Fatwa Haram MUI Belum Ampuh Cegah Karhutla, Ini Kata Ma'ruf Amin

Tempo.co Dipublikasikan 10.33, 21/09/2019 • Martha Warta Silaban
Wakil Presiden terpilih Maruf Amin (tengah) bersama Ketua Perwakilan Pendeta Papua Richard Tonjau (kanan) dan Ketua Gerakan Nasionalis Religius Bobby S. Hendrawan (kiri) memberikan keterangan kepada awak media usai melakukan pertemuan di Jakarta, Kamis, 5 September 2019. Pertemuan tersebut dalam rangka membahas terkait kondisi di Papua dan Papua Barat beberapa hari terakhir. ANTARA
Wakil presiden terpilih Ma'ruf Amin menilai fatwa haram soal pembakaran hutan belum cukup untuk menekan persoalan karhutla di Tanah Air.

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil presiden terpilih Ma'ruf Amin menilai fatwa haram soal pembakaran hutan belum cukup untuk menekan persoalan kebakaran hutan dan lahan alias karhutla di Tanah Air.

"Ada yang memang tidak cukup melalui fatwa, perlu ada tindakan, perlu ada penindakan hukum, law enforcement," ujar dia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu, 21 September 2019. Adapun MUI Mengeluarkan fatwa tentang pembakaran hutan pada September 2016 setelah mendapat permintaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut Ma'ruf, fatwa itu sifatnya adalah bimbingan, pedoman, ajakan, dan arahan. Dengan demikian, ada orang yang setelah adanya fatwa menjadi tidak berani membakar hutan. "Tapi kalau tidak bisa diarahkan, ya di law enforcement, penegakan hukum."

Pernyataan Ma'ruf tersebut dilontarkan untuk menanggapi persoalan karhutla yang belakangan terjadi di beberapa titik di Indonesia, yaitu di Sumatera dan Kalimantan. Karhutla itu menyebabkan persoalan kabut asap yang berujung kepada permasalahan kesehatan masyarakat.

Pada Sabtu pagi, sebanyak 1.182 titik panas indikasi karhutla terpantau di Pulau Sumatera. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru, satelit Terra dan Aqua pada pukul 06.00 WIB mendeteksi titik panas paling banyak di Provinsi Jambi yakni sebanyak 499 titik.

Petugas dari Manggala Agni Daops Banyuasin melintas di lokasi kebakaran lahan di Desa Soak Batok, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Senin, 9 September 2019. Berdasarkan pantauan satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) terdapat 222 titik panas di Provinsi Sumatera Selatan. ANTARA/Mushaful Imam

Adapun titik terbanyak kedua adalah Sumatera Selatan (Sumsel) dengan 391 titik, diikuti oleh Riau dengan 198 titik panas. Bangka Belitung juga terdeteksi 40 titik panas, kemudian Lampung 33 titik, Kepulauan Riau 9 titik, Sumatera Barat 8 titik, serta Bengkulu dan Sumatera Utara masing-masing 2 titik panas.

Khusus di Riau dari 198 titik panas, paling banyak di Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 74 titik, Rokan Hilir 57 titik, dan Pelalawan dengan 28 titik. Kemudian di Bengkalis ada 17 titik, Indragiri Hulu 14 titik, Kuansing 4 titik, serta Meranti dan Kampar masing-masing dua titik panas.

Ada 129 titik yang dipastikan titik api karhutla di Riau, dan lokasi paling banyak di Indragiri Hilir, Rokan Hilir dan Pelalawan yang masing-masing ada 47, 38 dan 18 titik.

BMKG melaporkan jarak pandang di sejumlah daerah di Riau memburuk pada Sabtu pagi. Kota Pekanbaru pada pukul 07.00 WIB jarak pandang hanya 700 meter, Kabupaten Pelalawan 400 kilometer Kota Rengat Kabupaten Indragiri Hilir 500 meter. Hanya di Kota Dumai yang pagi ini jarak pandang relatif bagus, yakni 2 kilometer. Papan penunjuk Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, menunjukan kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat.

ANTARA

Artikel Asli