Fahri Hamzah Sebut 7 Milenial Staf Khusus Jokowi Hanya Etalase, Tak Wakili Desa

Liputan6.com Dipublikasikan 02.26, 22/11/2019 • Delvira Hutabarat
Fahri Hamzah dan Fadli Zon Jenguk Ahmad Dhani di Rutan Cipinang
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah memberikan keterangan kepada awak media usai menjenguk Ahmad Dhani di Rutan Klas I Cipinang, Jakarta, Rabu (6/2). Fadli Zon dan Fahri mempertanyakan rencana pemindahan Ahmad Dhani ke Surabaya. (Merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan tujuh nama staf khususnya dari kalangan milenial. Wakil Ketua Partai Gelora Fahri Hamzah menyebut posisi stafsus harusnya diduduki orang yang berkapasitas.

"Pekerjaan stafsus presiden itu bukan pekerjaan yang mentolerir kapasitas yang tidak memadai. Itu harus betul-betul orang-orang yang bisa memberikan keahlian, advice, serta talenta untuk membantu presiden," kata Fahri saat dihubungi, Jumat (22/11/2019).

Fahri menyebut tujuh staf khusus muda yang dipilih hanya untuk pajangan atau etalase dan tidak mewakili anak muda keseluruhan.

"Mungkin presiden tidak punya terminologi lain yang digunakan untuk memilih orang sehingga menggunakan terminologi staf khusus, maka mungkin juga fungsinya dibuat lain. Mungkin ini semacam etalase, yang dalam bahasa umum dianggap sebagai duta dari anak muda milienal," ujarnya.

Fahri menyambut baik Jokowi memilih kalangan muda, namun ia melihat yang dipilih hanya kalangan melek digital bukan sektor riil.

"Tapi sayangnya semua ini adalah wajah digital, semenatra digital itu menurut saya bukanlah persoalan dasar bangsa indonesia. Persoalan dasar bangsa indonesia adalah sektor riil, apa yang kita produksi sendiri, apa yang kita makan kita pakai, tanam, apa yang kita gunakan sehari-hari yang pertumbuhan ekonomi digital tidak menjamin surplusnya sektor produksi," jelasnya.

Sektor Riil

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat menjadi pembicara diskusi publik

Mantan Wakil Ketua DPR RI itu berharap Jokowi juga menarik anak muda dari desa yang bergerak di sektor ril seperti pertanian.

"Harus ada anak muda yang didorong karena ia jadi petani, entrepreneur sektor manufaktur atau industri riil. Sehingga, kalau dia dimaksud etalase untuk mendorong anak muda maka etalase lengkap tidak sepihak, tidak pincang, tidak maya atau digital saja. Bisa membuat orang hanya mimpi," katanya.

"Sebenarnya anak yang dipilih bukanlah anak yang bisa ditiru oleh seluruh masyarakat Indonesia yang mayoritas masih hidup di pedesaan dan daerah. Sementara anak ini kebanyakan anak perkotaan yang tumbuh dengan teknologi dan pengetahuan yang lebih dari yang lainnya,” Fahri menandaskan.

Artikel Asli