Dilaporkan Nasabah ke OJK Diduga Gagal Bayar, Begini Tanggapan IAI

iNews.id Dipublikasikan 15.04, 04/08/2020 • Suparjo Ramalan
Sejumlah mitra bisnis PT AIA Financial (AIA) melaporkan dugaan gagal bayar kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (4/8/2020). (Foto: Sindonews)
Sejumlah mitra bisnis PT AIA Financial (AIA) melaporkan dugaan gagal bayar kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (4/8/2020). (Foto: Sindonews)

JAKARTA, iNews.id - Sejumlah mitra bisnis PT AIA Financial (AIA) melaporkan dugaan gagal bayar kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada, Selasa (4/8/2020). Mereka mengaku haknya tidak dibayarkan AIA Financial senilai Rp67,8 miliar. 

Masing-masing pemohon yang haknya belum dibayarkan, yakni Kenny Leonara Raja sebesar Rp34,9 miliar (Rp31 miliar akan jatuh tempo), serta Jethro Rp32,9 miliar (Rp26 miliar akan jatuh tempo). 

Kuasa hukum pemohon, Patar Bronson Sitinjak mengatakan pihaknya dalam mengajukan permohonan tersebut sudah sesuai hukum. Hal ini mengacu pada Pasal 2 Ayat 1 dan 5 Undang-Undang (UU) Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004.

"Dalam mengajukan upaya hukum PKPU maupun Pailit mempunyai syarat, yaitu minimal dua orang kreditur yang mana salah satu utangnya telah jatuh tempo dan dapat ditagih serta dapat dibuktikan secara sederhana," ujarnya di Gedung OJK, Jakarta Pusat. 

Selain dua pemohon, Patar mengklaim masih terdapat beberapa kreditur lain yang juga terdapat karyawan serta nasabah AIA Financial yang haknya tidak ditunaikan. Nantinya, beberapa kreditur lainnya juga akan memberi kuasa kepada dirinya. 

Patar mengaku hingga kini pihaknya belum mengetahui secara pasti apakah AIA Financial mengalami kebangkrutan sehingga hak nasabah tidak dibayarkan. Ini membuat nasabah perusahaan asuransi itu mengasumsikan jika emiten mengalami gagal bayar. 

"Gagal bayar ini tidak mau membayar atau mereka sudah bangkrut kita juga tidak tahu, yang pastinya mereka gagal bayar sama kita-kita ini. Kita juga tidak mau ada anggapan buruk pada rekan-rekan kita ini, bukan semata untuk mematikan usaha AIA, kami hanya menuntut hak saja," katanya. 

Sementara itu, salah satu pemohon, Kenny Leonara Raja menuturkan bahwa AIA Financial telah melakukan pemutusan mitra bisnis dengan dirinya secara sepihak. Bahkan, dia menilai pemutusan hubungan bisnis yang dilakukan perusahaan dijadikan alasan untuk tidak membayarkan hak-hak dirinya. 

"Karena tidak ada itikad baik dari perusahaan sampai saat, kami meminta bantuan OJK sebagai lembaga yang berwenang untuk mengajukan pailit sesuai peraturan UU yang berlaku. Dan semua persyaratan sudah kami penuhi untuk permohonan pailit ini," ujarnya. 

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa dirinya telah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai agen terbaik AIA tujuh kali dan agen terbaik versi AAJI Award selama tiga tahun berturut-turut. Dengan prestasi tersebut, dia merasa janggal mengapa dirinya diberhentikan tanpa ada alasan yang jelas. 

Lebih lanjut, menurut Kenny, PT AIA Financial tidak mau membayar hak-haknya, maka perusahaan tersebut harus mengembalikan seluruh premi yang dibayarkan oleh nasabah-nasabahnya selama ini.

Untuk diketahui, laporan PKPU akan diproses oleh OJK. Namun begitu, belum ada keterangan resmi yang disampaikan pihak otoritas. 

Menanggapi masalah tersebut, Direktur Hukum, Kepatuhan dan Risiko AIA Financial Rista Qatrini Manurung mengatakan, AIA dalam menjalankan kegiatan bisnis selalu berpegang teguh pada prinsip operasional yang mana selalu mematuhi ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. 

"Penghentian perjanjian tenaga pemasar antara AIA dan Bapak Jethro dan Bapak Kenny Leonara Raja merupakan keputusan tidak mudah. Di mana, AIA sudah melakukan berbagai proses mediasi dalam upaya mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua pihak," ujarnya, dalam keterangan pers Selasa (4/8/2020). 

Sementara itu, terkait angka yang diduga gagal bayar yang diklaim Jethro dan Kenny, tidak sesuai dengan fakta yang ada. AIA telah menyelesaikan dan memenuhi kewajiban sepenuhnya kepada kedua nasabah tersebut sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian antara para pihak.

"Demikian juga dengan jumlah angka yang diklaim sepihak sebagai hak oleh mantan karyawan Ibu Surianta Tarigan yang juga tidak benar. AIA telah menyelesaikan dan memenuhi kewajiban sepenuhnya kepada Surianta Tarigan sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian kepegawaian dan sejalan dengan aturan hukum yang berlaku," katanya. 

Rista juga mengatakan, nasabah selalu menjadi prioritas pihaknya sejalan dengan komitmen perusahaan untuk membantu jutaan keluarga di Indonesia hidup lebih sehat, lebih lama, lebih baik. Bahkan, kata dia, saat ini AIA memproteksi lebih dari 1 juta jiwa di Indonesia. Pada 2019 pihaknya telah membayar klaim nasabah sebesar total Rp1,7 triliun. 

Artikel Asli