Gado-Gado: Mantan Murid

Femina Dipublikasikan 07.00, 26/10 • Komala Sutha
Foto: Shutterstock
Foto: Shutterstock

Ibuku mengidap diabetes yang cukup parah. Sudah bolak-balik dirawat di rumah sakit. Malah di beberapa rumah sakit yang berbeda di Cimahi dan Bandung. Akhirnya, diputuskan berobat jalan karena kondisi makin membaik. Minum obat dengan disiplin dan cermat memilih makanan adalah pengobatan utama. Untuk mengobati kakinya yang bengkak akibat luka, kami sebulan sekali pergi ke Cimanggu, kawasan air panas di daerah Ciwidey. 

Suatu ketika Amih, begitu aku memanggilnya, berencana ke Cimanggu. Seperti biasa, kami akan menginap, kebetulan saat itu aku sedang libur kuliah, jadi bisa ikut menemani rame-rame bersama beberapa kerabat lain. 

Alam indah dan cuaca dingin menyambut kami. Amih menyewa rumah untuk kami menginap. Namun ternyata, rumah itu juga didatangi penyewa lain. Akhirnya diputuskan rumah sewaan ditempati dua rombongan tamu. Rombonganku dan mereka. Entah orang mana, aku agak kurang peduli. Aku lebih sibuk mencandai ponakan yang tampan dan lucu.

Sekitar pukul delapan malam, kedua rombongan berbaur di satu ruangan. Aku dan Amih memilih tak berkumpul dan menepi dari keramaian. Kulirik Amih, seperti gelisah. Aku mengerutkan kening. Ada apa, ya? Padahal, sejak tadi tampak riang.

    “Mih… kenapa?” Aku meliriknya. 

    “Hmmm… enggak apa-apa…,” sahut Amih, pendek. 

    “Bohong, ah, dari tadi aku perhatiin sikap Amih lain…,” aku mendesak. 

    “Iya, sih, Nong… Amih enggak nyaman, nih…,“ katanya, dan ia langsung merapatkan tubuhnya ke arahku. Lalu dia berbisik. Sesekali matanya mengarah pada rombongan tamu penyewa itu. 

    “Yang mana?” Mataku mengawasi dan mencari sosok yang Amih bisikin. Wah, ternyata benar seperti yang Amih bilang. Seorang lelaki sekitar usia tiga puluh tahun, rambut gondrong, kumis panjang, dan mata tajam. Serem, ih…!

Yang lebih seram, orang itu terus-menerus menatap Amih. Aneh, ‘kan? Pantas ibuku gelisah. Ditatap lelaki tak dikenal, di tempat asing lagi. Hmm…. Aku jadi ikut senewen. 

    “Dari tadi orang itu liatin Amih terus…,” kata Amih, berbisik. 

    “Siapa, ya?” kataku, penasaran.

    “Justru itu, Amih enggak tau. Penampilannya serem. Takut. Jangan-jangan….” Ucapan Amih terhenti, bikin penasaran. 

    “Jangan-jangan apa, Mih?” aku memaksa. Kuperhatikan lagi, orang itu kepalanya menoleh ke arah lain. Namun, enggak lama kembali mengarah ke Amih.

    “Jangan-jangan dia itu orang jahat!” cetus Amih.

    “Mungkin juga…,” aku mengiyakan.

    “Ya, Nong, pasti. Dia penjahat,” kata Amih, tegas.  

Pukul sembilan malam, Amih mengajakku ke kamar, sekalian meninabobokan keponakan yang ingin tidur denganku. Bukan hal berlebihan jika Amih membayangkan sesuatu hal buruk terjadi padanya. Banyak modus penjahat di zaman sekarang. 

Kurasakan kecemasan Amih menjadi-jadi. Dan lelaki itu masih saja seperti tadi. Sering menatap Amih saat kami berada di dalam ruangan yang sama. 

    “Kita seatap dengan penjahat, Nong….”

    “Iya, gimana, atuh… kita lapor sama yang lain?” aku menawarkan. 

Aku mengenal karakter ibuku yang selalu mudah gelisah dan khawatir berlebihan. Namun, jika benar orang itu penjahat dan hendak mencelakai Amih, apa motifnya? Amih hanya pensiunan kepala sekolah dasar. Penampilan Amih sederhana, tanpa perhiasan berlebihan. Tapi, kalau motifnya lain? Duh, aku jadi membayangkan yang tidak-tidak.

Baru saja kami berdiri dari tempat duduk, ada suara mendekat. Sontak kami kaget karena ketika menoleh, lelaki itu yang bicara. Dan posisinya mendekat. Hampir saja aku berteriak. 

    “Maaf… apakah benar, Ibu ini… Ibu Nani Rohani Tresnaningrum?” katanya, halus. Dia menyebutkan nama panjang Amih. Amih kaget, tapi mengangguk.

    “Apa kabar, Ibu?” tiba-tiba tangan lelaki itu meraih kedua telapak tangan Amih. Sungkem dengan sangat hormat. Amih pun kebingungan. 

    “Ibu… Ibu dulu pernah mengajar di SDN Cihampelas, ‘kan?” tanya lelaki itu, setelah menyalami Amih.

    “Ya, benar.” Amih mengangguk dan bengong. “Ini siapa ya?”

    “Saya Lili, Bu… dulu saya pernah sekolah di sana, dan Ibu adalah guru saya. Ibu mungkin lupa. Guru wajar lupa karena muridnya sangat banyak. Tapi saya muridnya, tak akan pernah lupa sampai kapan pun, Ibu adalah ibu guru saya waktu SD. Dari tadi saya penasaran, tapi belum berani menyapa, takutnya salah.”

Keharuan mewarnai pertemuan antara guru dan murid yang sekian lama berpisah.

Mereka tampak bahagia. Malah Amih jadi ingin lama-lama di Cimanggu. 

“Duh, yang ketemu mantan murid…,” aku menggodanya. (f)

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Penagih Sumpah

Cerita Pendek: Percakapan Batin

Cerita Pendek: Obsesi Kematian

Artikel Asli