Fakta Terbaru Temuan Polisi dari Teror Air Keras di Jakarta Barat

Liputan6.com Diupdate 02.35, 17/11/2019 • Dipublikasikan 02.35, 17/11/2019 • Maria Flora
Wajah Pelaku Penyiraman Air Keras Siswi SMP
Tersangka kasus dugaan penyiraman air keras kepada sembilan wanita di tiga lokasi berbeda di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Polisi menangkap seorang tersangka dengan barang bukti pakaian korban, padatan soda api, cairan zat kimia, serta rambut korban. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Teror penyiraman air keras kembali terjadi. Para korban adalah warga Jakarta Barat yang tengah beraktivitas.

Pelaku melancarkan aksinya hingga tiga kali dalam satu pekan terakhir.

Korban pertama adalah dua siswi SMPN 229 Jakbar yang tengah berjalan kaki di Jalan Kebon Jeruk Raya, Selasa, 5 November 2019. Lalu seorang nenek pedagang sayur di Meruya, Kembangan, 8 November.

Teror ketiga terjadi pada Jumat, 15 November, sekitar pukul 13.00 WIB. Pelaku menyiramkan air keras kepada tiga siswi SMPN 207 Kembangan di Jalan Mawar, Srengseng.

Berkat laporan warga dan dari rekaman CCTV warga, polisi membekuk pelaku FY.  Penangkapan FY sontak mengakhiri aksi teror yang dilakukan pria berumur 29 tahun itu.

Dalam video yang beredar, pria berkaos hitam melintas sesaat sebelum penyiraman air keras terjadi. Dalam tangannya dia juga terlihat membawa botol yang diduga berisi cairan kimia.

Berikut deretan fakta terbaru hasil temuan polisi setelah tertangkapnya pelaku teror air keras:

Motif

Petugas memberi keterangan terkait kasus dugaan penyiraman air keras kepada sembilan wanita di tiga lokasi berbeda di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Polisi menangkap seorang tersangka dalam kasus ini. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

FY (29) ditangkap di Jalan Meruya, Jumat, 15 November 2019. Panit 1 Subdit 4 Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Adhi mengatakan, pelaku selama ini menebar teror hingga menyebabkan 6 orang luka-luka.

Kasus pertama dialami dua siswi SMPN 229 Jakarta Barat Aurelia Estinov dan Prameswari. Selanjutnya menimpa seorang pedagang sayuran bernama Sakina. Dan terakhir adalah Korban Eka Soleha, Syarla Aulia Angelina, Widi Mahima yang juga merupakan siswi SMP.

Kepada polisi, pelaku mengaku motifnya melakukan aksi tersebut lantaran tak pernah mendapat perhatian dari keluarga.

Sebelumnya, pelaku beberapa waktu lalu pernah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit akibat terjatuh dari lantai 3. Selama masa perawatan, tak pernah ada perhatian dari keluarga. Akhirnya melampiaskan kekesalan dengan menyiramkan air keras.

"Pelaku ingin orang lain merasakan apa yang dia rasakan. Harapannya dengan begitu penyakitnya sembuh," ujar dia.

Jenis Air Keras

Tersangka kasus dugaan penyiraman air keras kepada sembilan wanita di tiga lokasi berbeda di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Polisi menangkap seorang tersangka dengan barang bukti pakaian korban, padatan soda api, cairan zat kimia, serta rambut korban. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Dalam olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di ketiga tempat, polisi memeriksa cairan air keras yang berceceran. Dari hasil pemeriksaan bahan kimianya identik satu dengan yang lain yaitu soda api.

"Mungkin dikenal mayarakat umum adalah soda api atau natrium hidroksida atau sodium hidroksida," ucap Kabid Kimbiofor Puslabfor Polri Kombes Pol Andi Firdaus di Polda Metro Jaya, Sabtu (16/11/2019).

Andi membeberkan, soda api berbentuk butiran putih. Pelaku kemungkinan memasukkan dengan air. Bahan ini dikategorikan bahan yang berbahaya bisa menyebabkan iritasi kulit.

"Sangat berbahaya apabila dikenakan kepada tubuh," ujar dia.

Soda api adalah jenis air keras yang digunakan FY untuk meneror warga Jakarta Barat.

Beda Air Keras Digunakan FY dengan Penyerang Novel Baswedan

Petugas menunjukkan barang bukti beserta tersangka kasus dugaan penyiraman air keras kepada sembilan wanita di tiga lokasi berbeda di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Polisi menangkap seorang tersangka dalam kasus ini. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Kasus penyiraman air keras ini kembali mengingatkan kita pada penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Diketahui Novel terkena cairannya H2SO4 atau asam sulfat. Sedangkan FY menggunakan larutan soda api dengan kadar yang tidak terlalu tinggi.

"Kalau di Jakarta Barat bahan kimianya soda api. Kalau yang kena Pak Novel sifat cairannya basa," ujar Kabid Kimbiofor Puslabfor Polri Kombes Pol Andi Firdaus.

Namun, soda api tetap diklasifikasikan sebagai cairan berbahaya. Apabila terkena kulit bisa menyebabkan iritasi.

"Sifatnya iritasi," kata dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Artikel Asli