Duh! Jutaan Orang Eropa Terancam Perangkap Utang

Bisnis.com Dipublikasikan 01.32, 10/08 • Reni Lestari
Seorang pejalan kaki melintas di pedestrian kawasan bisnis di Madrid, Spanyol. Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen./Bloomberg
Jaringan Utang Konsumen Eropa, yang mencoba memerangi utang berlebih, memperkirakan bahwa sebanyak 10 persen rumah tangga di Uni Eropa sudah memiliki masalah.

Bisnis.com, JAKARTA - Dukungan pemerintah Eropa terhadap pekerja selama pandemi virus Corona akan segera berakhir dan memicu pergolakan ekonomi serta mengancam jutaan rumah tangga ke dalam perangkap utang.

Organisasi yang membantu individu menyelesaikan masalah keuangan memperingatkan peningkatan tajam dalam jumlah keluarga yang dibebani tagihan yang tidak dapat dibayar. Bahkan di negara kaya seperti Jerman dan Austria, warga mulai khawatir.

"Di beberapa provinsi, kami telah melihat lebih banyak pertanyaan dari orang-orang yang meminta nasihat dibandingkan tahun lalu. Di musim gugur, kami memprediksi peningkatan konseling sebanyak 40 persen," kata Maria Kemmetmueller, Wakil Direktur Organisasi Lembaga Konseling Utang di Austria.

Hal itu adalah salah satu dari sekian banyak ancaman bagi pemulihan ekonomi dari virus Corona. Beberapa studi menunjukkan risiko ketidakstabilan keuangan yang lebih luas karena default meningkat.

Jaringan Utang Konsumen Eropa, yang mencoba memerangi utang berlebih, memperkirakan bahwa sebanyak 10 persen rumah tangga di Uni Eropa sudah memiliki masalah. Penasihat Kosta Skliris memperkirakan angkanya akan berlipat ganda.

Sebuah studi olehthink tank Bruegel di Brussel menemukan bahwa hampir sepertiga rumah tangga Eropa mengaku tidak dapat menutupi biaya tak terduga bahkan sebelum krisis ini. Negara-negara Eropa Selatan ditemukan memiliki keluarga yang lebih rapuh secara finansial.

The Resolution Foundation mengatakan bahwa 44 persen rumah tangga Inggris sebelum krisis tidak dapat menutupi tagihan jika kehilangan sumber pendapatan utama selama periode tiga bulan.

Hilangnya upah adalah penyebab utama masalah keuangan, sehingga program cuti selama ini menyelamatkan warga dari hal tersebut. Namun banyak pemerintah yang khawatir dengan beban utang mereka sendiri, berencana untuk mengurangi dukungan itu yang berpotensi menyebabkan pengangguran melonjak.

"Kebutuhan akan nasihat akan meningkat secara signifikan. Para debitur akan coba dulu atasi sendiri. Pada titik tertentu mereka akan menyadari bahwa mereka tidak dapat mengelola sendiri, saat itulah mereka muncul dalam konseling," kata Roman Schlag, juru bicara asosiasi konselor utang Jerman dan pakar utang di Caritas.

Masalah tersebut menggarisbawahi bagaimana krisis ekonomi mengancam memperburuk ketimpangan. OECD bulan lalu memperingatkan dampak yang sangat parah pada orang berpenghasilan rendah, wanita, migran dan anak muda.

Kelompok-kelompok tersebut cenderung tidak dapat bekerja dari rumah selama lockdown. Kebanyakan juga bekerja di sektor yang paling terpukul oleh virus Corona seperti ritel, pariwisata, dan perhotelan.

Orang yang berpenghasilan lebih tinggi juga bisa terkena dampaknya. Para wiraswastawan rentan karena cenderung mengandalkan sejumlah kecil klien dan mungkin tidak memiliki akses ke semua program dukungan pemerintah.

Pada skala yang lebih luas, Bank sentral Eropa mengutip keberlanjutan utang rumah tangga sebagai salah satu risiko dalam Tinjauan Stabilitas Keuangan terbaru pada Mei. Keringanan sementara dari pembayaran kembali pinjaman bisa mengurangi itu, tapi hanya dalam jangka pendek.

Artikel Asli