Gebetan Tari

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 15/06/2019 • Anjar Anastasia
freepik

Tiap pagi yang paling rempong dengan semua hal nggak ada lain, nggak bukan adalah si Tari. Mulai dari bangun kesiangan, di kamar mandi teriak-teriak karena lupa bawa apa saja sampai mamanya harus turun tangan hingga makan pagi pun bisa kebawa deh rempongnya itu. Padahal makanan dan minuman yang disajikan sesuai dengan yang diminta. Bi Irus kan sudah hapal betul kesukaan dari anak majikannya itu.

“Kamu ini sudah sering telat, coba jangan terus-terusan diulang tho, Ri…,” pesan mamanya mengingatkan.

“Habis, kalau ngerjain tugas kan sampai malam, Ma… Gimana tidur nggak kurang?” bantah Tari cemberut.

“Pasti bisalah. Yuni aja bisa kok. Tuh nggak pernah terlambat,” Mama Tari menunjuk dengan kepalanya Yuni yang sedang mencium tangan ibunya sebagai tanda pamit hendak sekolah.

Tari langsung merengut dibandingkan begitu. Ya iyalah… Dia paling sebel kalau mamanya suka membandingkan dia dengan Yuni, anaknya Bi Irus. Tari merasa beda banget dia dengan anak asisten rumah tangganya itu.

Yuni itu tadinya tinggal di kampung. Pas masuk SMA, Mama Tari mengusulkan ke Bi Irus supaya membawa anaknya ke kota dan tinggal bersama mereka. Kebetulan Bi Irus punya kamar sendiri di belakang. Cukuplah buat berdua dengan anaknya itu.

Kata Mama Tari sih, supaya Bi Irus gampang memperhatikan Yuni dan siapa tahu nanti Yuni bisa meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Bi Irus memang kepengen anak bungsunya itu bisa sekolah tingginya menurut saja.

Tinggal Tari yang dari awal nggak suka ada Yuni di rumah ini. Biar Bi Irus itu pengasuhnya dari dia kecil, dia nggak suka aja kalau Yuni ikutan di sana. Seumuran pula.

Bukan cemburu sih, nggak suka saja karena nanti ujung-ujungnya dibandingkan kayak barusan. Sebel nggak sih?

“Coba kamu sekali-sekali belajar bareng sama Yuni. Mungkin bisa membantumu lebih cepat mengerjakan tugas-tugas sekolahmu. Kan bisa dikerjakan bareng,” usul mamanya.

“Liat nanti deh, Ma…” Tari makin malas mendengar mamanya bicara menyebut nama Yuni. Segera ia habiskan sarapannya lalu bergegas pamit. Pak Manto supirnya telah lama menunggu. Yuni yang sudah duluan naik angkot. Dia memang nggak mau bareng anak majikan ibunya itu meski mereka satu sekolah.

Meski Yuni naik angkot, lebih seringnya dia sampai duluan ke sekolah daripada Tari. Alasannya? Selain karena suka macet , ya karena dampak kesiangan Tari tadi.

“Kesiangan lagi kamu?” tanya Rina, teman sebangkunya, sesaat Tari masuk tergesa-gesa. Semenit lagi lonceng bunyi. Lewat dari itu, bisa kena hukuman dia.

“Iya, tugas matematika dan Bahasa Inggris kan gak kira-kira,” bela Tari sembari menenangkan nafasnya yang tersengal-sengal karena tadi berlarian. Belum lama ia istirahat, lonceng pun berbunyi.

“Kapan kamu bisa ngalahin Yuni kalo gini terus, Ri?” goda Rina. Yang digoda cuma memonyongkan mulutnya. Jam pertama ini pelajaran Bahasa Inggris. Kudu konsentrasi kalau nggak mau kerepotan mengikuti pelajaran selanjutnya.

^^^^^

Mata Tari nggak lepas dari pemandangan di depan.

Gebetan cewek satu itu tengah melintas. Pakaiannya yang selalu rapi serta senyumnya yang ramah membuat Tari nggak bosen memandangnya terus.

“Ciieee yang lagi gebetin Dipa. Kemana aja Bu selama ini baru sekarang ternganga gitu..,” goda Rina begitu tahu Tari tak lepas memandang Dipa yang sedang ngumpul bareng teman-temannya di hadapan mereka.

Tari menoleh ke sebelahnya. Rina sedang asyik menikmati minuman ringan sambil ikut memperhatikan gerombolan anak-anak di depan. “Dari dulu sih sebenernya. Tapi, mata gua baru liat benerannya ya kemaren ini.”

“Pasti karena dia makin ganteng ya?” tebak Rina

“Iya. Senyumnya makin manis dan bawaannya itu lho… Kalau nggak mercy, BMW. Paling biasa Fortuner. Wuiihhh… Keren banget,” puji Tari berbinar-binar.

“Wooo… Jadi kamu seneng sama orangnya, apa mobilnya?” Rina malah terkejut sendiri mendengar pujian Tari barusan.

“Dua-duanya dong, Non… Itu kan dua hal yang nggak bisa dipisahkan.”

Rina nggak bisa komentar lagi. 

Tari emang gitu orangnya. Seneng bener liat cowok yang bawa mobil keren gitu. Meski kalau kasusnya Dipa, dia selalu disetirin. Belum pernah lihat cowok itu nyetir sendiri. Belum boleh kali ya…

^^^^^

Pagi ini orang rumah Tari kembali diributkan dengan kondisi Tari. 

Bukan karena kebiasaannya yang suka kesiangan, tapi karena dia demam. Badannya dari semalam panas bener. Belum turun juga hingga pagi ini. Mamanya pun sudah sangat cemas. Mau membawanya ke dokter pagi ini. Berarti hari ini dia nggak akan masuk sekolah. Tadi papanya sudah buat surat izin nggak masuk dan dititipkan ke Yuni.

Yuni pun berangkat lebih pagi. Dia harus memastikan surat itu sampai ke wali kelas Tari. Mereka beda jurusan kelas. Tari kelas IPA sementara Yuni kelas IPS meski secara jarak kelas nggak jauh-jauh amat.

Waktu Yuni pindah ke sekolah ini, awalnya dia nggak yakin. Maklum, sebagai anak kampung, Yuni takut nggak bisa mengikuti pelajaran di sekolah yang terkenal ini. Ternyata, dari awal daftar, nilai Yuni dianggap cukup dan bisa masuk ke sekolahan itu, bareng dengan anak majikan ibunya.

Kalau soal malu atau enggak sebagai anak seorang pembantu, sebenarnya Yuni nggak terlalu peduli. Meski dia termasuk cewek pemalu, baginya pekerjaan ibunya itu sama saja dengan pekerjaan orang lain. Ibunya kerja keras demi dirinya dan keluarganya di kampung. Yang terpenting juga, pekerjaan ibunya itu halal. Maka dia memang nggak peduli orang mau ngomong apa tentang dia dan sang bunda.

Satu-satunya yang bikin dia cemas hanya soal pelajaran sekolah saja. Takut nggak terkejar. Dia kan nggak ingin mengecewakan ibunya dan tentu saja keluarga Tari yang telah mengizinkan dia tinggal bersama. Alhamdulilah, karena Yuni anaknya rajin dan giat, sampai kelas sebelas ini dia bisa mengikuti dengan baik. Bahkan pernah sekali waktu nilainya di atas Tari, anak majikan ibunya itu. Antara bangga dan nggak enak hati juga.

Ah… Biarkan saja. Toh, Yuni mendapatkannya dengan kerja keras. Yuni pun nggak menjadi sombong. Dia tetap seperti biasa. Sesekali bersedia membantu tugas sekolah Tari yang dia biasa. Maklum, kan beda jurusan meski ada beberapa pelajaran yang sama.

Nah, pas hari Tari nggak masuk itu sebenarnya dia diminta untuk mengingatkan ke Tari tugas bikin seperti kliping gitu untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Dikumpulkan besok harinya. Wah, Tari sedang sakit begitu, gimana cara mengerjakannya?

Kalau kata Rina, tugas itu pernah dikerjakan bareng dengannya beberapa hari lalu di perpustakaan. Jadi, Tari mungkin sudah mengerjakan separuhnya. Segera saja sesampai di rumah, Yuni bergegas menuju kamar Tari yang ada di lantai dua rumah besar itu.

“Maaf, Neng Tari… Tadi ada pesan dari Bu Siska, katanya tugas Bahasa Indonesianya besok tetap harus dikumpulin,” ujar Yuni sopan begitu ketukan pintu kamar ini disambut Tari agar yang mengetuk membuka pintu saja dan masuk. Tari sendiri masih sedang tergolek lemas di tempat tidurnya.

“Nanti aku bilang deh ke Rina biar minta izin ke Bu Siska. Ngumpulinnya nyusul,” jawab Tari ketus.

“Tadi saya ketemu Rina, katanya Neng Tari sebenarnya sudah mengerjakan setengahnya. Kalau boleh, biar setengahnya saya bantu kerjakan.”

Tari memandang Yuni sedemikian rupa.

Anak pembantu rumah tangganya ini sudah pernah nyalip nilai rapotnya bikin mama papanya ngeluarin semua omelannya. Kalau ngerjakan tugas juga nggak pernah bikin dia telat bangun kesiangan. Bahkan, Yuni ini juga jarang sakit dibanding dirinya. Sekarang mau bantuin ngerjain tugasnya pula. Hadeuh…

“Saya cuma ingin bantu aja kok, Neng… Bu Siska kan disiplin banget soal ngumpulin tugas,” ujar Yuni sambil menunduk begitu tahu dipandangi Tari sedemikian rupa. Rada serem juga digitukan.

Untungnya Tari sadar. Dia segera mengalihkan pandangannya.

Bener juga sih apa yang dibilang Yuni itu. Bu Siska displin banget orangnya. Bisa-bisa dia nggak akan dapat nilai tugas meski ada alasan sakit. Tari pun menunjuk meja belajarnya.

“Tuh di atas tumpukan koran itu ada kertas HVS, tugas yang sudah kukerjakan.”

Yuni pun segera mengambil barang yang dimaksud dan segera meninggalkan kamar Tari untuk mengerjakannya.

“”Ya udah sih. Udah bagus dibantuin, malah ngomel gini,” komentar Rina begitu dilaporkan Tari via sambungan telepon malam ini.

“Tapi, nanti pasti mama ngomel-ngomel lagi deh. Bandingin gue sama anak pembantu satu itu,” Tari malah makin kenceng mengatau Yuni.

“Wedew… Nggak boleh gitu lu. Yuni kan gitu-gitu juga sudah bantu elu banyak loh…”

“Iya. Tapi, harga diri gua dong kemana. Kemana…” Tari sedikit menarik urat omongannya. Dia rada panas dikomentarin Rina gitu.

“Harga diri elu mungkin dititipin ke tukang bakso. Semoga ditemuin Dipa deh biar dikembaliin lagi sama mobil mewahnya itu…”

Tari tertegun. Dia baru ingat, sudah dua hari ini nggak ketemu pujaan hati.

Apa kabarnya dia ya?

“Pasti lagi mikirin Dipa ya?” tebak Rina tepat. “Makanya cepet sembuh, Non. Nggak usah mikirin harga diri. Kaga sembu-sembuh ntar kalo dipikirin terus…”

Ada senyum simpul di bibir Tari.

Bener juga ya. Ngapain juga mikirin Yuni. Biar memang karena Yuni, Tari suka sirikan soal pelajaran, tapi seenggaknya soal Dipa pasti Yuni nggak akan berani ikut gebet. Cowok sekeren Dipa mau sama anak pembantu? 

Huh.

^^^^^

Tari sudah sehat. Ia boleh kembali masuk sekolah seperti biasa.

Meskipun itu berarti dia harus mengejar pelajaran yang tertinggal selama dia izin sakit, Tari senang bisa sekolah lagi. Bukan saja karena dia akan bertemu Dipa, pujaan hatinya, tapi juga karena dia nggak ingin terus menerus merasa ada di bawah Yuni untuk urusan pelajaran. 

Kemarin terakhir kan dia dibantu membuat tugas Bahasa Indonesia. Tadi, hasilnya ternyata dapat nilai 85. Termasuk nilai tertinggi di kelasnya. Rina saja cuma dapat 76. Padahal mereka kan sempat kerja bareng nyari bahannya.

“Keren deh lu, tugasnya dapat segitu,” puji Rina.

“Keren apanya? Separo tugas itu kan si anak pembantu itu yang ngerjain,” Tari mendadak sewot.

“Eh keren dong berarti. Dia bisa bantu kamu dapat nilai bagus. Yang dapat nilai segitu cuma kamu sama Edgar lho…”

Tari cemberut dibilang gitu. Pagi yang mestinya bisa diisi dengan semangat dan keceriaan malah membuatnya sedikit BT. Kalau sudah begini Rina sukanya malah seneng godain. Dia memang suka banget kalau lihat Tari cemberut. Lucu sih.

“Kok jadi malah cemberut nih.. Katanya mau nungguin Dipa. Dari kamu sakit kemarin belum ketemu kan?” goda Rina lagi. Mereka memang sengaja duduk di depan sekolahan pagi ini untuk menunggui Dipa. Tari sengaja datang lebih pagi demi menunggui begini. Tumben bangetlah dia bisa bangun pagi.

“Mau dong. Ngapain belain bangun pagi kalau nggak bisa ketemu si ganteng Dipa?”

“Si ganteng apa si kaya?”

“Ih, kamu ini senengnya godain mulu deh…”

Belum lama digoda begitu, mendadak melintas salah satu angkot yang memang biasa lewat di depan sekolah mereka. Beberapa anak sekolah yang mereka kenal turun dari angkot itu satu-satu. Diantara mereka ada… 

“Lho kok… Dipa?” tanpa sengaja Tari sedikit teriak memanggil nama Dipa begitu melihat Dipa turun dari angkot lalu membayar ongkosnya. Tari dan Rina saling berpandangan lalu bengong.

“Selamat pagi, Tar, Rin…” Sapa Dipa ramah diiringi senyum khasnya yang selalu membuat Tari meleleh. 

Tapi, kali ini bukan GR yang melingkupi diri Tari, sebaliknya dia masih bingung dengan kondisi yang baru dilihatnya. 

“Eh.. Oh… Kok kamu naik angkot?” tanya Tari pelan. Nggak bisa menyembunyikan penasarannya.

Dipa melihat sejenak angkot yang ditunjuk Tari barusan. “Ooo… Kebetulan anaknya Pak David, majikan bapakku pindah sekolah ke Singapura. Jadi, ya aku naik angkot saja.”

Sekali lagi Tari dan Rina berpandangan. Mereka benar-benar nggak ngerti.

“Maksudnya gimana tuh?” Rina nggak tahan juga ingin tahu.

“Bapakku itu supir di keluarga Pak David. Anak bungsu Pak David itu anak berkebutuhan khusus. Nggak tahu kenapa dekat dan nurut banget sama aku. Nah, dia mau sekolah asal bareng sama aku. Jadinya SDnya milih yang sekomplek dengan sekolahan kita ini. Kemarin mamanya mau sekolahin dia ke Singapura. Jadinya, ya bapak nggak nganter majikan kecilnya itu lagi deh… Makanya aku naik angkot lagi.”

“Oooohh…” Tari dan Rina manggut-manggut.

“Aku masuk dulu ya. Sebentar lagi bel lho…” Dipa mengingatkan. Ia melangkah meninggalkan kedua cewek itu diiringi senyumnya yang kali ini bikin Tari menarik nafas.

Jadi selama ini, kalau Dipa antar jemput naik mobil mewah itu karena dia sekalian diantar jemput oleh bapaknya yang supir Pak David, pemilik mobil itu?

Oh God…

“Don’t judge a book by its cover, don’t judge…” Rina menepuk-nepuk pundak Tari sembari memainkan jemarinya memberi kode jangan. Langkah kakinya pelan meninggalkan Tari yang kayaknya masih belum percaya dengan apa yang barusan dialami.

Samar bunyi lonceng sudah mulai terdengar. Itu berarti pelajaran akan segera dimulai. Lamat Tari pun melangkah gontai masuk ke dalam sekolahnya, menyiapkan diri mengikuti semua pelajaran hari ini.

***

Tentang Penulis:

Anjar Anastasia adalah seorang perempuan penulis yang tinggal di Bandung. Kelahiran Tanjungkarang, Lampung, langkahnya hingga sekarang menetap di Bandung adalah karena obsesinya mengembangkan bakat dan hobinya di bidang tulis menulis. Hingga kini ia sudah menerbitkan beberapa buku berupa novel, biografi, motivasi, novel digital juga beberapa skenario film. Ia pernah juga menjadi wartawan majalah ibukota meski pada akhirnya lebih memilih menjadi penulis saja. 

Sebab bagi anjar, “Karena menulis adalah berbagi hidup.”

Novel yang baru ia rilis tahun 2019 ini adalah sebuah novel remaja berjudul “Tentang Dini, Dia dan Mereka.” Terbitan Rumah Dehonian. Novel itu berkisah tentang dunia remaja yang tidak jauh dari persahabatan, percintaan dan tentu saja keluarga. Meski diantaranya kadang menjadi batu sandungan, ternyata tetap ada yang selalu siap menerima kita apa adanya. Mereka adalah keluarga. Novel ini sudah tersedia di toko-toko buku sejak bulan April 2019. Bisa dilihat di sini

Novel digital bisa dilihat di sini

Medsos:

FB/youtube : Anjar Anastasia

Twitter/IG : berajasenja

Blog : https://berajasenja.wordpress.com/