(Gak) Sendirian di Tol Cipularang

kumparan Dipublikasikan 08.15, 13/08
Unsplash.com
Unsplash.com

Sejak awal pembangunannya, jalan tol Cipularang sudah punya banyak cerita seram.

Karena kebetulan ada teman yang keluarga besarnya tinggal di daerah Cikalong, daerah yang juga menjadi bagian jalan tol itu, sedikit banyak gw tahu tentang beberapa cerita mistis yang beredar. 

Salah satu rumor akan gw angkat malam ini. 

Konon katanya, ada pemakaman umum yang masuk di jalur lintasan. Memang, sewaktu pembangunan, pemakaman dipindahkan ke tempat lain, tapi ada satu atau dua makam yang tertinggal, bukan karena kesengajaan tentunya. Katanya sih begitu.. 

Berikutnya, katanya ada satu tempat yang dianggap "keramat", namanya batu xxxx, gw lupa. Tempat ini dulunya banyak yang menjadikan tempat sasaran untuk mencari benda-benda "Pusaka", kalo sekarang gw gak tahu persisnya gimana. 

Yang pasti, tempat ini masih ada, tepatnya di sebelah kiri jalam tol, dari arah Bandung, kilometer sekian sekian.

Kalau sedang melintasi tol ini tengah malam, lalu tiba-tiba melihat bayangan hitam tinggi besar atau tiba-tiba kendaraan seperti ada yang mendorong ke sisi kanan atau kiri, kemungkinan besar sedang melintas tepat di tempat ini. Hati-hati. 

Apa pun sebabnya, kita memang sudah harus hati-hati, di mana aja dan kapan aja. 

Berdasarkan pengalaman gw yang sering melintasinya, tempat ini memang kelihatan amgker, aura mistisnya tinggi. Beberapa kali gw mengalami kejadian yang cukup aneh dan menyeramkan. 

Dua kisah pengalaman akan gw angkat kali ini. 

*** 

Cerita pertama, 

Dalam perjalanan dari Bamdung menuju jakarta, tengah malam. Ditemani oleh salah satu teman dekat, Ali namanya, gw di belakang kemudi. 

Singkatnya, sekitar jam 01.00 tengah malam, kami memasuki tol Cipularang masuk melalui gerbang Pasteur.

Saat itu bukan akhir pekan, jalan terbilang sepi. Sukurlah, kami juga gak dalam keadaan lelah atau mengantuk, karena memang baru aja memulai perjalanan. 

Gw memacu kendaraan gak terlalu cepat, karena memang gak ada yang kami kejar, sambil berbincang seru gw menginjak gas dengan kecepatan sedang. 

Tapi, ketika memasuki kilometer di bawah seratus (lupa pastinya), ada kejadian aneh.. 

Obrolan terhenti ketika pandangan gw tiba-tiba menangkap sesuatu yang sangat menarik perhatian.. 

Ada sosok hitam tinggi besar yang sedang berdiri di sisi sebelah kiri, di rerumputan sebelah bahu jalan. Sosok itu tingginya kira-kira tiga meter, tinggi dan besar sekali. 

Sekilas seperti bayangan hitam namun tiga dimensi, siluet yang punya beberapa sisi. 

Ali membaca gelagat gw..

"Ada apa Brii?, lo liat apa?" 

Tanpa kata, gw menunjuk ke arah mahluk/sosom yang sedang gw lihat tengah berdiri itu. 

"Allahuakbar…" Ali mengucap takbir, ketika akhirnya dia melihat objek yang sama. 

Sepersekian detik kemudian tiba-tiba sosok itu mulai bergerak berjalan menyeberang, mengarah persis ke tempat kendaraan kami akan menuju. Gw menekan rem perlahan, menghindari tabrakan. Jarak kami hanya sekitar tiga puluh meter. 

Nyaris berhenti, mobil gw arahkan ke tepi. Jarak kami dengan mahluk itu semakin dekat, semakin jelas terlihat detail sosoknya dibawah sinar lampu kendaraan. 

Benar, tinggi tubuhnya sekitar tiga meter, hitam legam nyaris tampak seperti bayangan. Kami gak melihat jelas bagian wajahnya, karna melihatnya dari samping. 

Setelah berpapasan, kemudian dia berjalan menjauh, menyeberang ke kanan, menuju ke hutan kecil yang ada di pinggir jalan tol, kemudian menghilang.. 

Benar-benar kejadian bebeberapa detik yang cukup aneh dan menyeramkan. 

Mahluk apakah itu kira-kira?  

*** 

Cerita kedua..  

Tahun 2006, ketika masih kuliah di Bandung, sebelum tinggal di Rumah Teteh. Memutuskan untuk pulang ke Cilegon karna kebetulan ada libur kuliah yang agak panjang. 

Mengendarai mobil sendirian, gw berangkat dari Bandung nyaris tengah malam. Kenapa semalam itu? karna ada sesuatu yang harus diselesaikan dulu. 

Ingat banget kalau waktu itu malam jumat, karena sebelum meninggalkan meninggalkan Bandung gw menyempatkan untuk mendengarkan acara horor di radio Ardan, nightmare side judulnya. Acara ini hanya tayang satu minggu sekali, malam jumat.  

Kenapa gw ingat? Karna rentetan kejadiannya saling berhubungan.. 

Gw mendengarkan acara radio itu selama perjalanan dari Cibiru menuju Bandung. 

Gw memang hobi mendengarkan acara itu sejak awal kuliah, makanya selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan, di mana aja. waktu itu gw dengarnya di Radio mobil, sendirian.  

Padahal tagline acara itu "Jangan pernah mendengarkan acara ini sendirian..", tapi gw sering bandel, makanya sering kejadian. 

Nah, pada waktu itu salah satu bagian ceritanya mengisahkan tentang kejadian seram di jalan Tol Cipularang. 

Ada seseorang yang mengendarai mobil sendiran di jalan tol, malam hari. 

Di perjalanan, setelah exit Padalarang, dia merasakan kalau sepertinya dia gak sedang benar-benar sendirian di dalam kendaraan. 

Berawal dari perasaannya yang mulai gak enak, lalu tiba-tiba ada bau busuk yang menyengat. 

Hingga puncaknya, ketika dia akhirnya benar-benar sadar kalau ternyata gak sendirian.  

Melalui kaca spion, dia melihat ada sosok yang sedang duduk di kursi belakang. 

Di dalam cerita, orang itu jadi sangat ketakutan, sementara sosok di kursi belakang terus saja duduk sampai dia keluar tol di Purwakarta. 

"Sialan, serem amat nih cerita. Mana gw mau lewat Cipularang bentar lagi." 

Begitu pikir gw dalam hati. 

Benar, ketika nyaris jam dua belas akhirnya gw masuk tol Cipularang melalui Pasteur. 

*** 

Kondisi badan pada malam itu memang sudah lelah akibat seharian beraktifitas, sedikit kantuk mulai menyerang. 

Kendaraan gw pacu dalam kecepatan sedang, padahal jalanan terbilang kosong, alias sepi, hanya beberapa bis malam yang sesekali terlihat. 

Oh iya, waktu itu masih ada lagi gerbang tol setelah exit padalarang kalau dari arah Bandung, tempat pambayaran dan tukar tiket tol menuju Jakarta. Sekarang sudah gak ada. 

Singkat cerita, akhirnya gw sampai di gerbang tol sesudah padalarang itu, bayar dan tukar tiket, lalu lanjut perjalanan. 

Pada saat itu, lampu PJU yang letaknya di batas tengah jalan masih hanya terlihat di sebagian jalan tol aja, belum sepanjang jalan, selebihnya penerangan hanya dibantu oleh lampu kendaraan. Kayaknya kalo sekarang sudah ada PJU sepanjang jalan deh..  

Karena itulah jalanan menjadi gelap gulita, ditambah dengan sedikitnya kendaraan yang melintas, benar-benar bemar sepi. Gw yang hanya sendirian ini hanya bisa mengalihkan pikiran dengan mendengarkan musik di tape mobil. 

Masih terbayang cerita seram di radio yang menceritakan tentang penumpang gelap di tol ini, gak bisa dipungkiri kalau hal itu membuat gw jadi agak ketakutan juga, mana malam jumat pula. 

Kaca spion bagian dalam gw arahkan ke atas, supaya gak memantulkan keadaan di kursi belakang, meminimalisir keparnoan gw yang kadarnya mulai meningkat. 

Deru suara mesin yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar, selebihnya hanya suara kendaraan lain yang melaju lebih cepat ketika mendahului dari sebelah kanan. 

Memasuki kilometer 90, gw mulai merasakan ngantuk, lalu berniat untuk berhenti di rest area km. 88 untuk beristirahat. 

Penjelasan untuk teman-teman yang belum pernah lewat jalan tol ini, hitungan kilometer dari Bandung ke Jakarta adalah hitungan mundur, dari km. 100 ke km. 01. Begitulah kira-kira.. 

Waktu itu, rest area km. 88 belum sebagus sekarang, masih ala kadarnya, tapi cukuplah kalau hanya untuk sekedar ngopi dan istirahat. 

*** 

Sesampainya di km. 88, gw masuk ke rest area. 

Yang seperti gw bilang tadi, rest area ini belum sebagus sekarang, belum ada starbucks, Jco, dan lain sebagainya. Yang ada hanya warung-warung kecil penjual makanan dan kopi sasetan. 

Sudah begitu, tempatnya sepi, gak banyak mobil yang parkir, ya mungkin karna bukan akhir pekan atau musim liburan. 

Gw memarkirkan kendaraan di depan salah satu warung. Sama juga, warung tempat gw parkir ini sepi, hanya ada satu mobil yang parkir selain gw. 

"Bu, kopi item satu ya. Saya mau ke toilet dulu." 

Begitu gw bilang ke Ibu penjaga Warung, setelahnya gw jalan ke toilet umum yang letaknya gak jauh dari situ. 

Setelah selesai, gw kembali ke warung dan duduk di kursi depannya. 

Langit mulai kelihatan mendung, udara terasa gerah, sepertinya akan turun hujan. Hujan, satu situasi yang kalau boleh akan gw tolak dalam perjalanan ini, sendirian, tengah malam jumat, hujan pula, sempurna. 

Seruputan kopi hitam sedikit banyak membantu untuk mengusir ngantuk, semakin segar bugar ketika gw mulai berbincang dengan Ibu penjaga Warung. 

Topik awal pembicaraan agak membuat gw sedikit keheranan. 

"Cep, itu temennya gak disuruh turun? Kasian sendirian di dalam mobil." 

Kaget gw mendengarnya, teman? Teman siapa? Gw kan sendirian.. 

"Teman yang mana Bu? Orang saya sendirian kok." 

Gw menjawab sambil terus memperhatikan mobil yang parkir gak terlalu jauh. 

"Ah masa, tadi saya liat ada yang duduk di kursi depan." 

Ibu itu tetap dengan pendiriannya. 

"Ibu salah liat, saya benar-benar sendiran Bu." 

"Oh gitu.." 

Jawab si Ibu dengan wajah yang kelihatan masih penasaran.  

Ada-ada aja, percakapan yang mau gak mau membuat gw kepikiran. "Ah semoga Ibu ini salah lihat." Begitu gumam gw dalam hati. 

Sekitar 30 menit kemudian, gerimis kecil mulai turun dari langit, kekhawatiran gw akhirnya terjadi juga.  

Sebelum hujan semakin besar, gw memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.. 

*** 

Hujan semakin besar dan deras sekali, ketika gw sudah berada dibalik kemudi, kondisi jalan yang menurun dan licin membuat gw semakin berhati-hati dan memperlambat laju kendaraan. 

Penglihatan yang makin terbatas membuat gw harus terus fokus dan konsentrasi memperhatikan jalan. Posisi duduk menjadi maju, mendekatkan wajah ke kaca mobil, supaya dapat memandang lebih jelas lagi. 

Cukup lama berposisi duduk seperti itu, hingga jadi kurang memperhatikan keadaan dan suasana di dalam mobil. 

Iya, keadaan dan situasi di dalam mobil yang sedang gw tumpangi, sendirian.. 

Terlalu fokus dan konsentrasi memperhatikan jalan dengan posisi duduk yang maju, akhirnya membuat punggung dan pinggang gw jadi pegal, oleh karna itulah akhirnya memaksa gw untuk mengubah posisi duduk jadi seperti semula, mundur dan bersandar. 

Hmmm.. 

Pada saat itulah gw tersadar, kalau ternyata sudah gak sendirian lagi..  

*** 

Jantung serasa berhenti berdetak, napas menjadi hirupan-hirupan pendek, gw kaget dan terpana ketika dari sudut mata melihat ada sosok yang sedang duduk di kursi depan, duduk persis di sebelah. 

Gw belum berani melihat secara langsung, pandangan tetap melihat ke depan memperhatikan jalan. Namun sosok itu sangat jelas terlihat dari sudu mata, benar-benar ada. 

Sosok laki-laki berambut hitam, tubuhnya agak berisi, berkemeja putih lengan pendek. Seperti gw, dia hanya duduk diam menghadap ke depan.. 

Kebayang?  

Kilatan lampu kendaraan yang berlawanan arah semakin memperjelas penampakan sosok laki-laki itu, tapi gw masih belum juga berani menoleh ke kiri untuk melihatnya secara langsung, gak berani. 

Di sela-sela suara hujan dan deru mesin kendaraan, tiba-tiba ada suara yang terdengar sayup tetapi nyata. 

Suara desah nafas yang terdengar satu-satu, tapi dengan tarikan yang panjang. 

Gw semakin ketakutan, gak bisa berbuat apa-apa selain terus memacu kendaraan untuk terus berjalan. Berhenti di bahu jalan bukan pilihan, karna kondisinya hujan lebat dan jalanan sangat sepi. 

Entah apa yang ada di pikiran saat itu, secara perlahan gw mulai menolehkan wajah ke kiri, ingin melihat ke arah sosok itu berada. 

Detik berikutnya, akhirnya gw benar-benar melihat langsung sosok laki-laki itu..  

Hanya beberapa detik, tapi gw melihat semuanya dengan jelas. 

Benar, dia berpakaian kemeja putih berlengan pendek, dengan dua saku bertutup di bagian dada. 

Laki-laki berkulit putih bersih, wajahnya pucat pasi layaknya orang yang sudah mati.. 

Kami gak bertatapan, karna dia terus saja mengarahkan wajahnya ke depan. 

Tapi bukan itu yang akhirnya membuat gw berhenti untuk terus memandangnya, ada lagi..  

Posisi duduk dia bersandar namun tegak, dengan tatapan yang terus ke depan. Wajah yang dari awal datar tanpa ekspresi, tiba-tiba perlahan mulai tersenyum, namun tetap memandang ke depan. 

Gw yang semakin ketakutan, langsung merubah posisi duduk jadi kembali maju dan memandang ke jalan. 

Cukup lama kami berposisi seperti itu, duduk diam, hanya desah napas yang terdengar sesekali. 

Sungguh itu adalah tiga puluh menit terpanjang dalam hidup.  

Hingga akhirnya kami sampai di exit tol Purwakarta, gak berpikir panjang lagi, gw memutuskan untuk keluar di Purwakarta. 

Sosok itu gimana? Masih ada, masih setia menemani gw yang sangat ketakutan. 

Ketika gerbang tol sudah berada hanya tinggal beberapa meter di depan pun sosok itu masih ada di tempatnya. 

Hingga akhirnya gw harus bayar tol ke petugas yang menjaga gerbang. 

"Mas, saya boleh parkir di situ untuk istirahat sebentar?" 

Gw meminta ijin ke petugas tol untuk parkir di depan kantornya, di sebelah kiri jalan. 

Setelah pembayaran, ternyata sosok laki-laki itu sudah gak ada, kursi sebelah kembali kosong seperti semula. 

Tapi gw gak mengubah pikiran, tetap akan parkir dulu sebentar, masih shock. 

Setelah parkir, gw buru-buru keluar kendaraan dan lari menuju kursi yang ada di depan kantor, sudah ada seorang bapak yang duduk di situ juga, gw duduk di dekatnya. 

"Ada apa dek? Kok kayak orang ketakutan?" 

Tanya bapak itu penasaran, mungkin karna melihat gelagat gw yang masih aneh dan terlihat gugup ketakutan. 

"Tadi di jalan tol ada yang ikut di mobil Pak, padahal saya sendirian." 

Jawab gw dengan napas masih tersengal-sengal.  

"Kilometer 80an ya? Ah sudah biasa itu mah..,hehe. Ya sudah, istirahat dulu di sini. Tenang, kalo di sini sudah aman." 

Begitu kata bapak itu menjelaskan. 

Sudah biasa katanya.. 

Selanjutnya, gw ngobrol dengan Bapak itu dan petugas tol lainnya yang sedang piket. Banyak yang kami bahas, mereka bercerita tentang banyak kejadian yang mirip dengan peristiwa yang baru aja gw alami. 

Malam yang sangat mengerikan.. 

*** 

Itu sedikit pengalaman gw di jalan tol Cipularang, kalo teman-teman ada yang punya pengalaman seru juga di tempat ini, ayok cerita, kita bahas di sini. 

Terima kasih untuk yang masih setia membaca cerita-cerita gw di sini. 

Salam sayang, 

~Brii~

Artikel Asli