Fenomena Anji dan Hadi Pranoto, Ada Kekosongan Peran Akademisi

Medcom.id Dipublikasikan 02.09, 06/08 • https://www.medcom.id
Assistant Professor di University of Nottingham, Inggris, Bagus Putra Muljadi. Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Jakarta:  Fenomena temuan obat herbal yang diklaim dapat menyembuhkan covid-19 oleh Hadi Pranoto, sosok yang juga mengaku sebagai profesor mengundang keprihatinan dari kalangan ilmuwan diaspora.  Terlebih lagi klaim yang belum teruji dan terbukti secara klinis tersebut kemudian digaungkan oleh musisi sekaligus YouTuber dengan 3,6 juta subscribers, Erdian Aji Prihartanto atau Anji.

Assistant Professor di University of Nottingham, Inggris, Bagus Putra Muljadi mengaku prihatin dengan terjadinya fenomena tersebut di Tanah Air. Terutama ketika seorang selebritas justru lebih berpengaruh ketika menyampaikan hal yang seharusnya bersifat akademis, ketimbang  sumber dari perguruan tinggi itu sendiri. 

"Universitas dan dosen-dosen di dalamnya, seharusnya menjadi (pemegang) otoritas kebenaran, yang mengajarkan masyarakat tentang epistemologi (cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar pengetahuan).  Bagaimana caranya mengetahui kebenaran saintifik," kata Bagus, dikutip dari akun Instagram @bagusmuljadi yang diunggah Rabu, 5 Agustus 2020.

Baca juga:  Bila Terbukti Gelar Profesor Palsu, Hadi Pranoto Terancam Dipenjara

Pemegang otoritas kebenaran itu, kata Bagus, seharusnya diisi oleh perguruan tinggi.  “Saya melihat ada krisis otoritas kebenaran di Indonesia, masyarakat enggak tahu mau tanya ke siapa,” kata Bagus kepada Medcom.id, Kamis, 6 Agustus 2020.

Menurut Bagus, seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan Indonesia saat ini harusnya mengetahui, bahwa peran perguruan tinggi bukan hanya sebagai pencetak tenaga kerja.  Namun juga harus berperan dalam mengedukasi masyarakat, agar dapat berpikir kritis dan ilmiah.

"Universitas bukanlah pencetak tenaga kerja (saja), tapi juga mengajari publik bagaimana caranya berpikir," tegas Bagus.

Baca juga:  Obat Covid-19 Hadi Pranoto Tak Pernah Digunakan di Wisma Atlet

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kemudian mencoba mengulik sejarah yang terjadi di Eropa.  Sebelum adanya perguruan tinggi, kata Bagus, masyarakat Eropa menjadikan gereja sebagai tempat untuk bertanya. 

Dengan kata lain, sebelum adanya perguruan tinggi, pemegang otoritas kebenaran saat itu di Eropa diserahkan kepada gereja.  Namun, setelah lahirnya perguruan tinggi, peran itu pun beralih dari gereja ke para akademisi.

“Sejak dilahirkannya pemikir-pemikir di zaman Aristoteles, lahirlah benih-benih universitas, orang-orang bisa mulai menanyakan tentang kehidupan, tentang macam-macam di dalam lingkup akademis. Spirit universitas di situ,” jelas Bagus.

Ia pun kemudian mengaku tidak kaget dengan adanya fenomena seperti Anji dan Hadi Pranoto. Hal itu, kata Bagus, disebabkan karena terjadi kekosongan di ruang-ruang otoritas kebenaran itu, yang kekinian justru diisi oleh kalangan selebritas maupun pesohor, bukan lagi dari kalangan akademisi perguruan tinggi.

Baca juga:  Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, Kemenristek Minta Masyarakat Hati-hati

Alhasil, kekosongan otoritas kebenaran itu membuat masyarakat yang tidak tahu harus bertanya ke siapa, kini mencari alternatif.

“Jadi di substrata metaforikal seseorang, enggak ada lagi yang dia bisa percaya, makanya orang lari ke tribalisme.  Seperti lari ke dukun, ke kalung minyak kayu putih atau ke siapapun yang kelihatan seperti figur otoritas.  Itu masalahnya. Jadi digantikan dengan yang macam-macam, dan selebritis salah satunya turut mengisi ruang ini,” terangnya.

Kosongnya ruang otoritas kebenaran dari kehadiran akademisi, imbuh Bagus, lantaran tidak adanya insentif yang diberikan. Kemudian ia membandingkan dengan di Inggris, tempatnya sekarang berkarier, banyak sosok populer yang diberi insentif untuk mengisi ruang-ruang tersebut.

Sebut saja seperti Richard Dawkins atau Stephen Hawking.  “Popularizer (sosok yang mampu mengomunikasikan hal-hal yang bersifat ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum), mereka mengisi ruang itu. Diisi oleh universitas,” ucapnya.

Dengan begitu, lanjutnya, masyarakat menjadi percaya terhadap keputusan-keputusan pemerintah.  Karena setiap kebijakan yang diambil, terlebih dahulu didiskusikan dengan akademisi sebagai figur otoritas kebenaran tersebut.

“Makanya ketika ada pandemi, ketahanan dari masyarakat terpancar dari kesetiaan mereka dan kepercayaan mereka terhadap pemerintah yang sebelum mengeluarkan keputusan apapun selalu mendiskusikan kepada figur otoritas dari akademisi.  Pasti itu, entah Anthony Fauci dari Amerika, atau di Inggris Raya itu dari ilmuwan atau akademisi,” imbuhnya.

Untuk itu, saat ini mestinya perguruan tinggi bisa hadir mengisi kekosongan otoritas kebenaran yang diharapkan bisa menjadi rujukan masyarakat.  Perguruan Tinggi dengan akademisi di dalamnya harus hadir, mengajarkan masyarakat tentang bagaimana mengetahui kebenaran dengan pendekatan sains.

“Masyarakat harus diajarkan berpikir, makanya ada orang bergelar Phd. itu Doctor of Philosophy. Filosofi itu mengajarkan orang berpikir, misalnya bagaimana kita tahu satu hal itu benar atau salah. Iya, sedasar itu,” tandasnya.

Sebelumnya, musisi Erdian Aji Prihartanto atau kerap disapa Anji, mengunggah sebuah video terkait obat covid-19 dalam akun YouTube Dunia Manji. Video itu menuai kontroversi dan menjadi perbincangan di lini masa.

 

Pasalnya, video yang diunggah Sabtu 1 Agustus 2020 itu, mengklaim salah satu obat herbal sebagai penyembuh covid-19.  Obat bernama “Antibodi Covid-19” itu disuarakan seorang yang mengaku profesor dan pakar mikrobiologi, Hadi Pranoto sebagai narasumber dalam video tersebut. Video tersebut kini telah dihapus oleh pihak YouTube setelah ramai-ramai dilaporkan oleh warganet.

Artikel Asli