Gajah Sumatera Mati dengan Kepala Terpenggal dan Gading Hilang

kumparan Dipublikasikan 17.57, 19/11/2019 • Harley B. Sastha
Tim Medis BBKSDA Riau sedang melakukan nekropsi pada bangkai Gajah Sumatera yang ditemukan mati membusuk. Foto: Dok. BBKSDA Riau

“Ini adalah gajah korban perburuan dengan melakukan pemotongan gading hingga pangkalnya. Dengan cara memotong pangkal belalai. Belalainya sendiri telah terpisah sekitar 1 meter dari bagian tubuhnya,” kata drh Rini Deswita melalui rekaman video ketika ia selesai melakukan pemeriksaan bangkai Gajah Sumatera (elephasmaximus sumatranus) yang ditemukan mati dengan kondisi kepala terpenggal dan gading hilang.

Dalam video tersebut, Rini yang juga merupakan tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, menunjukkan betapa sadisnya perbuatan dan pembunuhan yang dilakukan pemburu gading Gajah tersebut cukup besar. Sisa potongan gading sebelah kiri yang telah dipotong pemburu juga tercecer persis dekat bangkai Gajah.

BBKSDA Riau, mendapatkan informasi mengenai ditemukannya bangkai Gajah Sumatera dari saudara Yuyu dari PT Arara Abadi Sinarmas Group, pada Senin (18/11/2019), pukul 11.45 WIB, petak SBAD 401 B-01, Distrik Duri II, kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi Desa Tasik Serai Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis.

Tim Medis BBKSDA Riau sedang melakukan nekropsi pada belalai Gajah Sumatera yang terpisah dari bangkai tubuh Gajah. Foto: Dok. BBKSDA Riau

Menurut Heru Sutmantoro, Kepala Bidang KSDA Wilayah II BBKSDA Riau, melalui keterangan tertulisnya pada Selasa (19/11/2019), mengatakan, bahwa keberadaan bangkai gajah pertama kali dilaporkan oleh pengawas tebang yang mendapatkan informasi dari tenaga kerja tebang yang mengatakan bahwa ada bau menyengat. Kemudian, setelah dilakukan pengecekan, ternyata sumber bau tersebut berasal dari bangkai gajah yang tergeletak dan sudah membusuk.

“Setelah mendapat informasi dan laporan mengenai ditemukannya bangkai gajah, BBKSDA Riau langsung menurukan tim medis yang terdiri dari dokter hewan dan pawang gajah untuk melakukan pemeriksaan secara detail (nekropsi). Kami juga berkoordinasi dengan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Sumatera dan sudah menurunkan tim untuk mengumpulkan bahan dan keterangan terkait mengenai kematian satwa Gajah Sumatera,” kata Suharyono, Kepala Balai BKSDA Riau melalui pesan tertulis.

Setelan dilakukan nekropsi terhadap bangkai Gajah oleh tim medis BBKSDA Riau yang dipimpin langsung oleh drh. Rini Deswita, diketahui kalau Gajah Sumatera yang mati tersebut berjenis kelamin jantan dengan usia 40 tahun. Tidak ditemukan tanda-tanda keracunan dan bekas jerat. Saat ditemukan, kondisi kepala gajah sudah terpotong dari pangkal belalai dengan belalai yang terpisah dari tubuhnya sejauh sekitar 1 meter.

Potongan gading yang tercecer dekat tubuh bangkai Gajah. Foto: Dok. BBKSDA Riau

Dari hasil pemeriksaan tersebut juga, kuat dugaan, bahwa Gajah mati karena pembunuhan atau perburuan dengan pemotongan kepala untuk pengambilan gading. Namun, saat pemeriksaan tidak ditemukan adanya proyektil peluru. Kondisi bangkai Gajah yang sudah membusuk, maka diperkirakan Gajah tersebut sudah mati 6 hari sebelum ditemukan. Gajah yang mati ini masuk dalam sub populasi (kelompok) Gajah Giam Siak Kecil.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, menurut BBKSDA Riau, lokasi ditemukannya bangkai Gajah Sumatera berada pada kantong gajah Giam Siak Kecil-Balai Raja. Berdasarkan hasil survey dan monitoring, populasi Gajah Sumatera pada wilayah tersebut diperkirakan jumlahnya sekitar 40 individu. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada di wilayah konsesi PT Arara Abadi yang merupakan hutan tanaman industri jenis tanaman eucaliptus dan akasia. Saat ini pada sebagian petak pada konsesi tersebut sedang dilakukan kegiatan pemanenan (harvesting).

Melalui pesan WhatsApp, Heru mengatakan, setiap perusahaan juga harus mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan. Mempunyai komitmen terhadap perlindungan satwa liar yang dilindungi. Contohnya dengan kematian gajah Sumatera ini. Karena masuk di wilayah konsesi perusahaan atau dalam rumahnya, artinya mereka juga harus bertanggungjawab penuh. Dalam pengelolaan hutan tanaman industri harus juga melakukan teknik atau cara pemanenan yang ramah untuk satwa liar.

“Jadi, sebelum penebangan, lokasi harus diinventarisir mengenai keberadaan satwa liar seperti Gajah misalnya. Menyiapkan areal pengungsian satwa dan penyediaan tanaman pakan satwa. Selain itu kami juga sudah pernah melakukan kegiatan best management praktis dengan mengundang pihak-pihak perusahaan,” kata Heru.

Tim Medis BBKSDA Riau sedang melakukan nekropsi pada bangkai Gajah Sumatera yang ditemukan mati membusuk. Foto: Dok. BBKSDA Riau

Tentang berita kematian gajah Sumatera di daerah Bengkalis, Riau, Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK, melalui pesan WhatsApp mengatakan bahwa perlu dilakukan pendalaman dan penggalian informasi lebih dalam terhadap kasus kematian gajah di areal konsesi.

“Hal ini tersebut agar kita dapat mengetahui pola pergerakan manusia di dalam areal konsesi dan areal jelajah Gajah. Dalam hal ini, perusahaan harus meningkatkan sistem pengamanan areal konsesi dengan BKSDA, terkait perlindungan satwa dilindungi di dalam areal konsesi,” kata Indra.

Seekor Gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) jinak berdiam di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro
Artikel Asli