidak produktif. 

Bantu orangtua menyiapkan dana pensiun dan buat perencanaan matang untuk prioritas keuanganmu dan keluarga. Sumber: 123rf/ Andriy Popov  

Menurut penelitian LIMRA (Life Insurance Management Research Association), dari hasil penelitian terhadap orang yang berusia di atas usia 65 tahun, hanya 5 persen yang hidupnya sejahtera dan mandiri, 49 persen hidup masih tergantung dengan orang lain atau anaknya.

Selain itu, peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan beberapa cara untuk memutus rantai kebiasaan yang membuat generasi sandwich. Bhima menyebut, anak bisa mulai mendiskusikan rencana pensiun orangtua yang saat ini masih produktif.

"Bisa dibicarakan secara matang. Misalnya mempersiapkan investasi jangka panjang ketika orang tua masih produktif, atau ikut asuransi hari tua," kata Bhima dikutip dari Detik.com.

Generasi milenial juga harus kreatif mencari pendapatan sampingan. Misalnya saat ini karyawan, lalu di rumah bisa bisnis kecil-kecilan jualan via online, content creator atau web developing yang bisa dilakukan usai jam kantor.

Dilema bagi mereka yang 'terjebak' menjadi generasi sandwich. Antara menjadi pahlawan untuk keluarga karena berbakti mengurus kebutuhan finansial, mereka juga menanggung beban finansial untuk diri sendiri dan keluarga kecil mereka.

"Gue harus biayain orangtua, adik gue yang masih kuliah. Cicilan KPR dan persiapan anak masuk sekolah," ujar Risa (28) menceritakan kisahnya dengan tim Opini.id.

Risa merupakan pegawai swasta yang jabatannya sudah berada di level manager. Meski penghasilan yang ia dapat perbulan sudah masuk double digit, tapi tanggung jawab memenuhi finansial orangtua, adik serta keluarga intinya membuat ia merasakan sulitnya menjadi generasi sandwich.

"Rencana untuk keluarga gue sendiri rasanya sulit tercapai. Ya mau gak mau, anggap aja jadi pahlawan untuk keluarga. Masa gue mau biarin orangtua dan adik gue kesulitan," tutup Risa.

Rantai generasi sandwich masih bisa diputus. Sudahkah kita melakukannya? Bila belum, tidak ada kata terlambat. Daripada tidak mempersiapkan sama sekali, ada baiknya mulai mempersiapkan perencanaan keuangan secara matang untuk masa pensiun nanti.

Mengelola Keuangan Generasi Sandwich

Jika kamu termasuk dalam generasi ini, perhatikan cara mengelola keuangan generasi sandwich:

1. Kebutuhan anak-anak

Biaya pendidikan jadi salah satu yang prioritas. Apalagi biaya pendidikan setiap tahun naik 15 sampai 20 persen. Selain cermat dalam mengatur keuangan kita juga harus tepat dalam memilih instrumen investasi untuk mempersiapkan dana pendidikan anak-anak. Selain biaya sekolah, penting juga memperhatikan biaya-biaya lain pada saat anak menempuh pendidikan misalnya biaya kost (jika jauh dari rumah), biaya hidup sehari-hari (jika kost).

2. Dana hari tua

Jangan sia-siakan usia produktif, karena di usia ini kesempatan kita untuk membangun dana pensiun. Apabila bekerja sebagai karyawan maka tidak ada salahnya apabila tetap mempersiapkan dana pensiun meskipun perusahaan tempat kita bekerja sudah menyiapkan dana pensiun. Dengan memiliki dana pensiun, pada masa depan nanti kita tidak perlu membebani anak-anak.

3. Biaya orangtua

Sebagai generasi sandwich ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mengefesiensikan pengelolaan arus kas terutama jika orangtua benar-benar membutuhkan bantuan.

4. Perlindungan kesehatan

Pastikan orangtua mendapatkan program perlindungan kesehatan untuk orangtua. Dengan mengikuti program perlindungan kesehatan, arus kas kita bisa lebih stabil. Jika terjadi masalah kesehatan pada orangtua, kita telah membagi tanggungan dengan pihak ketiga penyedia jasa perlindungan kesehatan tersebut.

Artikel Asli