Dipecat karena Sindir Perusahaan Pakai Meme Hitler, Pria Australia Menang Gugatan Rp2,1 Miliar

iNews.id Dipublikasikan 02.31, 11/08 • Arif Budiwinarto
Tangkapan layar adegan Adolf Hitler dalam film Downfall yang dijadikan meme oleh Scott Tracey (foto: ist)
Tangkapan layar adegan Adolf Hitler dalam film Downfall yang dijadikan meme oleh Scott Tracey (foto: ist)

CANBERRA, iNews.id - Seorang pekerja kilang minyak BP di Australia mendapat konpensasi pemecatan sebesar 200.000 dolar Australia (Rp2,1 miliar) setelah menang di pengadilan. Pekerja tersebut dipecat karena meledek kebijakan menggunakan meme Adolf Hitler.

Pada 2018, Scott Tracey dipecat perusahaan tempatnya bekerja setelah ketahuan menyindir "situasi negosisasi gaji" dengan postingan meme Adolf Hitler dalam film Downfall yang rilis pada 2004 silam.

Dalam postingan di Facebook-nya, Scott memakai meme adegan dramatis saat tokoh Hitler marah dan menghadapi para jenderalnya di bunker. Dia juga mengganti teks film dengan dialog alternatif sebagai lelucon.

Tak terima dipecat dengan alasan seperti itu, Scott kemudian menempuh jalur hukum. Dilansir dari BBC, Selasa (11/8/2020), setelah dua tahun upaya Scott membuahkan hasil. Pengadilan federal memenangkan kasus pemecatan yang dinilai tidak adil, dan Scott diperbolehkan kembali bekerja.

Hakim beralasan tidak ditemukan bukti jelas meme Hitler yang di-posting Scott mengarah pada tudingan pimpinan perusahaan BP sebagai anggota Nazi.

Selain itu, Scott juga berhak atas dana kompensasi sebesar 200.000 dolar Australia atau Rp2,1 miliar mencakup pendapatan yang hilang selama dua tahun terakhir.

Juru bicara BP mengatakan Scott harusnya hanya menerima konpensasi 150.000 dolar Australia (Rp1,57 miliar) karena telah menyebarkan meme tersebut ke rekan-rekan kerjanya. Menurut BP, itu merupakan sebuah pelanggaran etik dalam perusahaan.

Selain itu, BP mengatakan uang konpensasi Scott harusnya dipangkas lebih banyak. Sebab, perusahaan beralasan selama menjalani persidangan Scott bisa mendapatkan pekerjaan lain. Namun, Komisi Keadilan Pekerja mengatakan tidak ada bukti yang menyatakan Scott bekerja selama dua tahun terakhir.

Sekretaris Serikat Pekerja Australia, Brad Grandy, mengatakan Scott tidak seharusnya menjalani proses hukum terkait haknya sebagai pekerja begitu panjang dan membuang waktu.

"Untuk menggali seorang pekerja yang jujur melalui ketidakpastian selama dua tahun, karena lelucon adalah perilaku buruk perusahaan," ujar Grandy.

Artikel Asli