Doyan Mi Instan Tapi Takut Kebanyakan? Ini Sejumlah Tips Jitunya...

Suara.com Dipublikasikan 06.00, 17/09/2019 • Fabiola Febrinastri
Ilustrasi mi instan. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi mi instan. (Dok : Istimewa)

Suara.com - Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata mi instan? Beberapa pasti ada yang langsung menelan ludah dan membayangkan ingin menyantapnya.

Siapa yang tidak suka mi instan? Masyarakat Indonesia bisa dikatakan tidak bisa lepas dari mi instan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal kebiasaan makan makanan ini dibilang jelek loh!

Bahan kimia dan pengawet di dalamnya dapat membahayakan kesehatan tubuh, bila dikonsumsi terus-menerus.
Nah, untuk mengurangi bahaya mengkonsumsi mi instan, berikut beberapa tips jitu yang bisa kamu ikuti :
1. Beri Jangka Waktu
Buat kamu yang terlanjur menjadi penggemar setia mi instan, usahakan jangan mengonsumsinya setiap hari. Kalian bisa mulai dengan membatasi konsumsi minimal 3 hari sekali atau satu minggu sekali saja.

Atau kamu juga bisa loh mengikuti gaya hidup sehat artis, Tasya Kamila yang mengkonsumsi mi instan sebulan sekali, dengan cara mengatur tanggal berapa setiap bulannya bisa konsumsi mi instan sepuas. 
2. Jangan Menyimpan Stok di Rumah
Hasrat untuk mengkonsumsi mi instan bisa muncul kapan saja, sehingga ada baiknya kamu tidak menyimpan di dapur. Kamu akan semakin mudah tergoda makan mi, kalau ada persediaannya di rumah.

Hasrat untuk mengkonsumsi mi instan biasanya akan hilang sendiri, setelah beberapa saat atau kalau sudah makan makanan yang lain. Tapi jika masih tetap ingin makan mi, berjalan kakilah ke warung terdekat untuk mengulur waktu, sehingga keinginan tersebut hilang sendiri.
3. Proses Masak yang Benar
Saat memasak mi instan, kamu tentu merebusnya matang. Setelah matang, alangkah baiknya kalau kamu tidak menyantapnya beserta air rebusan tersebut.

Bila kamu menyantap air rebusan mie terus-menerus, hal tersebut bisa mengancam kesehatan kamu loh.
Solusinya gampang kok, kamu bisa tambahkan air kelapa dan garam 1/2 sendok teh dalam rebusan pertama untuk dibuang setelahnya. Air buah kelapa muda adalah pilihan yang baik untuk menetralkan racun kimia dari mi instan yang kamu konsumsi, sedangkan garam mengandung ion Na+, dapat mengikat berbagai macam lemak jahat dan logam berat.

Setelah kamu membuang air rebusan mi, kamu bisa memasak ulang air panas yang baru untuk kuah, dan tiriskan dulu mi yang telah matang, lalu bilas lagi dengan air matang bersih untuk mie instan goreng.
4. Buatlah Bumbu Sendiri dengan Rempah Alami
Salah satu hal yang membuat kamu begitu menggemari mi instan adalah karena cita rasa gurih pada bumbunya, padahal kandungan bumbu yang disediakan dalam mi instan memiliki kandungan bahan pengawet kimia yang bisa membahayakan kesehatan tubuh kamu.

Maka salah satu cara untuk mengurangi bahaya tersebut adalah dengan mengubah cita rasanya. Kamu bisa membuang bumbu mi instan, lalu menggantinya dengan membuat bumbu sendiri dari rempah-rempah yang dapat dengan mudah kamu temui di pasar.

Bawang putih, bawang merah, jahe, lada, daun bawang, garam, cabai, dan ketumbar bisa jadi pilihan kamu. Rempah-rempah di atas tadi diketahui sangat baik dalam melakukan netralisasi racun dalam tubuh manusia.
5. Tambahkan Makanan Sehat
Kamu bisa mencampurkan mi instan kesukaan kamu dengan telur dan beberapa jenis sayur agar tetap sehat. Kamu bisa menambahkan sayuran seperti sawi hijau, kol, tomat, mentimun, toge, wortel, bok choy, kangkung, atau brokoli.

Selain itu, daripada makan mi instan dengan bakso olahan pabrik, sebaiknya tambahkan daging ayam atau sapi asli. Dengan menambahkan makanan sehat di atas, berarti kamu sedang menambahkan kandungan gizi yang ada pada mie instanmu. Kamu pun akan semakin terbiasa makan makanan sehat dan mulai meninggalkan mi instan yang gizinya minim.
6. Hindari Konsumsi Mi Instan dengan Nasi
Dalam sebungkus mi instan  terkandung kurang lebih 300-400 kalori, atau setara dengan satu porsi nasi ukuran sedang dengan pelengkap lauk pauk. Jika kamu biasanya makan satu porsi mi instan dengan menambahkan nasi dengan alasan supaya kenyang, itu artinya asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh kurang lebih 600-700 kalori.

Bila terus dilakukan, maka dapat menimbulkan obesitas dan juga meningkatkan kadar gula dalam darah yang dapat memicu diabetes.

Artikel Asli