Eijkman: Vaksin Indonesia Terlambat 4 Bulan dari Negara Lain, Tapi Bisa Dikejar

kumparan Dipublikasikan 08.35, 15/08 • kumparanNEWS
Botol kecil yang nantinya bakal digunakan untuk wadah vaksin corona. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Indonesia telah memulai uji klinis fase ketiga vaksin corona Sinovac. Direktur Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Amin Soebandrio, mengakui Indonesia memang terlambat 4 bulan dari negara lainnya.

Saat pandemi mulai merebak pada Januari lalu, sejumlah negara sudah memulai penelitian untuk memproduksi vaksin. Namun, Amin menyebut keterlambatan itu tidak jadi alasan untuk tidak bisa mengejar ketertinggalan.

"Kita start-nya 4 bulan terlambat dari negara lain. Negara lain adanya isu pertama virus COVID-19 ini mereka langsung bergerak. Kita baru diberi perintah Maret, dan kemudian April praktis baru kita mulai. Ya memang terlambat 4 bulan, jadi mudah-mudahan kita bisa mengejar itu," kata Amin dalam diskusi Sindo Trijaya FM dengan tema 'Menanti Vaksin COVID-19', Sabtu (15/8).

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio seusai RDPU dengan Komisi VII DPR, Senin (17/2). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Amin mengatakan, Indonesia memiliki kapasitas yang mumpuni untuk mengembangkan vaksin yang dibutuhkan. Dalam hal ini, Eijkman ditunjuk pemerintah untuk memimpin konsorsium yang akan mengakomodir sejumlah peneliti vaksin.

"Terkait dengan COVID-19 ini, melalui Kementerian Ristek/BRIN sebenarnya sudah diundang para peneliti yang memang memiliki aktivitas pengembangan vaksin untuk melakukan proposalnya. Nah saat ini sedang diakomodir, nah kebetulan Lembaga Eijkman sejak bulan Maret diminta Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset/BRIN untuk memimpin konsorsium pengembangan vaksin," ungkapnya.

Amin menyebut koordinasi dengan produsen swasta juga telah dilakukan agar bila vaksin yang tengah dikembangkan berhasil, dapat segera diproduksi massal untuk kebutuhan masyarakat luas.

Peneliti perempuan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang meneliti DNA COVID-19. Foto: L'Oreal Indonesia dan Eijkman

"Kami juga sudah kontak dengan beberapa institusi khususnya sejak bulan Januari awal ketika waktu itu belum dimulai pandemi. Tapi dimulai kasus-kasus ini yang sudah mencurigakan kami sudah berbicara pimpinan Bio Farma untuk ayo kita bikin vaksin untuk COVID-19," beber Amin.

Meski masa edar vaksin buatan Eijkman agak sedikit lama bila dibandingkan dengan vaksin Sinovac, Amin percaya nantinya vaksin tersebut dapat menjadi jawaban bagi masyarakat sebagai alternatif pengobatan guna menangkal COVID-19.

"Kita harus memastikan produksi apapun yang diberikan masyarakat harus sudah terbukti aman dan bermanfaat," pungkasnya.

Artikel Asli