Duh! Angka Pereceraian di Pulau Morotai Naik, Didominasi Istri Gugat Suami

iNews.id Dipublikasikan 01.21, 10/08/2020 • Antara
Ilustrasi pereceraian. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi pereceraian. (Foto: Istimewa)

TERNATE, iNews.id – Jumlah angka perceraian di Kecamatan Morotai Utara (Morut), Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut) pada tahun 2020 mencapai 34 kasus. Angka ini lebih tinggi dari 2019 yang berjumlah 25 kasus.

Penyuluh Kantor Urusan Agama KUA Morut, Kabupaten Pulau Morotai, Mustakim mengatakan, dari Januari sampai Juli 2020 sudah terjadi delapan kasus perceraian. Sebanyak lima di antaranya terjadi di Desa Gorua

“Dari delapan kasus tersebut, lima di antaranya belum disidang keliling karena wabah Covid-19,” katanya di Ternate, Minggu (9/10/2020).

Dia berharap, masalah meningkatnya angka perceraian ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Daerah Pulau Morotai. Terutama kepada mereka yang sudah menjanda, menganggur dan memiliki anak yang masih menempuh pendidikan.

"Kami berharap ada perhatian dari pemda agar memberikan fasilitas yang dibutuhkan untuk menghidupkan anak-anak tersebut," ujarnya.

Sementara Pengadilan Agama Tobelo, Halmahera Utara (Halut) mencatat, dari periode Januari-Juni ada 71 perkara perceraian dan sudah masuk dalam rekapitulasi. Angka tersebut terbilang cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Untuk kasus perceraian di Kabupaten Halmahera Utara dan Pulau Morotai pada tahun ini menunjukkan grafik peningkatan apabila dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2018 hingga 2019 lalu, tercatat ada sekitar 113 kasus perceraian di Kabupaten Halut dan Pulau Morotai.

Sebagai informasi, Pengadilan Agama Tobelo membawahi dua kabupaten. Dari 71 kasus perceraian, didominasi istri yang menggugat suami.

Penyebabnya rata-rata perceraian di dua kabupaten adalah karena tidak adanya tanggung jawab dari pihak laki-laki dalam sisi ekonomi. Suami dinilai tidak memenuhi kebutuhan atau menafkahi keluarga.

Artikel Asli