Direktur PLN Juga Alami Lonjakan Tagihan Listrik

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 08.45, 06/06 • Gita Amanda
Perusahaan Listrik Negara/PLN (ilustrasi). PLN mengklaim tak mencurangi masyarakat terkait lonjakan tagihan listrik.
Perusahaan Listrik Negara/PLN (ilustrasi). PLN mengklaim tak mencurangi masyarakat terkait lonjakan tagihan listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melonjaknya tagihan listrik banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Namun yang mengalami lonjakan tagihan listrik tak hanya masyarakat saja, Direktur Human Capital Manajemen PLN Syofvie Felianti Roekman juga mengakui bahwa tagihan listriknya melonjak 100 persen.

"Tagihan listrik saya juga naik ini. Nggak cuman 60 persen aja malah sampai 100 persen. Biasanya saya isi voucer sekali untuk dua bulan. Sekarang setiap bulan saya harus isi voucer listrik juga," ujar Syovfie saat konferensi pers, Sabtu (6/6).

Syofvie menjelaskan kenaikan ini memang ia akui. Sebab, menurut Syofvie pemakaian listrik dirinya juga meningkat. Jika sebelum masa PSBB semua kegiatan berada di luar rumah, kali ini semua kegiatan dirinya dan anak anaknya berada di rumah. Hal ini kemudian meningkatkan konsumsi listrik.

"Biasanya di rumah malam aja. Tapi kan sekarang AC nyala. Anak dan semua kerja," ujar Syofvie.

Ia pun menilai, dari kejadian ini sebenarnya membuat dirinya dan juga harapannya masyarakat belajar bahwa perlu memakai energi secara bijak. "Ternyata ini dampaknya. Kita juga harus cerdas menggunakan energi ini," ujar Syofvie.

Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan melonjaknya biaya tagihan listrik yang harus dibayar bulan ini. PLN menegaskan mereka tak mencurangi atau mempermainkan meteran listrik untuk merugikan masyarakat.

Menurut PLN ada beberapa faktor yang menyebabkan lonjakan drastis tagihan listrik. Di antaranya carry over pembayaran dari bulan sebelumnya dan peningkatan penggunaan listrik selama aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).

Artikel Asli