Dunia Lain Pengacara: Dibayar Beras dan Mobil Keren Cuma Branding

kumparan Dipublikasikan 10.46, 14/12/2017 • Dwi Herlambang Ade Putra
Hotma Sitompul (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)

Enak ya jadi pengacara. Ke mana-mana pakai mobil mewah dan barang mahal.

Eits, tunggu dulu. Tanggalkan pikiran demikian. Nyatanya, tak semua pengacara masuk kalangan jetset semacam itu. Bahkan dari pengacara yang mungkin benar bergelimang harta, ada sisi lain yang tak kita ketahui selama ini.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Alghiffari Aqsa mengatakan, sesungguhnya ada sisi-sisi tersembunyi di balik layar dari profesi pengacara. Misalnya, beberapa pengacara memang sengaja berpenampilan mewah sebagai strategi branding.

Strategi branding tersebut dinilai efektif oleh Alghiffari. Sebab masyarakat dan calon klien sering terkecoh. Mereka menilai kualitas pengacara dari kemewahan dan kehidupan glamornya, bukan dari rekam jejak.

“Ada seorang lawyer muda bilang, ‘Kalau saya pakai taksi ketemu klien, fee saya pasti akan ditawar rendah. Tetapi kalau saya punya mobil cukup mewah untuk bertemu klien, fee saya bisa dihargai lebih tinggi.’ Jadi, lawyer yang berlimpah (kemewahan) itu menjadi strategi marketing diri,” kata Alghiffari seraya tertawa.

Padahal, kualitas seorang pengacara mestinya dinilai dari seberapa sering ia memenangi perkara atau memiliki argumen yang tak bisa dibantah di pengadilan.

Cerita lain mengalir dari Hotma Sitompoel, pengacara ternama tanah air yang juga kerap disebut “jetset” meski ia enggan bicara soal harta.

Berkecimpung 40 tahun sebagai sebagai advokat, Hotma mengawali karier sebagai pengacara publik di LBH Jakarta yang tak berorientasi profit. Itu pula yang membuat dia pada 2002 mendirikan LBH Mawar Saron yang memberikan layanan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu.

“Kami berduka kalau tahu klien benar, (tapi) dihukum. Itu bikin kami sedih. Saya sering menangis di depan klien seperti itu,” kata Hotma ketika berbincang dengan kumparan di LBH Mawar Saron, Selasa (5/12).

Ketika pengacara bicara korupsi. (Foto: Faisal Nu'man/kumparan) 

Berbagai macam kasus besar tercatat pernah ditangani Hotma Sitompoel, mulai kasus pembunuhan bocah Angeline di Bali, kasus penggelapan pajak Gayus Tambunan, kasus korupsi Antasari Azhar dan Akbar Tandjung, sampai penyalahgunaan narkotika oleh artis Raffi Ahmad.

Membela klien “penjahat” bukan soal mudah. Tentangan pun datang dari keluarga. Semisal pada suatu pagi ketika Hotma sedang sarapan, ibu mertuanya menghampiri dan menegurnya. Sang mertua tak suka Hotma menangani kasus dugaan korupsi Andi Ghalib yang saat itu menjabat sebagai jaksa agung.

“Mertua bilang, ‘Saya diomongin sama teman-teman arisan saya: menantu kamu bela koruptor.’ Waduh saya kepukul juga, mertua ini yang ngomong. Mertua saya jetset juga, temannya orang-orang kaya. Semua ngenyek mertua saya,” kata Hotma.

Mendengar keluhan ibu mertuanya, Hotma mencoba memberi pengertian. Ia meminta sang ibu mertua tak memikirkan sindiran kanan kiri, bahkan menyarankan ibu mertuanya untuk memberi pemahaman kepada kawan-kawannya agar tak mengurusi urusan orang lain.

“Saya bilang, ‘Bu, besok kalau ketemu dia lagi, tanyakan begini, ‘Ini kan beritanya Andi Ghalib koruptor. Nama Andi Ghalib diganti (nama) suami ibu. Bagaimana, mau enggak dibela sama mantu Ibu?’ Dia lalu bilang, ‘Ya, kalau suami saya kena masalah begitu, mesti Hotma yang bela,’” ujar Hotma menceritakan percakapannya dengan sang ibu mertua.

Interior kantor Hotma Sitompul (Foto: Dwi Herlambang Ade Putra/kumparan) 

Menyandang profesi pengacara artinya pula sadar dengan risiko dan ancaman yang mungkin dihadapi. Termasuk ketika keluarga ikut diteror.

“Saya pikir semua pengacara enggak ada yang takut, karena itu ukuran seorang pengacara. Kalau takut ya repot,” kata Hotma.

Teror pernah menghampiri Hotma dalam beragam bentuk, mulai perusakan rumah sampai perusakan mobil. Tapi, Hotma dan keluarganya tak surut. Mereka melawan.

“Keluarga saya rada-rada sableng juga, (diteror) malah makin keras lagi. Pernah rumah kami dilempari, kaca pecah. Ditelepon (sama yang meneror), diancam, sekarang batu ya, nanti bom. (Keluarga saya jawab), kenapa pakai batu dulu, bom aja, Pak. Jadi kami enggak takutlah,” katanya.

Todung Mulya Lubis (Foto: Dwi Herlambang Ade Putra/kumparan) 

Mantan pengacara LBH Jakarta, Todung Mulya Lubis, juga memiliki cerita sendiri. Saat masih bekerja di LBH Jakarta, ia pernah dibayar beras oleh kliennya.

Klien itu tentu saja orang tak mampu, sehingga beras adalah sungguh wujud apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada Todung. Pengacara pendiri kantor firma Lubis Santosa & Maramis itu juga pernah dibayar dengan ikan mas hingga pisang satu tandan.

Selulus dari LBH Jakarta pun, Todung tak selalu dibayar dengan uang. Beberapa klien membayarnya dengan jas. Tapi kali ini, jas mahal.

Direktur LBH Jakarta, Alghiffari Aqsa (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan) 

Alghiffari Aqsa sebagai orang nomor satu di LBH Jakarta pun kerap menerima cibiran keluarga. Bagaimana tidak, menjadi pengacara publik di lembaga bantuan hukum nonprofit jelas tak menjamin hidup stabil.

Bayaran sebagai pengacara publik, kata Alghiffari, bahkan mungkin tak masuk akal. Tapi sejak lulus dari Fakultas Hukum UI pada 2008, Alghiffari telah membulatkan tekad untuk bekerja di LBH Jakarta. Ia pun sadar pendapatan tak bakal sesuai ekspektasi.

“Orang tua awalnya mendukung (menjadi pengacara), kemudian waswas karena gaji pengacara publik tentu berbeda dengan gaji pengacara di law firm,” ujar Alghiffari di kantornya, Rabu (6/12).

Pengacara LBH Jakarta pernah merasakan digaji pas di kisaran Upah Minimum Provinsi. “Sekarang sudah jauh lebih baik dari UMP,” kata Alghiffari.

Apapun, pilihan Alghiffari berbakti di LBH Jakarta mendatangkan pertanyaan yang kian kompleks dan menekan dari keluarga. Sindiran soal finansial kerap dilontarkan kepadanya.

Sindiran yang paling sering membuatnya di-bully keluarga ialah ketika salah seorang dari mereka menyebutnya pengacara kere, dan menanyakan kapan ia bisa kaya. Bila sudah begitu, tawa anggota keluarga yang lain meledak.

Namun Alghiffari kokoh bak karang. Ia menomorduakan kehidupan pribadi dan urusan finansialnya. Hidupnya ada pada cita-cita dan misi sosial yang ia bawa.

“Tidak ada masalah jika saya harus hidup sederhana,” kata dia.

Tak cuma Alghiffari yang merasakan ejekan bertubi. Rekan-rekannya di LBH Jakarta pun banyak yang senasib. Contohnya, diputus kekasih karena penghasilan tak juga membesar.

Pengacara-pengacara muda ini bahkan pernah dibayar dengan cincau. Klien mereka tentu saja: pedagang cincau.

Jadi, masih berpikir semua pengacara berlimpah harta?

Artikel Asli