Game Perang Diduga Picu Peneror Air Keras di Jakbar Jadi Lebih Agresif

kumparan Dipublikasikan 16.40, 18/11/2019 • Fachrul Irwinsyah
Luka penyiraman air keras di tubuh Sakinah. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan

Perilaku agresif peneror air keras di Jakarta Barat, FY, diduga berkaitan dengan dengan kecanduan game perang. Psikolog yang memeriksa FY, Kasandra, menyatakan game perang itu memicu FY lebih agresif dalam meluapkan kekesalan.

"Berdasarkan penelitian tentang pemain gadget dan perilaku (FY), ternyata sangat erat kaitannya antara pilihan jenis permainan gadget, lamanya bermain gadget dengan perilaku," kata Kasandra di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (18/11).

Menurutnya, orang yang menyukai permainan game yang sportif seperti sepak bola atau basket akan mempengaruhi pemain untuk bertindak sesuai aturan. Sementara, game yang menunjukkan kekerasan seperti perang akan memicu perilaku agresif.

"Nah dengan demikian terbukti bahwa yang bersangkutan juga memang ada riwayat-riwayat agresivitas yang kemudian diperkuat dengan adanya permainan game. Dengan adanya permainan game yang dipilih adalah permainan game perang atau konflik," kata Kasandra.

Konferensi pers pengungkapan kasus penyiraman cairan kimia, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Foto: Ricky Febrian/kumparan

Meski begitu, ia juga menyebut perilaku buruk FY dipicu oleh kondisi keluarga. Menurutnya, FY merasa kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

"Karena itu menjadi dasar atau pondasi dari profil seseorang itu juga yang ikut bertanggung jawab kenapa dia tidak memiliki nilai kasih sayang kepada orang," kata Kasandra.

Selama melakukan teror air keras, menurut Kasandra FY tidak pernah memikirkan nasib sembilan perempuan yang menjadi korbannya. Pria itu hanya ingin perempuan yang menjadi korbannya merasakan sakit yang ia derita.

"Yang penting adalah orang-orang merasakan penderitaan dia yang tentu saja tidak adil dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kewajaran dan nilai-nilai kasih sayang kepada sesama," kata Kasandra.

Selain itu, FY memiliki alasan sendiri memilih korban dengan ciri memakai rok. Meski, Kasandra mengatakan, FY sebenarnya tidak tertarik dengan perempuan.

"Dia lebih tertarik ke game, dan pemilihan korban ini lebih kepada alasan perempuan ini inferior (lebih lemah) ya. Artinya dianggap lebih lemah dan yang dipilih karena menggunakan rok panjang," kata Kasandra.

Menurut Kasandra, pengguna rok akan sulit melawan FY saat diserang menggunakan air keras. Sehingga, FY beranggapan bisa dengan mulus melarikan diri.

"Karena pake rok berarti gak bisa mengejar, karena dia pakai motor. Kalau misal korban laki-laki bisa jadi laki-laki akan mengejar dan membalas," kata Kasandra.

Psikolog Kasandra Putranto di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (18/11). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Teror penyiraman air keras terjadi di tiga lokasi, yakni Meruya, Kembangan, dan Kebon Jeruk. Korbannya terdiri dari delapan pelajar SMP dan seorang pedagang sayur.

Penyerangan pertama menimpa dua orang pelajar SMP di Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada 5 November. Kemudian penyerangan kedua yang dilakukan selang tiga hari memakan korban seorang lansia, Sakinah (60), ia disiram di kediamannya di Meruya, Kembangan.

Teror terakhir terjadi pada Jumat (15/11) siang di Jalan Mawar, Srengseng, Kembangan. Enam orang pelajar SMP menjadi korban penyerangan itu.

Namun, sebelum aksinya diketahui, FY pernah melakukan satu teror yang sama pada 3 November. Namun dalam penyerangan di dekat Polsek Kebon Jeruk itu, kandungan soda api yang digunakan oleh FY tidak besar sehingga tidak jatuh korban. Peristiwa itu juga tidak dilaporkan ke pihak kepolisian.

Artikel Asli