Emisi Bahan Bakar Fosil Memicu Pengasaman Laut Sejak 1880

Kompas.com Dipublikasikan 11.32, 15/12/2019 • Ellyvon Pranita
Shutterstock
Ilustrasi perubahan iklim, kebakaran hutan

KOMPAS.com - Studi terbaru menunjukkan, emisi dari perusahaan produsen bahan bakar fosil bertanggungjawab atas lebih dari setengah pengasaman laut sejak 1880 (zaman pra-industri).

Studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Enviromental Research Letters.

Studi ini berfokus pada 88 perusahaan produsen gas, minyak, batu bara terbesar, dan semen.

Riset ini dilakukan untuk menghitung kadar pengasaman laut yang terjadi sebagai akibat dari karbon yang dilepaskan selama proses ekstraksi, produksi, dan penggunaan oleh perusahaan produsen bahan bakar fosil.

Baca juga: Biofuel, Bahan Bakar Ramah Lingkungan Mulai Dipakai Kawasan ASEAN

Periode waktu riset

Studi ini meneliti emisi yang dihasilkan perusahaan selama dua periode waktu, yakni 1880 hingga 2015 dan 1965 hingga 2015.

Penelitian terbaru telah mendokumentasikan bahwa industri minyak dan gas bumi sebenarnya telah sadar akan risiko iklim dari aktivitas mereka sejak pertengahan 1960-an.

Namun, begitu sadar risiko-risiko ini diketahui secara luas, perusahaan-perusahaan tersebut diduga telah mensponsori kampanye disinformasi bernilai jutaan dolar.

Hal itu dimaksudkan untuk meyakinkan publik bahwa kajian sains soal iklim (climate science) tersebut tidak pasti, yang memungkinkan dapat menuntut suatu aksi nyata bagi perusahaan untuk mencegah perubahan iklim.

"Kami telah mengetahui selama beberapa dekade bahwa membakar bahan bakar fosil sejauh ini merupakan pendorong pengasaman laut terbesar, tetapi saat itu kami tidak dapat melacak berapa banyak satu perusahaan bahan bakar fosil yang berkontribusi pada masalah ini, dan dengan cara apa," kata Rachel.

Licker, penulis studi utama dan ilmuwan iklim senior di Union of Concerned Scientists (UCS), juga mengatakan bahwa para ilmuwan sekarang dapat mengukur seberapa jauh asam laut yang dihasilkan dari setiap produk perusahaan bahan bakar fosil.

Licker dan rekan penulisnya menggunakan dataset yang dikembangkan oleh Climate Accountability Institute dan mengadaptasi metodologi mereka dari studi tahun 2017.

Itu adalah studi yang diklaim sebagai riset pertama yang mengaitkan dampak iklim global berupa kenaikan suhu global dan kenaikan permukaan laut yaitu untuk emisi terkait produk dari produsen bahan bakar fosil tertentu untuk jangka waktu yang sedikit berbeda.

Karena pengasaman laut dan dampaknya tidak seragam di seluruh dunia, tim menggunakan model 3-D.

Cara ini untuk memetakan perbedaan dan mengidentifikasi lima wilayah, di mana pengasaman laut dan perubahan terkait dalam komposisi kimia laut yang mempengaruhi masyarakat terdekat yang mata pencahariannya bergantung pada laut yang berkembang di kehidupan.

Beberapa temuan penting studi ini adalah:

  • Emisi yang ditelusuri ke 88 produsen karbon utama dari tahun 1880 hingga 2015 telah berkontribusi lebih dari setengah (mencapai 55 persen) dari peningkatan yang diamati dalam pengasaman laut selama periode waktu ini.
  • Emisi yang ditelusuri ke 88 produsen karbon utama dari tahun 1965-2015 telah berkontribusi lebih dari setengah (mencapai 51 persen) dari pengasaman laut yang telah diamati antara tahun 1880-2015.
  • Lebih dari seperlima (mencapai 23 persen) dari peningkatan keasaman laut dari tahun 1880 dapat ditelusuri ke emisi dari 20 perusahaan milik investor terbesar dan mayoritas milik negara sejak 1965, termasuk BP, Chevron, ExxonMobil dan Royal Dutch Shell.
  • Wilayah yang menghadapi risiko kerusakan yang sangat tinggi akibat pengasaman laut meliputi Segitiga Karang (The Coral Triangle), Laut Bering dan Teluk Alaska, Arus Peru, Samudra Arktik, dan Arus California.
  • Peningkatan pengasaman laut di California saat ini semakin menekan sektor perikanan yang menyediakan lebih dari 43.000 pekerjaan di sepanjang Pantai Barat AS, yang selama ini juga telah terdampak pemanasan air laut.
  • Demikian pula, pengasaman laut di Teluk Alaska semakin menekan sektor perikanan yang menyediakan lebih dari 53.000 pekerjaan di wilayah yang telah terdampak pemanasan air laut.
  • Segitiga Karang (The Coral Triangle) adalah rumah bagi lebih dari tiga perempat karang pembentuk terumbu dunia. Peningkatan pengasaman lebih lanjut akan menekan sektor perikanan yang menyediakan hampir 4,3 juta pekerjaan di wilayah tersebut, yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste.
  • Di Peru Current, peningkatan pengasaman semakin menekan sektor perikanan di Chili yang menyediakan 90.000 pekerjaan.

Baca juga: Fosil Udang Koma Berusia 90 Juta Tahun Ditemukan di Amerika Selatan

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli