Film "Bumi Manusia", Sedihnya Menjadi Nyai

Kompasiana Dipublikasikan 15.11, 11/08 • Meirna Fatkhawati
sumber: historia.id
sumber: historia.id

Halo… hari ini saya menikmati film Bumi Manusia dari aplikasi klikfilm. Murah banget cuma 4.400/3hari kalau bayarnya pakai pulsa. Hehe. (Ini bukan endorse)

Terus … Terus. Kenapa saya tertarik menonton film ini? Karena berlatar belakang zaman kolonial Belanda. Zaman penjajahan, sebelum Indonesia merdeka.

Kisah yang menceritakan tentang Minke, Annelies dan Nyai. Saya rasa di film ini lebih menyoroti konflik dari ketiga orang ini. Minke memiliki darah pribumi (penduduk Indonesia suku Jawa). Anaknya Bupati. Sedangkan Annelies memiliki darah campuran antara Belanda dan pribumi. Ayahnya Annelies merupakan orang Belanda. Kawin dengan perempuan pribumi. Zaman tersebut perempuan yang dikawini disebut Nyai.

Bukan menikah ya! Tapi kawin! Hanya dianggap pemuas nafsu ranjang dan pengurus rumah. Alias pembantu. Jika pria Belanda memiliki anak dari Nyai. Maka Nyai tidak memiliki hak asuh. Kasihan banget deh nasibnya Nyai. Seperti budak menurutku. Diperlakukan seenaknya. Ditinggal seenaknya. Sedih banget. Kejamnya zaman penjajahan Belanda.

SPOILER!!!

Film ini tidak berakhir bahagia. Hiks sedih banget. Ketika Annelies menikah dengan Minke. Saya pikir ini adalah akhir cerita. Eh ternyata masih berlanjut. Annelies yang telah menikah dengan Minke harus berpisah.

Pernikahan itu tidak sah secara hukum Eropa. Gedek banget dah gue sama hukum Eropa. Tidak berperikemanusiaan. Memisahkan suami dan istri. Memisahkan ibu dan anak kandungnya.

Si Annelies disuruh ke Belanda oleh istri sah ayahnya (Herman). Saat itu si Herman sudah mati. Saya pikir, kok filmnya belum habis ya. Lama banget deh ini film. Ada 3 jam loh. Film Indonesia terlama yang pernah saya tonton. Biasanya kan film hanya 2jam-an ya.

Dari film ini, ada beberapa hal yang patut saya syukuri. Alhamdulillah bisa hidup di zaman ini. Alhamdulillah bisa menjadi orang islam. Ternyata Eropa di masa tersebut sangat jenius dalam ilmu pengetahuan. Namun, sangat rendah dalam memperlakukan manusia. Ya karena adanya pergundikan. Percuma kan ilmunya tinggi/banyak, tapi akhlak nol besar. Ckck….

Penulis: Meirna Fatkhawati

Artikel Asli