Dua Investor Migas Hengkang, Kementerian ESDM Bungkam

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 05.34, 05/08 • Nidia Zuraya
Blok Masela. Perusahaan migas Royal Dutch Shell memilih mundur dari proyek eksplorasi migas terbesar di Blok Masela.
Blok Masela. Perusahaan migas Royal Dutch Shell memilih mundur dari proyek eksplorasi migas terbesar di Blok Masela.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Iklim investasi migas yang melorot tajam tak berusaha ditangani oleh Kementerian ESDM. Ketika dua investor raksasa migas menyatakan akan mundur dari dua proyek giant discovery, Kementerian ESDM memilih untuk bungkam.

Dalam paparan kinerja, Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ego Syahrial memilih untuk bungkam dan tidak meladeni pertanyaan terkait kelanjutan dua proyek besar, yaitu Blok Masela dan Indonesian Deepwater Development (IDD). Padahal, kelanjutan dua proyek tersebut saat ini berada di tangan Kementerian ESDM.

Kepala SKK Migas, Dwi Sutjipto saat ditemui Selasa (4/8) mengatakan untuk kelanjutan Blok Masela saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan. Di sisi lain, sayangnya partner Inpex dalam pengembangan Blok Masela, Royal Dutch Shell malah ingin menawarkan hak partisipasi mereka ke pihak lain. Untuk itu, Shell mengajukan akses open data ke Kementerian ESDM.

"Iya, ada (yang mengakses open data hak partispasi Shell di blok masela). Tapi untuk yang dari overseas ini belum. Ini belum dapat persetujuan dari ESDM," ujar Dwi di Hotel Borobudur, Selasa (4/8).

Namun, Dwi mengatakan untuk open data yang mengakses investor dalam negeri sudah bisa dilakukan karena pemerintah sudah memberikan izin akses buka data ini. Namun, kata Dwi dalam kasus Blok Masela ini yang akan masuk untuk menjadi mitra baru Inpex adalah investor luar negeri.

Maka, open data untuk overseas (investor luar negeri) baru bisa dilakukan kalau ESDM sudah memberikan izin. "Kan kalau popen data ini dari indonesia sudah oke, sudah ada persetujuannya. Dari overseas belum. Padahal kan calon pemebli kan dari luar negeri kan. yang buka data dari luar negeri ini belum dapat persetujuan dari ESDM," ujar Dwi.

Sedangkan untuk proyek IDD, sampai hari ini juga ESDM belum berani bicara soal kelanjutan proyek besar ini. Padahal, IDD sudah menyatakan kepada publik bahwa proyek IDD tidak mampu bersaing dalam portofolio global.

Manager Corporate Communication Chevron Pasific Indonesia, Sonitha Poernomo menjelaskan perusahaan tak dapat modal yang cukup dari Chevron Ltd untuk bisa mengembangkan proyek IDD ini. Ia bahkan mengatakan nilai pengembangan IDD ini mungkin lebih cocok untuk operator lain.

"IDD Tahap 2 tidak dapat bersaing untuk mendapatkan modal dalam portofolio global Chevron. Kami percaya proyek ini akan memiliki nilai untuk operator lain dan Kutei Basin dapat terus dikembangkan dengan selamat dan bertanggung jawab," ujar Sonitha kepada Republika.co.id, Ahad (26/7).

Artikel Asli