Ekonomi Indonesia Minus 5,32 Persen, BPS Sebut Dampak Corona Luar Biasa Buruk

Liputan6.com Diupdate 04.37, 05/08 • Dipublikasikan 04.37, 05/08 • Liputan6.com
Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 sebesar -5,32 persen. Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi semester I tahun ini tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,26 dibandingkan semester I tahun lalu.

"Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 secara yoy mengalami kontraksi 5,32 persen. Kalau dibandingkan secara Q to Q dengan triwulan I maka pertumbuhan ekonomi sebesar -4,19 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Jakarta, Rabu (5/8).

Suhariyanto mengatakan, pandemi Virus Corona membawa dampak yang luar biasa bagi perekonomian. Beberapa negara di dunia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.

"Catatan peristiwa mengenai apa yang terjadi di triwulan II-2020, Covid-19 membawa dampak yang luar biasa buruk dan membawa efek domino masalah kesehatan ke masalah ekonomi dan sosial," paparnya.

Negara negara di dunia, kata Suhariyanto, berupaya menyelamatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengutamakan kesehatan rakyatnya. Hal tersebut juga dilakukan oleh Indonesia.

"Virus Corona juga enghantam UMKM hingga koorporasi. Banyak kebijkan yang dilakukan oleh berbagai negara semuanya mengutamakan kesehatan," tandasnya.

 

Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen di Kuartal II-2020, Indonesia di Ambang Resesi

(Foto:@Pelindo III)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020. Di atas prediksi, ekonomi Indonesia mengalami minus 5,32 persen.

Sebelumnya, pemerintah memproyeksi ekonomi Indonesia akan terkontraksi di angka -4,3 persen. Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, ekonomi Indonesia juga terkontraksi secara year quartal to quartal (q to q) yang sebelumnya 2,97 persen (kuartal I 2020).

"Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I 2020 dibandingkan semester I 2019 terkontraksi 1,29 persen," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Dirinya menjelaskan, pandemi Corona yang melanda Indonesia sejak awal tahun menjadi penyebab utama penurunan ini.

Pandemi Covid-19 telah menciptakan efek domino dari masalah sosial dan ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga, UMKM hingga korporasi.

Harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional pada kuartal II 2020 secara umum mengalami penurunan baik q to q maupun yoy, sementara harga komoditas makanan seperti gandum, minyak kelapa sawit dan kedelai mengalami penurunan q to q, tetapi meningkat secara yoy.

"Di satu sisi negara mengutamakan kesehatan dengan menerapkan lockdown, PSBB dan lainnya, di sisi lain pemerintah juga berupaya agar tingkat ekonomi berjalan. Dan untuk menyeimbangkannya bukan persoalan gampang. Dan bisa dilihat, banyak negara yang mengalami kontraksi," kata Suhariyanto.

Pengusaha Prediksi Indonesia Masuk Jurang Resesi

Pandangan udara permukiman warga dan gedung pencakar langit di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sejumlah pengusaha memperkirakan Indonesia akan masuk ke jurang resesi di kuartal III 2020. 

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 siang ini Rabu (5/8/2020). Banyak yang memprediksi ekonomi nasional akan minus, salah satunya pengusaha yang memprediksi -3 persen hingga -5 persen.

“Kita lihat bahwa krisis ekonomi ini sesuatu yang tidak bisa kita hindari, tidak jauh apa yang diprediksi oleh Pemerintah antara -3 persen sampai -5 persen. Memang teman-teman pengusaha ada yang memprediksi akan di atas itu,” kata Ketua Umum DPD HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) Provinsi DKI Jakarta Sarman Simanjorang, kepada Liputan6.com, Rabu (5/8/2020).

Hal itu disebabkan daya beli masyarakat sangat turun akibat dari PHK, dan yang dirumahkan, serta  banyaknya UKM yang terpaksa harus menutup usahanya. Meskipun diberlakukan PSBB, kata Sarman geliat ekonomi masih belum sesuai dengan yang diharapkan, ditambah dampak krisis ekonomi dunia.

Sarman mengatakan, sebuah negara disebut resesi apabila dalam dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Meskipun Indonesia pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020 masih positif 2,97 persen, namun kuartal II dipastikan minus, begitupun kuartal III.

“Ini warning kalau resesi sudah didepan mata, di kuartal ketiga ini sudah agak terbuka kemungkinan sesuatu yang tidak bisa hindari yaitu resesi, hanya bagaimana kita berharap kepada pemerintah untuk menjaga atau mengendalikan supaya kita tidak terlalu dalam seperti Singapura -41 persen dan Amerika Serikat -35 persen,” ujarnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Asli