Diteriaki Lonte oleh Gurunya di Depan Umum, Siswi SMK di Batam Malu Hingga Trauma Tak Mau Sekolah

grid.ID Dipublikasikan 04.53, 20/01 • Novia
Siswi SMA yang Diteriaki Lonte Oleh Guru Agama Akhirnya Berhenti Sekolah, Malu Diejek Teman Sekolah. (KOMPAS.com- LAKSONO HARI W)

Laporan Wartawan Grid.ID, Novia Tri Astuti

Grid.ID - Seorang siswi SMK di kabupaten Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), memilih untuk berhenti sekolah.

Hal ini dikarenakan siswi tersebut malu dan trauma setelah seorang guru melontarkan kata-kata yang membuatnya di-bully teman-temanya.

Siswi berinisial Ar tersebut diketahui sempat diteriaki dengan julukan lain dari perempuan nakal oleh seorang gurunya.

Guru yang mengajar pada bidang studi agama tersebut bahkan meneriakinya di lokasi umum.

Dari situlah Ar akhirnya di-bully dan diejek teman-teman satu sekolahan.

Merasa malu, Ar akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah.

Melansir dari Tribun Pekanbaru pada Senin (20/1/2020) Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Erry Syahrial yang dihubungi via telepon membenarkan adanya kejadian tersebut.

Erry mengaku hal ini tengah menjadi perhatian serius untuk pihaknya.

"Tidak seharusnya seorang pengajar berlaku seperti itu, apalagi terhadap anak muridnya sendiri,” kata Erry,

Erry juga menyampaikan akan berkoordinasi dan melaporkan hal ini kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Muhammad Dali.

"Saya belum sempat bertemu dengan kepala Dinas Pendidikan, Insya Allah Senin (20/1/2020) saya beserta komisioner lainnya akan menyurati Disdik untuk memperjuangkan hak anak tersebut,” ujar Erry.

Hanya saja Erry mengaku belum meninjau permasalahan ini lebih dalam.

Erry mengaku belum mengetahui kenapa seorang guru meneriaki muridnya sebagai perempuan nakal di lokasi umum.

Namun menurutnya, apapun kesalahan murid seorang guru tidak seharusnya melontarkan kata-kata yang tidak terpuji kepada siswanya.

Terlebih hal itu disampaikan dengan meneriakinya di depan umum.

"Itu bukan cerminan seorang guru, seharusnya guru itu merupakan contoh, bukan malah berlaku kurang ajar kepada peserta didiknya. Gurukan tugasnya mendidik, kalau ada salah di muridnya, sudah seharusnya dididik,” terang Erry.

Melansir dari Kompas, kini Ar disebutkan tengah berada di kediaman kakeknya di Batam.

Keberadaan Ar di Batam disebutkan untuk melanjutkan pendidikannya.

Ar tak mau melanjutkan sekolah di tempat sebelumnya lantaran malu pasca diteriaki kalimat tidak terpuji oleh gurunya dan menyebabkan dirinya harus dibully teman-temannya.

"AR sangat trauma pasca kejadian tersebut," ungkap Erry.

Erry menyampaikan bahwa Ar sempat ke Tanjungpinang untuk melanjutkan sekolahnya.

Namun dikarenakan nilai tidak mencukupi, Ar berencana mengambil paket C di Batam.

“Tapi, paket C itu pilihan terakhir Ar, menurut saya ini harus ada solusinya, saya sudah berkomunikasi dengan guru yang bersangkutan, bahkan kepala sekolahnya juga saya tegur,” terang Erry.

Erry juga menyampaikan apa yang dialami Ar bertentangan dengan Perda perlindungan anak.

Ia juga berharap tidak ada lagi anak yang harus putus sekolah karena sebuah masalah yang dianggapnya masih bisa diselesaikan oleh pihak sekolah.

Erry justru menyampaikan apabila masalah ini harus menjadi pembelajaran juga untuk guru-guru yang lain.

“Setidaknya kasus ini dapat menjadi contoh untuk guru-guru lainnya agar tidak memperlakukan anak-anak didiknya di depan umum,” pungkas Erry.

(*)

Artikel Asli