Garis Mahir Kaum Nyasar

Jawapos Diupdate 19.41, 26/01/2020 • Dipublikasikan 19.41, 26/01/2020 • Ilham Safutra
Garis Mahir Kaum Nyasar

SUASANA sarapan pagi di restoran sebuah hotel heboh. Seorang balita umur 4 tahun bikin repot dua babysitter. Kedua pengasuh membawa banyak perlengkapan dalam ransel mungil dan tas jinjing. Salah satu pengasuh mengambil kain, botol susu, dan mainan elektronik. Pengasuh lain menggendong dan menenangkan bocah yang rewel.

Dua pengasuh ternyata tak cukup bagi seorang bocah. Padahal, si anak bukan penyandang ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Si bocah meronta. Tangisannya sangat nyaring. Kakek datang menenangkan. Nenek menggendong bocah yang mulai tumbuh besar itu. Si kakek, saat kerewelan reda, mengajak cucu bermain game pakai tablet. Bocah didudukkan di meja makan. Pikirannya terbelah, meneruskan makan atau bermain.

Anak itu tampak senang memegang gawai. Ia membuat pelayan restoran kerepotan karena di meja ada plate matte, sendok-garpu, dan dua botol salt-pepper. Seorang pelayan berlari merapikan meja sebelum bocah itu menendang atau menyenggol perlengkapan makan akibat gerak motorik belum beraturan.

Kakek dan nenek berusaha keras menolongnya. Si anak tampak tertawa bermain gawai. Ia belum kunjung mau makan. Tante datang hendak menyuapi. Si Bocah menampiknya. Nasi tumpah berceceran di lantai.

Kedua orang tua bocah itu cuek. Bapak sibuk dengan gadget. Ibu yang jengkel terpaksa bangkit menggendong anaknya. Ia memarahi kedua pengasuh yang dianggap tak becus mengurus anak. Si bocah tetap susah dikendalikan.

Ia tidak senang saat diturunkan dari meja makan. Bocah itu berlari-lari sendirian. Menabrak para pengunjung restoran yang membawa makanan. Pagi itu sudah enam orang yang menangani si bocah. Hasilnya sia-sia. Bocah itu mestinya sudah bisa mengatur diri sendiri.

Dibutuhkan enam orang dewasa untuk mengurus seorang bocah. Si anak belum punya aturan. Yang dewasa lupa bahwa anak-anak butuh diajari berkarakter: berpikir, berbicara, dan berperilaku terpuji. Agar terlatih mengarungi perjalanan panjang hidup mereka kelak yang terjal, mendaki, dan penuh onak duri.

Belajar saat belia bagaikan memahat di atas batu. Belajar saat dewasa ibarat mengukir di atas air. Pembelajaran yang dialami anak ketika masih belia, bagai pahatan batu, akan membekas kuat dalam ingatan sebagai pembentuk diri. Pembelajaran yang diterima sesudah dewasa sulit tertanam. Bagai mengukir dalam air. Hilang tak berbekas.

***

Ungkapan itu menggambarkan pameran pendidikan bertajuk Garis Mahir. Pameran berlangsung 11 Januari–1 Februari 2020 di Galeri Omah Petroek, Wonorejo, Hargo Binangun, Pakem, Sleman, Jogjakarta. Pameran pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan program ekstensi Konferensi Pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Ekstensi itu hasil kerja sama Omah Petroek dengan Rumah Perubahan.

Inilah kelak yang bakal terjadi pada bocah yang dilayani enam orang dewasa. Saat remaja jadi generasi strawberry yang hidup nyaman berkat fasilitas yang dibeli orang tua. Dia kemungkinan besar, saat dewasa, gagal mengemudikan ”kendaraan” bernama self. Dia terus akan terus tergantung dan menjadi beban orang lain. Tak punya pendirian. Itulah pentingnya seseorang memiliki kendali atas dirinya.

Dalam pameran orang seperti ini disebut manusia bermental pecundang (bad passenger). Bukan pemenang (good driver). Pameran menunjukkan program ’’nyasar’’ agar orang bermental driver. Peserta program nyasar ditugasi Rhenald Kasali pergi ke luar negeri sendirian. Selama beberapa minggu mempraktikkan ilmu pemasaran internasional di India, Kamboja, Turki, Belanda, dan Finlandia. Program yang membuat peserta berkarakter tahan uji.

Pameran Garis Mahir dibuka Sindhunata dan Rhenald Kasali. Menampilkan praktik-praktik bagus karya PAUD Kutilang, Rumah Perubahan Bekasi yang dikelola Bunda Elisa Kasali. Karya para murid dalam proses tumbuh kembang dipamerkan. Hasil bimbingan para guru yang sangat berdedikasi. Dua orang guru, Bunda Nana dan Bunda Intan, dua guru PAUD Kutilang memberikan penjelasan kepada ratusan audiens yang meriung saat pembukaan pameran.

Enam produk PAUD dipajang. Menggunting, menggambar, melukis, meronce, menulis, dan membangun. Seluruhnya menunjukkan tahapan proses melatih otak, motorik, dan emosi anak-anak. Kegiatan pembelajaran menggunakan metode beyond centers and circle time (BCCT). Di Indonesia metode itu disebut Sentra. Metode yang menempatkan anak didik sebagai pusat kegiatan belajar. Metode Sentra dirancang untuk menstimulus otak anak aktif, kreatif, dan eksploratif. Bukan mengikuti perintah, meniru, atau menghafal yang diajarkan guru.

PAUD Kutilang membentuk karakter dan ketangguhan anak melalui enam sentra (balok, peran, persiapan, bahan alam, seni, dan iman takwa). Sentra berperan membangun kecerdasan majemuk (linguistik, logis matematis, musikal, kinestetis, spasial, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensial, spiritual). Mengasah tujuh unsur esensial kehidupan (fokus dan pengendalian diri, mengambil sudut pandang, komunikatif, membangun jaringan, berpikir kritis, berani mengatasi tantangan, dan kecintaan belajar). Dan mengolah enam domain perkembangan anak (mutu, hormat, jujur, bersih, cinta, sabar, syukur, ikhlas).

Menggunting, menggambar, melukis, dan meronce merupakan sentra seni. Pameran Garis Mahir memperagakan tahap-tahap perkembangan anak melalui goresan krayon (menggambar) dan kuas cat (melukis). Di ruang pamer juga dipajang produk sentra balok. Permainan untuk membangun struktur berpikir anak. Balok media dengan bentuk yang memungkinkan anak masuk tahap permainan membangun. Balok, dalam Metode Sentra, salah satu instrumen penting. Pameran menyajikan berbagai bentuk balok geometris dalam berbagai ukuran tanpa warna. Sentra balok merangsang anak menciptakan bentuk bangunan bervariasi. ”Ini rumah saya. Ini kucing saya. Ayah parkir mobil di garasi ini,” celoteh anak saat bermain balok kayu. Sebelum anak bisa menulis cerita, permainan balok melatih anak bercerita secara oral.

Balok yang dipamerkan diproduksi anak sulung Rhenald Kasali yang menjadi pembuat alat permainan edukatif dari kayu indiblocks. Bahan dari kayu maple yang keras, berat, dan tak berserat. Bahan itu dikerjakan dengan presisi untuk mendidik anak agar tak bermental manipulatif-koruptif. Presisi mengajari anak hidup teratur dan seimbang. Pula, membentuk logika berpikir dan matematika. Saat bermain balok tidak berarti anak hanya belajar membangun rumah-rumahan. Pada saat bersamaan juga belajar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian menggunakan balok-balok kayu.

Non-direct teaching. Pengetahuan tidak diajarkan, melainkan ditemukan anak-anak sendiri melalui pengalaman bermain yang direncanakan gurunya. Anak-anak menyerap pemahaman dari proses bermain. PAUD (playgroup dan TK) tak boleh lagi salah kaprah mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Calistung telanjur dijadikan tolok ukur keberhasilan PAUD. Pameran Garis Mahir menyadarkan kekeliruan besar pengelolaan PAUD selama ini.***

*J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese De Britto Jogjakarta

Artikel Asli