Geigi - Part 2: Geigi!

Storial.co Dipublikasikan 03.44, 02/06 • Mizan Media Utama
1 Geigi!

Apa kamu pernah atau mungkin sedang jatuh cinta pada usia remaja?

Aku belum pernah. Setiap melihat cowok yang katanya tampan di sekolah ini, aku hanya akan bertanya-tanya dalam hati, Apanya yang menarik? Ganteng dari mananya? Kenapa cowok kayak gitu bisa digilai cewek-cewek di sekolah ini? Tertarik saja tidak pernah. Bagaimana aku bisa menyukai seorang cowok?

Entah mataku yang salah atau mata mereka yang salah atau … mungkin hatiku yang bermasalah. Jujur, meski aku selalu menganggap remeh semua itu, jauh di dalam hatiku aku merasa takut. Aku takut merasakan suka kepada lawan jenis, sekaligus takut tidak akan pernah merasakan perasaan seperti itu. Sejak perceraian Mama dan Papa tiga tahun yang lalu, perasaan takut itu mulai muncul.

Aku bertopang dagu di balkon. Pandanganku tertuju ke lapangan basket. Ada beberapa siswa yang sedang bermain basket di sana. Biasa saja. Tidak ada yang spesial. Cowok pintar lebih kelihatan keren di mataku dibanding cowok-cowok yang gemar olahraga.

Oh, ya. Ada satu hal yang aku sadari di diriku. Meski aku belum pernah jatuh cinta, tapi aku lebih suka melihat cowok yang berkutat dengan buku-buku dibanding cowok olahragawan. Yah, tipe yang seperti sekarang aku pandangi ini: pemain basket, bola, dan semacamnya.

Aku jadi teringat dengan ucapan Rumi mengenai seorang siswa kelas XI IPA 1 bernama … ah aku lupa namanya siapa. Dirga. Diram. Aku lupa. Yang jelas, katanya cowok itu adalah salah seorang anggota Olimpiade TIK. Tinggi, hidung mancung, dan segala ciri fisik lain yang berkaitan dengan stereotip tampan. Tapi, entah kenapa aku selalu memutar bola mata jika mendengar hal itu dari Rumi.

Sejauh aku mengenalnya, Rumi mudah suka dengan cowok-cowok di sekolah. Dia tidak pernah sedikit pun berpikir untuk menjadi pacar salah seorang di antara mereka. Mungkin hanya untuk senang-senang atau sebatas mengagumi mereka. Atau, apa ya istilahnya, menjadi fangirl? Contohnya, Kak Angkasa, siswa kelas XII IPA 1. Dari gosip yang beredar, dia punya banyak cewek. Meskipun demikian, aku akui dia pintar karena dia bagian dari anggota Olimpiade Matematika di SMA Nusa Cendekia. Rumi hampir ikut-ikutan menjadi salah seorang cewek yang berusaha mendekati Kak Angkasa.

Entah sudah berapa lama aku berdiri di balkon. Siswa-siswi di kelasku sangat heboh di dalam sana, padahal bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Rasanya malas sekali beranjak dari balkon ini. Bahkan, aku menolak ajakan Rumi ke toilet tadi.

Kuperhatikan jam di ponselku. Pukul 09.41. Masih ada banyak waktu untuk ke kantin. Aku menegakkan punggungku, kemudian menghirup oksigen dan mengembuskannya kasar. Beberapa detik kemudian aku mulai melangkah menuju kantin.

“GEIGI!”

Langkahku tiba-tiba berhenti setelah mendengar suara cempreng Rumi yang memanggilku.

“Pokoknya kita ke kelas IPA 1 sekarang! Gue nggak mau tahu.”

Aku berbalik menatapnya dan memutar bola mataku, berusaha memberi tanda. “Gue males, Rum!” Dari kata-katanya tadi, sudah pasti dia akan membawaku ke cowok yang dia maksud tadi.

“Ayolah!” Rumi mendekat dan cengar-cengir. Dia menarik-narik pergelangan tanganku sehingga aku ikut melangkah mengikutinya. Jarak XI IPA 1 dari kelasku, XI IPA 4 sangat dekat, hanya tinggal lurus sedikit. “Katanya lo mau tahu gimana rasanya jatuh cinta.”

Dia menarikku dengan semangat sehingga aku hanya bisa pasrah mengikutinya hingga tiba di depan kelas XI IPA 1. Dia memberikan laptopnya kepadaku dan langsung mendorong punggungku hingga aku berada di ambang pintu kelas XI IPA 1.

“Gi! Geigi?” panggil Rumi dengan berbisik. “Lo pernah bilang kan, mau buktiin apa lo bisa kuat di depan Dirgam?” Oh, namanya Dirgam. “Tuh, lihat! Yang duduk sendirian di bangku tengah. Yang lagi ngadep laptop. Cepetan samperin, Geigi!”

Kenapa sih, Rumi ini? Aku menghela napas panjang.

Oke, sekali lagi, namanya Dirgam—kalau aku tidak salah ingat. Siswa kelas XI IPA 1, Olimpiade TIK, dan sekarang sedang serius di depan laptop.

Aku melangkah ke kelas yang masih diisi beberapa murid. Aku tak peduli pada yang lain. Perhatianku hanya tertuju kepada Dirgam. Aku sangat gugup karena mendekati cowok itu bukan aku banget! Berusaha tidak peduli dengan tatapan herannya, aku menaruh laptop Rumi di atas meja yang ada di sampingnya. Kemudian, aku duduk di bangku kosong tepat di sampingnya.

“Em ….” Kenapa aku malah sulit bicara? Aku melirik Rumi sebentar yang seperti cacing kepanasan di luar kelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dirgam. Aku menatapnya tak mengerti dan menggeleng. Ini orang kenapa, sih? Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara. Matanya memelotot. Tangannya naik turun seperti seseorang yang ingin bersalaman.

Aku menepuk jidat pelan setelah mengerti apa maksud Rumi bertingkah seperti itu di depan sana. Dia pikir aku ini anak kecil yang tidak tahu caranya berkenalan dengan orang lain? Aku mulai mengerti apa yang tadi Rumi ucapkan. Rumi menyebut nama Ranya, teman SMP-ku dahulu yang sekarang menjadi teman kelas Dirgam.

Kuangkat tanganku dan tersenyum kaku kepada Dirgam. “Kenalin, gue Geigi. Temennya Ranya.”

Dia mengangkat alisnya. “Oh, hai,” katanya datar tanpa menjabat tanganku dan kembali sibuk dengan laptop.

Oh. Begini rasanya diabaikan. Oke.

“Ini … lo tahu, nggak, cara benerinnya gimana?” Aku menggeser laptop Rumi yang sudah dalam mode sleep. Kuhidupkan kembali hingga laptop itu menyala dan beberapa detik kemudian menampilkan background desktop yang terbagi tiga. “Kata temen gue, dia denger dari Ranya kalau lo bisa benerin.” Aku melirik ke luar pintu kelas, Rumi masih berdiri di sana sambil mengangkat jempolnya.

“Gue bukan tukang servis laptop,” katanya dengan tatapan yang tetap tertuju ke layar laptopnya sementara tangannya masih sibuk di atas keyboard.

Ih, dasar. “Gue nggak pernah bilang kalau lo itu tukang servis laptop.” Dia ternyata menyebalkan. “Gue cuma minta tolong. Kalau nggak mau bantuin, ya … ya udah,” balasku.

Dia berhenti dari aktivitasnya dan menatapku selama beberapa detik sampai kemudian berkata, “Setelah ini lo bisa langsung pergi.”

Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan cemberut. Kepalaku maju sedikit dan tanpa sengaja melihat namanya di seragam sekolah.

Dirgam Barie

Dirgam Barie. Kuulang sekali lagi dalam hati. Aku mengangguk-angguk dan mencoba mengingat nama panjangnya. Aku menunggunya selesai mengutak-atik laptop Rumi. Tanpa kusadari, tekukan di wajahku berubah setelah menatap wajahnya dari samping.

Aku teringat dengan ucapan Rumi, kalau seseorang ingin tahu apa dia sedang jatuh cinta maka orang itu harus menatap lawan jenisnya tanpa berkedip. Aku mencoba melakukan saran Rumi. Aku menyangga daguku dengan tangan di atas meja sambil menatap Dirgam, lama.

Hidungnya mancung. Bulu matanya lentik. Kulitnya sawo matang seperti cowok-cowok Indonesia kebanyakan. Kemarin aku tak sengaja melihat Dirgam berjalan di koridor, dia terlihat paling tinggi di antara dua siswa lain yang berjalan bersamanya. Rumi bilang, Dirgam ini ganteng.

Alisku menukik. Ganteng, ya? Kucondongkan badan ke arahnya. Hanya ingin melihat lebih dekat, tanpa maksud lain.

Dan, setelah menatapnya lekat-lekat, aku setuju dengan Rumi.

Akan tetapi, kenapa aku tidak merasa … deg-degan? Rumi bilang, dia selalu merasa “meleleh” tiap melihat Dirgam. Tapi, tidak denganku. Aku tak merasakan apa-apa meski sudah melihatnya sedekat ini.

“Ngapain ngelihatin gue kayak gitu?”

Aku termangu. Gelagapan. Rasanya malu tertangkap basah seperti ini. “Eng-nggak. Siapa yang ngelihatin lo?” tanyaku tanpa berani menatapnya.

“Ini udah bagus lagi,” katanya. “Nanti kalau lo matiin, kemungkinan bakalan balik lagi kayak tadi.”

“Jadi?” tanyaku.

“Jadi?” tanyanya balik, menatapku dengan sorot tajam. “Ya, bawa ke tukang servis, lah.”

Aku berdeham. “Thanks,” ucapku tulus. Dia sudah meluangkan waktu beberapa menit untukku, meskipun dari nada bicaranya dia terkesan galak. “Karena udah mau luangin waktu lo.”

Setelah aku keluar dari celah meja dan kursi sambil membawa laptop Rumi, aku tidak mendengar suara Dirgam lagi. Padahal, aku berharap dia membalas ucapan terima kasihku.

See. Dia cuek!

Artikel Asli